Wuzz!! Angin dingin di bulan Juli bertiup menerpa wajah dan tubuhku. Kurapatkan jaketku. Huh! Dingin sekali. Kulihat beberapa saja orang lalu-lalang menggunakan baju hangat. Angin terus berhembus, dedaunan melayang layang jatuh ke tanah. Dahan dahan pohon yang tak berdaun bergerak bersenandung nyanyian merdu ranting yang terhempas oleh angin. Pemandangan yang tak asing lagi bagi warga kota dingin, Malang.
Alun-alun kota Malang tampak sepi dari biasanya. Taman kota yang terletak di jantung kota ini memang dibangun bukan sebagai tempat rekreasi. Terlihat dari arsitekturnya, sama sekali tidak ada tempat bermain untuk anak anak. Hanya terdapat tempat duduk permanen yang melingkari pohon besar.
Aku duduk di salah satu sudut taman. Air mancur kolam yang terletak tepat di tengah tengah taman mengalir dan bergemericik sayup-sayup terdengar. Kecipak ikan berebut makanan dari lemparan roti seorang anak kecil. Aku sungguh sangat menikmati indahnya suasana sore itu.
“Hei.”
Sebuah suara mengagetkanku yang sudah tak asing lagi ditelingaku. Namanya Jaya, teman sekampusku di Pasca Sarjana Universitas Brawijaya Malang.
“Apa kabar?” tanyaku sambil sedikit bergeser memberikan tempat untuk dia duduk.
“Baik! Sedang apa di sini?” Jaya Balik bertanya.
Aku hanya menggelengkan kepala. Kulihat lelaki itu tersenyum lagi. Jay, begitu biasanya aku memanggil, adalah teman sekelasku di Program Magister Manajemen. Bersama pelajar beasiswa dari Indonesia Timur yang lain, kami sering belajar bersama, mengerjakan tugas kelompok dan tak luput pula jalan-jalan. Mungkin karena sama-sama orang rantau dengan latar belakang budaya yang tak begitu jauh berbeda. Bahasa kami hampir sama meskipun tak semuanya.
“Kebetulan tadi aku lewat sini dan melihat seorang gadis duduk melamun hanya memandang air mancur yang menurutku tak ada menariknya. Kupikir lebih baik kusapa saja gadis itu. Siapa tahu kehadiranku bisa membuatnya untuk tidak melamun lagi. Apa Tuan Putri butuh bantuan?”
Aku hanya tersenyum. Dia selalu bercanda. Kuakui dia pandai sekali menebak isi pikiranku kalau aku sedang ada masalah.
“Aku siap mendengar kalau kamu mau cerita. I’m a good listener. Paling tidak itu bisa meringankan sedikit bebanmu.”
“Kau ingat liburan semester lalu?” sahutku.
“Iya, kau pulang kampung ke Ambon. Memangnya ada apa?”
“Aku bertemu teman SMA-ku. Sekarang dia jadi pengusaha. Kebetulan tak sengaja kami bertemu ketika jalan-jalan. Sejak pertemuan itu kami sering pergi bersama. Tertawa, ngobrol kesana kemari seperti dulu saat kami masih SMA. Yang jelas hal yang indah indah ketika bersamanya.”
Jaya mendengarkanku dengan seksama. Mungkin baginya terdengar aneh karena tidak ada keganjilan dari ceritaku.
“Lantas, apa masalahmu?”
Aku terdiam. Belum sempat kujawab, Jaya sudah menyahut lagi.
“Oh… aku tahu. Dia bekas pacarmu?”
“Dia cinta pertamaku!” jawabku singkat.
“First love? So what’s wrong?”
Aku termenung sejenak. Dia bernama Sandy. Memang dia cinta pertamaku dan menurutku cinta inilah yang paling berkesan dalam hidupku. Dia masih seperti yang dulu, seperti saat masih berpacaran denganku. Masih tetap ganteng, gentleman, berpenampilan rapi dan yang pling kusuka dari dia adalah orangnya sangat romantis. Sejatinya kami tidak putus, hanya setelah lulus SMA tak ada lagi komunikasi di antara kita. Aku melanjutkan kuliah di Makassar sementara dia yang kutahu melanjutkan kuliah di Jakarta.
“Kok melamun?” Jaya membuyarkan lamunanku.
“Kemarin aku menerima SMS darinya kalau dia sudah beristri,” kataku pelan.
“Lantas?”
“Dia bilang masih cinta padaku. Apalagi setelah pertemuan yang tak sengaja di pantai itu. Aku sama sekali tak mengerti jalan pikirannya karena dia mengatakan akan bercerai dengan alasan sudah tidak ada kecocokan lagi,” jelasku.
“Maaf… sebentar… tadi kamu bilang bercerai? Apa mereka mau bercerai karenamu?” tanya Jaya dengan pandangan nanar.
“Bukan! Dari dulu memang ada permasalahan dengan perkawinan mereka. Sudah 7 tahun menikah tapi belum dikarunia anak. Itu karena istrinya tak mau diajak tinggal di Ambon. Istrinya seorang wanita karir di Jakarta dan sementara itu dia juga tak bisa mengikuti istrinya. Hanya sebulan sekali saja mereka bertemu.”
“Apa kamu masih mencintai dia?”
“Entahlah…”
Aku terdiam. Mungkin iya, aku masih mencintainya atau mungkin juga tidak seperti cinta yang kubayangkan. Tapi hatiku masih mengatakan kalau aku mencintainya. Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Udara dingin yang berhembus seakan akan membekukan otakku.
“Mungkin aku bisa memberikan sedikit masukan,” kata Jaya kemudian.
“Iya, aku siap mendengarkan.”
“Jika mereka sudah bercerai dan kalian masih saling mencintai tak ada salahnya kau jalin kembali benang-benang asmaramu dengannya. Bahkan mungkin bisa ke jenjang pernikahan. Tapi kalau mereka masih bersama atau ternyata mereka berpisah karenamu, kupikir itu tak baik untukmu. Kurasa tak enak menjadi orang ketiga meskipun engkau sangat mencintai dia.”
Aku termenung beberapa jenak, mencerna kata katanya.
“Berapa umurmu sekarang?” tanya Jaya
“Tiga puluh,” sahutku lirih.
“Kupikir kau belum terlalu tua untuk tergesa-gesa dan sudah cukup matang untuk bisa berpikir rasional. Maaf, apa umur menikah di keluargamu dijadikan patokan?”
“Umur tak jadi soal, yang penting mentalnya siap apa tidak. Aku juga bukan orang yang terlalu pusing dengan masalah umur, tetapi ibuku sidah berapa ratus kali menanyakan soal pernikahan,” jelasku.
“Begini saja, kau diamkan dulu masalah ini. Dengarkan kata hatimu yang sesungguhnya sambil kau selidiki dulu temanmu itu. Kemudian pertimbangkan dengan matang, baru kau ambil keputusan. Oke?” seloroh Jaya.
Aku mendengarkannya dengan seksama. Benar memang, aku tak perlu memikirkannya terlalu dalam. Justru kalau kupikirkan terus menerus, rasa cintaku akan semakin tumbuh subur.
“Bagaimana? Lebih baik segera tinggalkan tempat ini sebelum kau kedinginan. Mau temani aku belanja ke supermarket? Kebetulan aku butuh sesuatu,” ajak Jaya.
Benar kata Jaya, aku harus memikirkannya baik baik. Kami beranjak dari alun alun taman kota. Angin dingin terus berhembus. Daun daun berserakan mengiringi langkah kami. Kulihat matahari sudah mulai masuk ke peraduannya. Tak ada lagi kehangatan. Tinggallah desauan angin yang berkawan akrab dengan sunyi.
*****
Sudah setahun lebih aku tinggal di kota Malang untuk melanjutkan studiku dengan beasiswa dari kampus Universitas Hassanudin tempat aku bekerja. Aku bersyukur dengan karunia yang sudah aku terima. Lulus S-1 kemudian diterima mengajar di kampus tempatku kuliah. Bahkan sekarang bisa meneruskan S-2 atas biaya kampus. Kesempatan baik ini tak kusia-siakan sekaligus membuka mataku untuk melihat kota-kota lain di Indonesia yang aku sendiri belum pernah mengunjunginya.
Pada dasarnya prinsipku adalah seperti air yang mengalir. Mengikuti kemana arus membawaku. Kesibukanku membuatku lupa akan kondisiku. Tanpa terasa umurku sudah masuk kepala tiga. Kata orang, masa-masa rawan. Aku tak peduli. Melalui hari demi hari, melaksanakan kewajiban, berbuat baik kepada orang tua dan sesama. Tapi aku masih punya Ibu yang sangat peduli.
“Apalagi yang kamu cari Fiya? Kau sudah punya pekerjaan bagus. Sudahlah… kau terima saja lamaran Deni. Kenapa mesti sekolah lagi?” kata Ibu setahun yang lalu ketika kuberitahu kalau aku lulus tes untuk mengambil Magister Manajemen di Universitas Brawijaya Malang.
“Ini kesempatanku, Bu. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Ini cita cita dan masa depanku. Apa Ibu tidak bangga padaku?”
“Tentu saja bangga. Tapi Ibu akan lebih senang jika kau terima dulu lamaran Deni, kemudian menikah sebelum berangkat. Dia juga setuju kau sekolah lagi.”
“Tapi aku tidak mengenal dan mencintai Deni, Ibu,” sahutku kesal. “Apa Ibu malu punya anak perempuan semata wayang jadi perawan tua?”
“Tidak… Ibu tidak malu. Tapi kewajiban Ibu menikahkanmu sebelum Ibu meninggal!”
Aku terdiam. Ibu tampak marah. Itulah perdebatan kami sebelum keberangkatanku. Akhirnya Ibu merestuiku juga setelah melihat kebulatan tekadku. Tapi aku berjanji tidak akan mengecewakannya.
Hari berganti hari, kukenal banyak lelaki. Tapi tak satu pun dari mereka yang menarik perhatianku. Sampai suatu saat aku mudik dan bertemu Sandy. Mungkin karena keterkaitan masa lalu atau mungkin kesepianku, aku merasa dia berbeda. Masih terbayang betapa bahagianya saat saat bersamanya. Suasana hati yang lama kurindukan tiba tiba menyergapku selama dua minggu.
Kini, kuhadapi kenyataan lain. Dia sudah beristri. Dia milik orang lain apapun yang ia katakan, aku harus memutuskan benarkah dia lelaki yang kuinginkan untuk mendampingiku selamanya?
Jam tanganku menujukkan pukul satu siang. Sudah setengah jam aku menunggu di ruang tunggu Bandara Juanda. Sandy akan datang hari ini. Aku jemput dia dengan perasaan galau. Sebagian hatiku gembira akan bertemu dengannya, sebagian lain ada keraguan.
Ketika pesawat yang dinaiki Sandy sudah mendarat, aku bergegas menuju pintu keluar penumpang. Satu persatu kuamati sampai akhirnya kutemukan Sandy dengan senyum mengembang.
“Hello Honey… Apa kabar?” tanyanya sambil menjabat erat erat tanganku.
“Baik. Bagaimana perjalananmu?”
“Tidak menyenangkan. Itu karena aku sangat ingin sekali segera bertemu denganmu. Pesawat rasanya berjalan lambat. Aku rindu sekali padamu, Fiya.”
“Kenapa kau tiba tiba memutuskan berkunjung ke sini?”
“Sungguh, aku rindu senyummu, tawamu, semuanya. Lagi pula aku ingin jalan jalan ke kota Batu dan merasakan dinginnya bersamamu,” jawabnya santai kemudian berbisik mesra di telingaku. “Siapa tahu bisa menyejukkan hati kita berdua dan mendekatkannya kembali.”
Aku tersenyum dan menghindar dari rangkulannya. Entah kenapa tiba tiba saja aku risih dengan sikapnya.
“Eh… ngomong ngomong, bagaimana kabar istrimu?” tanyaku sambil menunggu taksi.
“Astrid? Oh… kenapa kau menanyakan dia?”
“Tak apa apa. Hanya ingin tahu saja.”
“Aku akan menceraikannya. Dua bulan lagi aku akan ke Jakarta untuk mengurus perceraian. Tapi itu bisa diatur. Aku punya teman seorang pengacara yang bisa aku andalkan. Astrid memang keras kepala. Kami tak bisa bersama lagi. Lalu untuk apa dipertahankan? Tapi dia bersikeras, bahkan menyusulku,” jelas Sandy panjang lebar.
“Dia menyusulmu?”
“Iya, kemarin dia datang ke Ambon dan memberiku uang 1 Milyar supaya aku membuka usahaku di Jakarta saja. Tadi pagi dia pulang ke Jakarta dan aku berangkat ke sini.”
“Kau terima uang itu?” tanyaku heran
“Kenapa tidak? Kita bisa bersenang senang dengan uang itu.”
“Terus kepindahanmu?”
“Siapa bilang aku pindah? Aku ke sana hanya untuk menceraikan dia.”
Aku terhenyak bagai tersengat listrik. Kepalaku tiba tiba terasa seperti ditimpuk batu besar. Tak salahkah yang aku dengar? Benarkah lelaku yang kukenal baik dan halus bahasanya itu mengatakan sesuatu yang menyakitkan? Lelaki yang selalu romantis itu bisa memperlakukan istrinya seburuk itu? Setidaknya Sandy harus menghargai perasaan Astrid, bukan malah memanfaatkannya.
Kupandangi lelaki yang duduk disebelahku dengan tak percaya. Tak ada lagi senyumnya yang menawan. Tak ada lagi wajah tampannya yang kurindukan. Tak ada lagi kelembutan. Yang tersisa hanyalah wajah yang mengerikan penuh kelicikan.
Tiba tiba aku sadar. Bukan dia yang kuinginkan untuk mengisi hidupku. Mungkin dia cinta pertamaku tapi bukan cinta pertama yang aku butuhkan.
Tak kuhiraukan protes Sandy ketika aku memintanya untuk kembali ke Ambon sekarang juga. Tak perlu ada jalan jalan, hadiah hadiah, dan harapan karena aku tak menginginkannya lagi. Masa lalu lebih baik kusimpan untuk pelajaran di masa yang akan datang.
Segera kutinggalkan bandara Juanda. Alang alang di kiri-kanan jalan melambai ditiup angin, kupandangi dengan tiada puasnya. Tak ada lagi yang perlu kutakutkan untuk masa depan. Akan selalu datang hari lain yang lebih indah.
Malang, 22.30 WIB 280808
Selasa, 17 November 2009
prahara cinta
Hai namaku Sandy. Aku adalah seseorang yang tak peduli dengan perasaan, jatuh cinta atau peduli tentang orang lain. Aku acuh dan ketus. Semua orang hampir sama opininya tentang aku, yaitu aku adalah orang yang sombong. Aku akui diriku memang tak begitu suka dengan puji-pujian maupun sanjungan, aku lebih suka kritikan dan opini tentang aku. Mungkin aku adalah orang yang aneh, tapi jujur aku memang orang yang tak begitu tahu tentang logika orang-orang sekitarku. Mereka seperti tak menganggap diriku ada di sekitar mereka.
Saat itu aku masih berumur 9 tahun, aku terkena penyakit asma. Setiap aku menghirup udara kotor, dadaku terasa sesak dan aliran nafasku seperti tersengal-sengal. Bagi anak seumuranku penyakit asma adalah hal yang tidak wajar. Karena itu dapat mengganggu sistem fisik yang sedang tumbuh dan berkembang. Saat itu aku sedang mengikuti kegiatan ekstra di sekolah, tiba-tiba segerombol anak datang menghampiriku, mereka mengambil alat pernafasanku sambil melempar-lemparkannya ke teman yang satu ke yang lain. Aku berusaha meminta namun gagal, bahkan aku sampai berlari-lari mengejarnya, namun tetap saja gagal bahkan nafasku sulit ku atur sehingga aku terjatuh dan pingsan. Mulai saat itu aku jadi benci dengan orang dan tak mau berkomunikasi dengan orang lain sampai 3 tahun, aku diterapi. Terapi itu sempat memancing suaraku yang selama itu hilang muncul kembali. Namun beberapa bulan kemudian aku kembali mengalami trauma itu sampai pada umurku 14 tahun. Pada waktu umurku 14 tahun, aku diikutkan terapi lagi bagi anak yang sulit bicara. Dari kecil aku seperti tidak mengenal sekolah, karena aku tumbuh tidak normal layaknya anak anak seumuranku. Namun saat aku berumur 12 tahun aku sempat bersekolah di SLB Malang, sampai umurku 14 tahun itu. Aku mulai belajar bicara pada usia 15 tahun dan umur 16 tahun aku baru bisa bicara layaknya anak anak seumuranku. Aku begitu senang namun begitu aku tak banyak berubah seperti sebelum ikut terapi kedua saat itu.
Waktu berganti tahun aku berumur 17 tahun, aku bertemu dengan seorang teman bernama Dean Arga. Dia adalah satu satunya teman yang aku punyai saat itu setelah aku pindah dari SLB dan bersekolah di SMA Negeri 2 Malang. Awal aku bersekolah di sana aku merasa minder namun begitu aku mengenal Dean, aku jadi merasa minderku agak berkurang. Untuk itu aku sering menghabiskan waktu dengannya. Selain itu Dean adalah anak yang pandai nomer 2 di kelasku. Dia sering memberiku motivasi agar aku tidak minder. Dua tahun aku berteman dengan Dean dan kini aku sudah kelas 3, dan dua tahun pula aku bersama dengan yang lainnya. Hingga aku benar benar jatuh cinta dengan Dean. Saat itu Dean memang tidak mengetahui bahwa aku suka dengannya, karena aku tidak mau dia tahu dan pergi meninggalkan aku. Aku hanya memendamnya.
Selang beberapa bulan, Dean mengetahui perubahan sikapku. Aku jadi semakin menjauh. Dia tak terima dengan sikapku, kemudian marah dan pergi meninggalkanku. Saat itu aku hancur dan mencoba meminta maaf namun gagal. Dia tidak mau memaafkanku. Sampai beberapa hari kemudian musibah datang menimpaku. Sebuah mobil sedan hitam menghantamku saat aku berusaha mengejar Dean untuk mencoba meminta maaf. Dia mungkin terkejut karena sebelum aku pingsan aku sempat merasa kalau Dean memikul aku masuk ke dalam mobil sedan yang menabrakku dan mengantarku ke rumah sakit.
Aku tak tahu sudah berapa hari aku dirawat di rumah sakit. Saat itu aku merasa di dimensi lain, aku melihat hamparan tanah yang hijau dan beberapa anak memanggilku untuk bermain. Saat aku melangkahkan kaki, tiba tiba Dean dari belakang menarik lenganku dan mengajakku menjauh dari anak-anak itu. Wajah anak-anak itu menunjukkan kekecewaannya. Namun begitu secercah cahaya menghampiriku dan Dean. Aku tersadar dari komaku.
Aku sempat merasa detak jantungku berhenti, namun setelah itu aku sadar dari komaku. Aku melihat ayah dan bundaku yang masih menungguku di pinggir tempat tidur. Kucoba menoleh ke samping kanan, ada Dean yang memegang tanganku sambil lelap tidur. Entah apa yang aku rasa saat aku melihat dia menemaniku saat itu. Gerakan lemah tanganku membuatnya terbangun dari tidur. Ayah dan bundaku juga ikut terbangun. Mereka semua nampak bahagia melihatku sadar dan siuman. Sewaktu aku menanyakan sejak kapan aku dirawat di rumah sakit, kedua orang tuaku bilang sejak 13 hari yang lalu. Ternyata aku sudah lama tinggal di rumah sakit. Saat aku ingin bangun kaki kiriku terasa lemah dan tak bisa digerakkan, aku mencoba membuka selimut penutupnya dan ternyata kakiku penuh dengan perban. Aku menangis sejadi jadinya. Sedangkan ayah bundaku tidak bisa berbuat apa apa hanya kata sabar yang terucap dari bibir mereka. Aku hancur, putus asa dan hilang semua harapanku. Aku telah cacat.
Beberapa hari kemudian aku sudah diijinkan pulang oleh dokter. Ayah dan bundaku mengiringiku saat Dean medorong kursi rodaku dan membantuku masuk rumah. Saat itu semuanya berubah, akhirnya Dean mengutarakan isi hatinya padaku saat harapan dan impianku sudah musnah. Namun hatiku sudah hancur, aku mengusirnya dari rumah dan melarangnya kembali. Aku benci dia… aku benci dia. Mulai saat itu, aku tak pernah bertemu dengan dia lagi, hampir dua bulan aku tak bertemu, di sekolah pun aku juga tak melihatnya. Dalam hati aku bertanya apa sampai segitunya Dean membenciku. Terakhir aku dengar kabar dia sedang sakit, tapi aku tak tahu dia sakit apa, setahuku selama ini dia hanya punya penyakit pusing. Entah apa yang membuatku merindukannya, sedang dulu aku kecelakaan karena aku hanya ingin meminta maaf dengannya. Namun dia menolaknya, sehingga kini aku cacat. Keinginanku hanya satu menemui orang tua Dean. Sore hari yang mendung aku nekat pergi ke rumah Dean.
Jantungku saat itu terasa berhenti dan urat nadiku terasa terpotong paksa. Ternyata orang yang selama ini dekat denganku yang aku cinta, kini hanya tinggal kenangan saja, hanya tinggal nama, karena orang itu (Dean) kini telah berada di alam yang berbeda, dia telah menghadap Sang Khaliq, karena dia tak kuat menahan rasa sakit di kepalanya akibat kanker otak. Dean meninggal lima hari yang lalu dan aku tak tahu dan keluarganyapun menyembunyikan berita itu. Orang tua Dean hanya memberi tahuku di mana makam Dean dan memberiku sekotak kado besar yang isinya semua barang milik Dean. Di sana tertera namaku dan Dean serta tanggal 21 Nopember 2003. Aku kaget setelah ditambah secarik surat berwarna biru muda ditanganku yang isinya :
Dear : Sandy
Kuharap ini bukanlah akhir aku melihatmu, dan melihat semua waktu yang telah kita lalui bersama. Aku tahu umur bukanlah aku yang mengukur dan waktu yang akan tiba nanti bukan jaga keinginanku. Aku minta maaf sama kamu apabila aku telah membawamu ke duniaku yang hampa, itu dulu saat kamu belum ada di dalam hari-hariku. Namun sekarang engkau akan selalu ada dalam hatiku. Mungkin aku telah salah sama kamu, karena membiarkanmu menjauh dariku, hanya karena kamu tak ingin aku mengetahui perasaan kamu yang sebenarnya. Jujur sejak maupun sebelum kamu menjauhiku, aku sudah merasa yakin bahwa kamu memiliki perasaan padaku. Namun aku pura pura tidak mengetahuinya. Aku malah berbalik menyalahkanmu karena kamu selalu menghindariku. Dengan alasan itulah aku bisa membuatmu sedikit merasa bersalah padaku dan membuatmu selalu dekat denganku. Namun aku tak menyangka, kecelakaan tragis itu membuat kamu kehilangan sebelah kakimu yang normal dan membuatmu membenci diriku lalu mengusirku. Saat itu aku merasa bersalah padamu. Aku malu bertemu denganmu, hingga akhirnya aku menghilang. Sebulan setelah itu, aku sudah merasakan detik-detik terakhir hampir dekat dan aku sengaja menuliskan ini padamu dan membuat foto kita berdua yang ada nama kita berdua lengkap dengan tanggalnya yaitu 21 Nopember 2003. Itu adalah hari saat aku mengungapkan perasaanku padamu dan sekarang aku akan pergi mendahului kamu, aku minta maaf karena mungkin sudah sangat parah kondisiku. Aku mengucapkan terima kasih yang sebesarnya karena dirimu aku punya semangat untuk hidup. Maafkan aku yang telah buat kakimu cedera. MAAF SELAMAT TINGGAL SANDYKU YANG MANIS.
Yang mencintaimu,
DEAN ERGA
Aku tak menyangka ternyata selama ini aku telah salah besar dengan Dean. Ternyata Dean itu baik namun karena penyakitnya tersebut Dean sengaja menjadi anak yang bandel dan egois. Seketika itu air mataku tak dapat terbendung lagi, aku tak kuasa menahan segala rasa. Aku menyesal karena saat aku mengusirnya dulu ternyata saat itu juga aku terakhir melihat Dean dan untuk selamanya. Sesalku tak dapat aku tanggungkan. Aku jatuh sakit dan kondisi tubuhku memburuk. Terpaksa kedua orangtuaku membawaku ke rumah sakit. Pada saat itulah aku jadi tak percaya cinta dan tidakkan jatuh cinta. Karena cinta hidupku sengsara. Sakit rasanya kehilangan orang yang kita cinta. Aku tak inginkan itu lagi, sekarang aku menutup diriku untuk orang lain, aku jadi banyak diam dan menyendiri. Waktu terus berjalan seiring dengan perubahan dalm diriku. Awalnya kedua orang tuaku khawatir, takut kalau kejadian 6 tahun lalu terulang kembali. Beruntung aku menyakinkan ayah bundaku bahwa itu takkan terulang kembali kini, mereka jadi terbiasa. Aku jadi sulit bergaul dan berhubungan dengan masyarakat luar. Sebagian besar waktuku hanya aku habiskan di sekolah dan kamar. Sekarang 90% sikapku kini berubah total, aku jadi lebih banyak menyendiri, jutek, ketus, dan tak ingin tahu orang lain sama orang lain juga tak ingin mengenalku.
Dua tahun kemudian aku masuk kuliah di universitas terkemuka di Jakarta. Satu tahun yang lalu keluargaku pindah ke Jakarta karena tuntutan pekerjaan, kini mereka tinggal bersamaku di sini. Kini aku bisa berkumpul dengan kedua orangtuaku kembali. Aku di universitas tersebut mengambil jurusan kesenian karena menurutku jurusan itu bisa membuatku lebih memahami seni di berbagai kehidupan, termasuk kehidupan masa lampau, sekarang dan yang akan datang. Aku senang kehidupanku sekarang lebih baik dibanding dulu. Aku jadi tak lagi merepotkan semua orang.
Dua tahun kemudian, aku sudah menjadi seseorang yang sukses yaitu aku menjadi seniman terkenal sekaligus menjadi penasehat direktur yang terkemuka di Jakarta. Ini semua berkat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan-Nya kapadaku, dan berkat bimbingan kedua orangtuaku. Aku sekarang tak lagi kekurangan dan hidup terjamin namun hanya satu yang tak kupunyai yaitu……
Dan aku hanya pasrah pada-Nya semoga dia membukakan pintu hatiku yang hampa karena lukaku dulu. Amin.
Saat itu aku masih berumur 9 tahun, aku terkena penyakit asma. Setiap aku menghirup udara kotor, dadaku terasa sesak dan aliran nafasku seperti tersengal-sengal. Bagi anak seumuranku penyakit asma adalah hal yang tidak wajar. Karena itu dapat mengganggu sistem fisik yang sedang tumbuh dan berkembang. Saat itu aku sedang mengikuti kegiatan ekstra di sekolah, tiba-tiba segerombol anak datang menghampiriku, mereka mengambil alat pernafasanku sambil melempar-lemparkannya ke teman yang satu ke yang lain. Aku berusaha meminta namun gagal, bahkan aku sampai berlari-lari mengejarnya, namun tetap saja gagal bahkan nafasku sulit ku atur sehingga aku terjatuh dan pingsan. Mulai saat itu aku jadi benci dengan orang dan tak mau berkomunikasi dengan orang lain sampai 3 tahun, aku diterapi. Terapi itu sempat memancing suaraku yang selama itu hilang muncul kembali. Namun beberapa bulan kemudian aku kembali mengalami trauma itu sampai pada umurku 14 tahun. Pada waktu umurku 14 tahun, aku diikutkan terapi lagi bagi anak yang sulit bicara. Dari kecil aku seperti tidak mengenal sekolah, karena aku tumbuh tidak normal layaknya anak anak seumuranku. Namun saat aku berumur 12 tahun aku sempat bersekolah di SLB Malang, sampai umurku 14 tahun itu. Aku mulai belajar bicara pada usia 15 tahun dan umur 16 tahun aku baru bisa bicara layaknya anak anak seumuranku. Aku begitu senang namun begitu aku tak banyak berubah seperti sebelum ikut terapi kedua saat itu.
Waktu berganti tahun aku berumur 17 tahun, aku bertemu dengan seorang teman bernama Dean Arga. Dia adalah satu satunya teman yang aku punyai saat itu setelah aku pindah dari SLB dan bersekolah di SMA Negeri 2 Malang. Awal aku bersekolah di sana aku merasa minder namun begitu aku mengenal Dean, aku jadi merasa minderku agak berkurang. Untuk itu aku sering menghabiskan waktu dengannya. Selain itu Dean adalah anak yang pandai nomer 2 di kelasku. Dia sering memberiku motivasi agar aku tidak minder. Dua tahun aku berteman dengan Dean dan kini aku sudah kelas 3, dan dua tahun pula aku bersama dengan yang lainnya. Hingga aku benar benar jatuh cinta dengan Dean. Saat itu Dean memang tidak mengetahui bahwa aku suka dengannya, karena aku tidak mau dia tahu dan pergi meninggalkan aku. Aku hanya memendamnya.
Selang beberapa bulan, Dean mengetahui perubahan sikapku. Aku jadi semakin menjauh. Dia tak terima dengan sikapku, kemudian marah dan pergi meninggalkanku. Saat itu aku hancur dan mencoba meminta maaf namun gagal. Dia tidak mau memaafkanku. Sampai beberapa hari kemudian musibah datang menimpaku. Sebuah mobil sedan hitam menghantamku saat aku berusaha mengejar Dean untuk mencoba meminta maaf. Dia mungkin terkejut karena sebelum aku pingsan aku sempat merasa kalau Dean memikul aku masuk ke dalam mobil sedan yang menabrakku dan mengantarku ke rumah sakit.
Aku tak tahu sudah berapa hari aku dirawat di rumah sakit. Saat itu aku merasa di dimensi lain, aku melihat hamparan tanah yang hijau dan beberapa anak memanggilku untuk bermain. Saat aku melangkahkan kaki, tiba tiba Dean dari belakang menarik lenganku dan mengajakku menjauh dari anak-anak itu. Wajah anak-anak itu menunjukkan kekecewaannya. Namun begitu secercah cahaya menghampiriku dan Dean. Aku tersadar dari komaku.
Aku sempat merasa detak jantungku berhenti, namun setelah itu aku sadar dari komaku. Aku melihat ayah dan bundaku yang masih menungguku di pinggir tempat tidur. Kucoba menoleh ke samping kanan, ada Dean yang memegang tanganku sambil lelap tidur. Entah apa yang aku rasa saat aku melihat dia menemaniku saat itu. Gerakan lemah tanganku membuatnya terbangun dari tidur. Ayah dan bundaku juga ikut terbangun. Mereka semua nampak bahagia melihatku sadar dan siuman. Sewaktu aku menanyakan sejak kapan aku dirawat di rumah sakit, kedua orang tuaku bilang sejak 13 hari yang lalu. Ternyata aku sudah lama tinggal di rumah sakit. Saat aku ingin bangun kaki kiriku terasa lemah dan tak bisa digerakkan, aku mencoba membuka selimut penutupnya dan ternyata kakiku penuh dengan perban. Aku menangis sejadi jadinya. Sedangkan ayah bundaku tidak bisa berbuat apa apa hanya kata sabar yang terucap dari bibir mereka. Aku hancur, putus asa dan hilang semua harapanku. Aku telah cacat.
Beberapa hari kemudian aku sudah diijinkan pulang oleh dokter. Ayah dan bundaku mengiringiku saat Dean medorong kursi rodaku dan membantuku masuk rumah. Saat itu semuanya berubah, akhirnya Dean mengutarakan isi hatinya padaku saat harapan dan impianku sudah musnah. Namun hatiku sudah hancur, aku mengusirnya dari rumah dan melarangnya kembali. Aku benci dia… aku benci dia. Mulai saat itu, aku tak pernah bertemu dengan dia lagi, hampir dua bulan aku tak bertemu, di sekolah pun aku juga tak melihatnya. Dalam hati aku bertanya apa sampai segitunya Dean membenciku. Terakhir aku dengar kabar dia sedang sakit, tapi aku tak tahu dia sakit apa, setahuku selama ini dia hanya punya penyakit pusing. Entah apa yang membuatku merindukannya, sedang dulu aku kecelakaan karena aku hanya ingin meminta maaf dengannya. Namun dia menolaknya, sehingga kini aku cacat. Keinginanku hanya satu menemui orang tua Dean. Sore hari yang mendung aku nekat pergi ke rumah Dean.
Jantungku saat itu terasa berhenti dan urat nadiku terasa terpotong paksa. Ternyata orang yang selama ini dekat denganku yang aku cinta, kini hanya tinggal kenangan saja, hanya tinggal nama, karena orang itu (Dean) kini telah berada di alam yang berbeda, dia telah menghadap Sang Khaliq, karena dia tak kuat menahan rasa sakit di kepalanya akibat kanker otak. Dean meninggal lima hari yang lalu dan aku tak tahu dan keluarganyapun menyembunyikan berita itu. Orang tua Dean hanya memberi tahuku di mana makam Dean dan memberiku sekotak kado besar yang isinya semua barang milik Dean. Di sana tertera namaku dan Dean serta tanggal 21 Nopember 2003. Aku kaget setelah ditambah secarik surat berwarna biru muda ditanganku yang isinya :
Dear : Sandy
Kuharap ini bukanlah akhir aku melihatmu, dan melihat semua waktu yang telah kita lalui bersama. Aku tahu umur bukanlah aku yang mengukur dan waktu yang akan tiba nanti bukan jaga keinginanku. Aku minta maaf sama kamu apabila aku telah membawamu ke duniaku yang hampa, itu dulu saat kamu belum ada di dalam hari-hariku. Namun sekarang engkau akan selalu ada dalam hatiku. Mungkin aku telah salah sama kamu, karena membiarkanmu menjauh dariku, hanya karena kamu tak ingin aku mengetahui perasaan kamu yang sebenarnya. Jujur sejak maupun sebelum kamu menjauhiku, aku sudah merasa yakin bahwa kamu memiliki perasaan padaku. Namun aku pura pura tidak mengetahuinya. Aku malah berbalik menyalahkanmu karena kamu selalu menghindariku. Dengan alasan itulah aku bisa membuatmu sedikit merasa bersalah padaku dan membuatmu selalu dekat denganku. Namun aku tak menyangka, kecelakaan tragis itu membuat kamu kehilangan sebelah kakimu yang normal dan membuatmu membenci diriku lalu mengusirku. Saat itu aku merasa bersalah padamu. Aku malu bertemu denganmu, hingga akhirnya aku menghilang. Sebulan setelah itu, aku sudah merasakan detik-detik terakhir hampir dekat dan aku sengaja menuliskan ini padamu dan membuat foto kita berdua yang ada nama kita berdua lengkap dengan tanggalnya yaitu 21 Nopember 2003. Itu adalah hari saat aku mengungapkan perasaanku padamu dan sekarang aku akan pergi mendahului kamu, aku minta maaf karena mungkin sudah sangat parah kondisiku. Aku mengucapkan terima kasih yang sebesarnya karena dirimu aku punya semangat untuk hidup. Maafkan aku yang telah buat kakimu cedera. MAAF SELAMAT TINGGAL SANDYKU YANG MANIS.
Yang mencintaimu,
DEAN ERGA
Aku tak menyangka ternyata selama ini aku telah salah besar dengan Dean. Ternyata Dean itu baik namun karena penyakitnya tersebut Dean sengaja menjadi anak yang bandel dan egois. Seketika itu air mataku tak dapat terbendung lagi, aku tak kuasa menahan segala rasa. Aku menyesal karena saat aku mengusirnya dulu ternyata saat itu juga aku terakhir melihat Dean dan untuk selamanya. Sesalku tak dapat aku tanggungkan. Aku jatuh sakit dan kondisi tubuhku memburuk. Terpaksa kedua orangtuaku membawaku ke rumah sakit. Pada saat itulah aku jadi tak percaya cinta dan tidakkan jatuh cinta. Karena cinta hidupku sengsara. Sakit rasanya kehilangan orang yang kita cinta. Aku tak inginkan itu lagi, sekarang aku menutup diriku untuk orang lain, aku jadi banyak diam dan menyendiri. Waktu terus berjalan seiring dengan perubahan dalm diriku. Awalnya kedua orang tuaku khawatir, takut kalau kejadian 6 tahun lalu terulang kembali. Beruntung aku menyakinkan ayah bundaku bahwa itu takkan terulang kembali kini, mereka jadi terbiasa. Aku jadi sulit bergaul dan berhubungan dengan masyarakat luar. Sebagian besar waktuku hanya aku habiskan di sekolah dan kamar. Sekarang 90% sikapku kini berubah total, aku jadi lebih banyak menyendiri, jutek, ketus, dan tak ingin tahu orang lain sama orang lain juga tak ingin mengenalku.
Dua tahun kemudian aku masuk kuliah di universitas terkemuka di Jakarta. Satu tahun yang lalu keluargaku pindah ke Jakarta karena tuntutan pekerjaan, kini mereka tinggal bersamaku di sini. Kini aku bisa berkumpul dengan kedua orangtuaku kembali. Aku di universitas tersebut mengambil jurusan kesenian karena menurutku jurusan itu bisa membuatku lebih memahami seni di berbagai kehidupan, termasuk kehidupan masa lampau, sekarang dan yang akan datang. Aku senang kehidupanku sekarang lebih baik dibanding dulu. Aku jadi tak lagi merepotkan semua orang.
Dua tahun kemudian, aku sudah menjadi seseorang yang sukses yaitu aku menjadi seniman terkenal sekaligus menjadi penasehat direktur yang terkemuka di Jakarta. Ini semua berkat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan-Nya kapadaku, dan berkat bimbingan kedua orangtuaku. Aku sekarang tak lagi kekurangan dan hidup terjamin namun hanya satu yang tak kupunyai yaitu……
Dan aku hanya pasrah pada-Nya semoga dia membukakan pintu hatiku yang hampa karena lukaku dulu. Amin.
Mr. Extra Ordinary Cool
Brian, cowok paling keren dan paling cool sesekolahan, benar-benar orang yang resenya nggak ketolongan! Nyebelin! He’s so annoying! Aku sebel sama dia! Banget! Seenaknya saja dia mau mainin aku? Cih… jangan harap aku bakal tertipu sama tampang dia!
Alright, aku tahu dia memang keren banget. Otaknya juga pintar, malah termasuk juara kelas. Olahraga? Weits…jangan salah. Dia jago main sepak bola. Oke, aku akui dia memang punya banyak kelebihan yang diidam-idamkan oleh banyak perempuan.
But, satu yang membuat dia mendapat nilai minus dariku. Playboy! Semua cewek cakep, stylish, gaul, dan mentel sudah pernah dia pacari! Yang kuper, rajin baca buku? Sebagian besar juga sudah. Malah aku ragu, mungkin semua sudah dia pacarin. Belum termasuk aku, tentunya. Aku sudah tahu se-playboy apa dirinya. Segala akal bulus dia buat ngerayu cewek juga sudah kudengar dari semua teman-temanku yang—sayangnya juga—sudah pernah berpacaran dengannya.
Rata-rata cewek yang pacaran sama dia nggak pernah lebih dari tiga bulan. Yang paling singkat hanya satu minggu lebih! Lihat? Tahu sendiri gimana playboynya dia? Dan sekarang dia ‘nembak’ aku, minta aku jadi cewek dia? Jadi pacar dia? Gila aja kalau aku sampai mau terima. You wish!
Masih kuingat dengan jelas kejadian yang paling memalukan dalam hidupku tadi itu. Kejadian yang benar-benar akan menjadi peristiwa yang mungkin tidak akan pernah terhapus dari ingatanku.
* * *
“Ra, aku mau kamu jadi pacarku. Kamu mau kan? Aku cinta sama kamu, Ra. Aku cinta banget sama kamu, dan aku yakin kamu bener-bener cinta sejati aku. True love aku. Aku yakin cuma kamu satu-satunya cewek yang pasti buat aku bertahan sama satu cewek aja! Aku yakin aku nggak bakal playboy lagi kalau jalan sama kamu. Trust me, will you?”
Pengakuan Brian yang begitu terang-terangan di kelasku tadi saat istirahat benar-benar memalukan! Dia mengatakan kalimat seperti itu begitu dia memasuki kelasku? Ralat, bukan mengatakan. Melainkan meneriakkan! Dia ini beneran juara nggak sih? Sopan santunnya mana? Apa dia nggak tahu apa dampaknya sama aku kalau dia ngomong gitu? Cewek satu sekolahan bakal musuhin aku! Ya, Tuhan, satu sekolahan!
“Gimana, Ra? Kamu mau?” tanyanya sambil menatap kedua mataku dalam dengan posisi berlutut ala pangeran-pangeran dari negeri dongeng.
Aku hanya memandang ke kiri dan kanan, tempat kedua sahabatku duduk. Tapi, tidak ada gunanya. Mereka sedang memandang Brian dengan begitu seriusnya. Serius dalam arti terpesona ngeliat dia—seperti biasanya juga, sebenarnya.
Aku menarik nafas yang dalam sambil memejamkan mata. Kutatap mata Brian tajam setelahnya.
“Aku nggak mau. Kamu kira aku bakal percaya gitu aja sama kamu, setelah kamu pacarin semua cewek yang ada di sekolah kita?”
“Belum semua. Cleaning service belum pernah aku pacarin. Penjaga kantin juga belum. Dan kamu juga belum,” jawabnya lancar dan tenang.
Aku hanya menggeram kesal. Sial!
“Lalu, apa yang bisa buat aku percaya kamu nggak bakal playboy lagi? Nggak ada jaminan untuk itu kan? Kamu selalu bermulut manis sama semua cewek yang kamu pacarin, dan kamu pikir aku juga bakal jadi seperti mereka, percaya rayuan gombal kamu begitu saja? Aku nggak bakal segampang itu percaya sam—“
Oh my God! Di-dia… Dia… nyium aku di depan semua orang! Dasar kurang ajar! Apanya yang juara kelas?! Sopan santun aja nggak tahu! Tata karma dan norma-norma pun dia tak tahu! Di bibir pula itu! Aku berusaha mendorong tubuhnya namun tak berhasil. Tenanganya lebih besar dariku. Wajar sebenarnya, karena dia cowok sedangkan aku cewek.
“Cukupkah itu untuk sebuah bukti?” tanyanya setelah melepas bibirku yang menempel dengan bibirnya selama sekitar dua-tiga detik.
Aku segera mengambil botol minumku, mencuci bibirku sebentar, kemudian membersihkannya dengan tanganku segera.
“Nggak bakal. It will never be! Kamu kira aku bakal percaya hanya dengan kamu… k-kamu… ny-nyi-nyium aku? Mungkin saja semua cewek juga sudah kamu perlakukan begitu, malah mungkin lebih!”
Aku segera berlari keluar kelas, melewatinya begitu saja. Teman-temannya yang berdiri di belakangnya semua terperangah melihatku berlari keluar. So what? Emangnya aku bakal peduli? Aku nggak peduli! Yang aku tahu, sekarang aku harus ke kamar mandi dan segera membersihkan bibirku yang sudah tercemar! Terkena berbagai macam virus dan bakteri!
* * *
Yah, kira-kira begitulah ceritanya. Dan sekarang aku masih berada di salah satu toilet yang ada. Aku malas untuk masuk ke kelas dan menghadapi semua orang.
Aku yakin semuanya akan membicarakanku sekarang. Ke mana pun aku melangkah, orang-orang pasti akan berbisik-bisik di belakangku. Dan kalaupun ada yang lebih parah, cewek-cewek yang sok berlagak model itu pasti akan menghinaku secara terang-terangan. Bagai lampu yang terus terang.
Aku segera berjalan menyusuri lorong sekolah dan melangkahkan kakiku ke arah perpustakaan—tempatku untuk bolos dan bersembunyi, kalau-kalau aku sedang tidak ingin berada di kelas.
Segera aku melangkah ke rak buku cerita. Biarpun memakai bahasa Inggris, aku tetap suka membaca buku cerita di sekolahku ini. Semuanya menarik! Aku segera duduk di tempat biasa, tempat yang agak tersudut, dekat dengan jendela yang menghadap ke lapangan.
Kulihat anak-anak kelas 3 SMA sedang berlari keliling lapangan. Kenapa aku tahu itu kelas 3? Sebab pakaian olahraga kami itu berbeda tiap tingkatannya. Aneh kan? Tapi keren juga sih, hehehe… Yah, itulah sekolahku.
Sekilas Brian terlihat oleh mataku. Dia sedang berlari santai. Wajar sebenarnya mengetahui dia anak yang ikut ekskul sepak bola. Nggak heran dia nggak terlihat begitu lelah seperti yang lainnya. Sebenarnya, kalau kelakuan dia nggak minus, aku rasa aku sendiri mungkin bisa jatuh hati juga padanya, as all my friends do. Tapi sayang, dia terlanjur mendapat “nilai minus” itu dariku.
Brian terlihat tersenyum ke arahku. Dia memandangku dan tersenyum dengan lembut. Tangannya sedikit melambai padaku tadi. Aku segera duduk agak menjauh dari jendela. Takut cewek-cewek lain yang mungkin juga sedang memperhatikan Brian akan melihatku. Aku bisa mampus!
Dasar cowok gila! Tapi, apa bener dia cinta sama aku?
Sejujur-jujurnya, aku juga suka sama dia. Suka, bukan cinta. Atau mungkin lebih tepatnya belum. Mungkin karena aku tidak begitu dekat dengannya. Aku belum begitu mengenal dirinya.
Aku kembali sibuk dengan buku cerita yang ada di tanganku sekarang ini. Namun, tidak ada gunanya. Entah kenapa, terus terbayang senyum lembut yang tadi kuterima dari Brian. Aku segera menggeleng-geleng kepalaku. Cleora, jangan mudah percaya! Sudah banyak cewek yang jatuh ke pelukannya. Kamu jangan mau jadi seperti mereka semua!
Berkali-kali aku menasehati diriku sendiri. Dan berusaha kembali membaca buku yang tadi kuambil. Namun, bayang senyumannya tak juga mau menghilang dari pikiranku. Iiih… jangan-jangan dia sampai pake pelet hanya karena aku nggak mau terima dia, ya? Tapi, nggak mungkin. Kalau memang iya, berarti itu juga udah merupakan salah satu alasan kuat aku nggak bakal menerimanya.
* * *
Seminggu sudah berlalu sejak kejadian memalukan itu. Namun, tidak ada tanda-tanda Brian akan menyerah untuk berusaha memacariku. Sebelum bel pertama berbunyi, bahkan sebelum aku datang, dia selalu sudah duduk menunggu di mejaku. Tentu saja, teman-teman sekelasku tidak ada yang mengusirnya. Mana mungkin ada yang mau! Bagi mereka, itu karunia di pagi hari. Pagi-pagi sudah dapat melihat Brian. But, not for me.
Setiap istirahat dia juga selalu mampir ke kelasku. Entah hanya untuk mengajakku ke kantin, atau menawariku jasanya. Maksudku dia mau mengajariku pelajaran-pelajaran yang tak kumengerti. Untuk yang satu ini aku tidak menolak. Sia-sia banget kalau ditolak! Ilmu itu berguna banget, tahu!
Terkadang, kalau aku ingin pergi ke toilet—tentu saja itu hanya alasanku untuk menghindarinya—Brian pasti memaksa ingin ikut. Tapi, dia hanya akan menungguku di depan toilet sambil bersandar di dinding. Pernah sekali langkah kakiku terhenti saat akan keluar toilet karena melihatnya sekilas. Jujur, saat itu jantungku benar-benar berdebar kencang. Dia terlihat begitu tampan saat dia bersandar di dinding dengan kedua tangannya berada di dalam saku celanaya. Biarpun sudah banyak kulihat gaya-gaya model seperti itu di majalah, tapi tetap saja ada yang kurasa berbeda pada dirinya. Entah apa itu.
Setiap pulang sekolah, dia juga selalu menawarkan diri untuk mengantarku pulang dengan motornya. Maklum, aku memang pulang sekolah naik angkot. Rumahku tidak berada begitu jauh dari rumah.
Once, aku merasa begitu sial. Tidak ada satupun angkot yang lewat. Bayangkan! Satu pun tak ada! Brian yang, as always, selalu menunggu sampai aku benar-benar naik ke dalam angkot, masih menungguiku. Tapi, tetap saja tidak ada angkot yang lewat. Aku benar-benar heran. Nggak mungkin nggak ada yang lewat! Pasti ada yang aneh! Mungkinkah ada kecelakaan yang menghambat jalan menuju sekolahku? Argh… Sial!
Saat aku memutuskan untuk berjalan kaki untuk pulang, Brian segera menarik tanganku, menahanku pergi.
“Aku antar kamu pulang. Bahaya kalau cewek secantik dan semanis kamu pulang sendiri.”
Terang saja aku menolak. Ogah! Gengsi! Tapi, dia tetap memaksa. Bahkan ketika aku tetap ngotot dengan niatku, dia tetap mengikutiku. Dia mengendarai motornya begitu pelan sehingga bisa mengimbangi langkahku. Segera saja lebih kupelankan lagi langkahku, agar motornya jadi berjalan lebih cepat ke depan sana. Namun, gagal. Ideku tak berjalan lancar. Dia malah mematikan mesin motornya dan turun dari motornya. Dia berdiri di sebelah motornya dan berjalan sambil mendorong motornya agar bisa mengimbangi langkahku.
Terus terang saja, aku—as a girl—pasti senang sekali ada cowok yang begitu demi aku. Tapi, dia itu Brian—playboy berat! I can’t fall in love with him! I can’t. Nggak boleh!
Sampai tengah jalan, kulihat dia terlihat begitu kelelahan. Wajar memang, sebab dia berjalan sambil mendorong motornya. Belum lagi ditambah teriknya matahari yang saat ini nggak bisa diajak kompromi. Sampai tengah jalan, aku sengaja singgah ke warteg-warteg yang ada di pinggir jalan. Setidaknya agar dia bisa beristirahat dulu. Minum, makan, atau apa kek. Terserah. Bahkan biar dia duduk semeja denganku, aku tak peduli. Aku tak berbicara padanya sama sekali. Aku ke sini hanya agar dia bisa beristirahat sejenak.
Ketika kulihat lelahnya sudah mulai hilang, aku segera berdiri dan menunggunya di motornya.
“Ayo cepat! Aku mau pulang!” seruku tak sabaran karena dia hanya berdiri bengong sekitar setengah meter dari motornya. Aku begini sebenarnya biar dia nggak kelelahan lagi. Kalau nggak, bisa-bisa anak orang pingsan sampai rumah.
“Rumah kamu di mana?” tanyanya yang sekarang sudah duduk di motornya—dihadapanku.
Kujelaskan dimana letak rumahku secara rinci. Dia segera mengangguk dan menarik kedua tanganku, melingkarkan tanganku ke tubuhnya. Saat aku berusaha melepas tanganku, dia malah menahannya dengan sebelah tangan. Sial! Mentang-mentang cowok, jadi bisa seenaknya karena tenaganya lebih gede. Curang!
“Kalau kamu nggak pegangan, aku nggak jamin kamu selamat sampai rumah. Jangan kamu kira aku nggak bakal ngebut, Ra. Itu bukan aku banget. Aku bukan tiep cowok yang tahan melaju pelan pakai motor.”
Biarpun dia memakai helm dan kata-katanya tidak begitu keras, aku masih bisa mendengarnya. Karena wajahku berada tepat di belakangnya, di punggungnya.
Segera dia hidupkan motornya dan melaju kencang. Cepat banget, batinku. Jantungku sampai deg-degan. Karena takut tentunya. Mana mungkin karena aku sedang memeluk tubuhnya. Tubuhnya begitu bidang. Tapi aku yakin, aku bukan cewek pertama yang diboncenginya pulang. Jadi, aku juga bukan cewek pertama yang memeluk tubuhnya saat naik motor seperti ini kan? Rugi banget kalau aku berdebar-debar hanya karena “memeluknya” seperti ini. Remember, I’m not the first one.
Begitu sampai di depan rumahku, aku segera turun dari motornya. Air mataku sudah ada di pelupuk mataku, hanya saja belum mengalir jatuh menuruni kedua pipiku. Gila! Dia benar-benar gila! He’s out of his mind! Ngebutnya nggak tanggung-tanggung. Apa dia nggak tahu yang sedang berada di belakangnya itu seorang cewek, perempuan, gadis, wanita, lady? Segera kuusap kedua mataku.
“Lho, kamu kok nangis, sih, Ra?” tanyanya panik.
Dengan cepat kuusap air mataku. Aku tak ingin dia melihatku dalam keadaan begini. Tapi, air mataku tak bisa diajak kompromi. Air mataku malah mengalir tambah derasnya.
“Kamu gila, ya? Kamu sadar nggak, sih, kalau kamu tadi ngebutnya sudah kayak orang gila! Orang yang sudah nggak waras! Kamu sadar nggak yang tadi ada di belakang kamu itu seorang cewek! Kamu nggak mikir ya, Yan?”
Amarahku keluar semua. Kumaki-maki dia terus. Sampai akhirnya aku tak bisa lagi melanjutkan kalimat-kalimatku. Dia menghentikan. Dengan cara yang paling ampuh di dunia, yang bahkan tak terlintas di pikiranku. Dia menciumku! Lagi!
Setelah kira-kira lima detik hampir terlewati, baru dia memisahkan bibirku dan bibirnya. Segera kutampar pipinya. Namun, aku rasa tidak akan begitu terasa sakit baginya, aku yakin. Sebab, tenagaku tiba-tiba melayang entah kemana semua.
“Aku belum gila, Ra. Aku tahu yang duduk di belakang aku itu seorang cewek. Seorang cewek yang aku sayangi, aku cintai.”
Aku hanya memalingkan wajahku. Diam menyelimuti kami untuk beberapa lama. Sadar tak ada yang akan pergi sebelum salah satu dari kami bergerak, aku segera berbalik dan masuk ke rumahku. Kutinggalkan dia yang masih saja menatap ke arah pintu rumahku. Aku tak peduli. Aku tak mau lagi peduli padanya. Never.
* * *
Beberapa hari sejak kejadian itu, dia tak lagi mendatangiku. Sepertinya dia sudah menyerah.
“Baguslah,” gumamku pelan. Tapi, entah mengapa, aku merasa ada perasaan aneh yang menghampiri hatiku. Ada sedikit perasaan tak rela dan kehilangan. Tapi, tak kuambil pusing. Lama-lama juga pasti akan hilang sendiri.
Aku jalani hari-hariku seperti biasa. Seperti saat dia belum masuk ke dalam kehidupanku. Tapi, perasaan kehilangan itu masih tetap ada. Ke mana pun kakiku melangkah, kenangan antara aku dan dia tetap ada. Di kantin, di toilet, di perpustakaan. Seolah-olah dia membayangi langkahku ke mana pun kakiku hendak melangkah.
Aku berusaha untuk tetap menjalani semuanya seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara kami. Hari ini, aku bolos lagi. Kakiku membawaku ke perpustakaan, mengambil buku yang dulu belum sempat selesai kubaca dan duduk di tempat yang biasa. Tempat di mana Brian untuk pertama kalinya tersenyum padaku. Tersenyum dengan begitu lembut.
Tanpa sadar, setetes air mataku menuruni sebelah pipiku yang kemudian mulai membanjiri kedua pipiku. Tangisku tak mau berhenti, meski seberapa keras pun aku berusaha untuk menghentikannya.
Apa? Apa yang salah denganku? Apa yang terjadi padaku? Apa aku sudah jatuh cinta padanya? Apa aku sudah terlanjur memberikan hatiku ini padanya?
Segera kusingkirkan buku yang ada di tanganku, karena takut akan segera basah oleh air mataku yang tak henti-hentinya mengalir. Untung saja saat ini perpustakaan sedang sepi, ditambah lagi tempat kududuki begitu tersudut. Segera kutumpahkan semua air mataku yang berteriak ingin keluar.
Begitu kudengar ada langkah yang mulai mendekati tempatku sekarang, aku segera berusaha menghentikan tangisku. Segera kulap kedua pipiku yang begitu basah.
“B-Br-Brian?” gumamku tak percaya. Dia? Seorang Brian datang ke perpustakaan? Saat jam pelajaran pula.
“Wajah kamu memang tetap cantik walaupun kamu sedang menangis, Ra, tapi senyum kamu tetap yang paling indah. Please, Ra. Jangan nangis lagi. Aku nggak tahan ngeliat kamu nangis, Ra. Aku juga menderita kalau melihat kamu nangis.”
Kalimat-kalimat itu sukses membuatku membelalakan mataku. Siapa yang tidak akan kaget mendengarnya? Kalimat romantis gitu? Tapi, gengsiku sepertinya begitu tinggi.
“Ya sudah, pergi aja biar kamu nggak ngeliat aku nangis,” jawabku ketus.
“Nggak ada gunanya, Ra. Di mana pun aku berada, kalau kamu lagi menangis, aku pasti menderita juga. Anytime. Anywhere.”
“Gombal.”
“Terserah kamu mau percaya atau nggak. Setidaknya, aku sudah selalu berusaha untuk jujur di depan kamu, Ra. Hanya di depan kamu. Aku belum pernah kayak gini sama cewek lain sebelumnya, Ra. Baru sama kamu seorang, dan aku rasa hanya akan begini sama kamu. I’ve told you. You ARE my true love.”
Tangis kembali mendatangi diriku. Kenapa aku jadi cengeng begini, sih? Apa yang salah denganku? Apa ada masalah dengan kelenjar air mataku? Sepertinya aku harus segera check-up.
“Kamu kenapa nangis, sih, Ra? Cerita sama aku, barangkali tangis kamu bakal berhenti.” Brian sudah duduk di sebelahku dan mengusap sebelah pipiku dengan ibu jarinya. Tangisku semakin menjadi.
“Ak-aku juga ng-nggak tahu, Yan. Se-sejak sejak kamu nggak pernah ngedatengin aku lagi, ada perasaan kehilangan di hati aku. Aku pikir lama-lama perasaan itu bakal menghilang bgitu saja, tapi sampai sekarang perasaan itu nggak hilang-hilang juga,” jelasku panjang lebar sambil menangis.
Samar-samar kulihat sebuah senyum dari bibir Brian. Anak ini benar-benar nggak waras! Orang lagi nangis begini malah senyum?
“Itu masalah yang simpel banget, Ra. Itu tandanya kamu sayang sama aku, kamu cinta sama aku. Kamu nggak bisa jauh-jauh dari aku. Semua perasaan kamu itu sama kayak perasaan aku ke kamu.” Dia membelai kepalaku pelan.
“Tapi, kamu pasti bakal mainin aku juga seperti cewek-cewek kamu semua. Kamu nggak serius sama aku. Kamu Cuma mau mainin aku. Kamu—”
“Kamu salah besar, Ra. Aku cinta sama kamu. Aku bener-bener cinta sama kamu. Sudah lama banget! Cuma, susah nyari info tentang kamu, Ra. Aku usaha keras banget cuma buat nyari tahu di mana kelas kamu.”
Aku hanya bisa melongo. Tak kusangka dia berbuat begitu. Tapi, aku melarang hatiku untuk percaya begitu saja padanya. Dan, seolah dapat membaca pikiranku, dia menjawab,
“Sebenarnya ceritanya panjang banget, tapi aku rasa kalau aku nggak cerita semuanya kamu nggak bakal percaya sama aku, ya kan?”
Aku segera mengangguk pelan. Dia menarik nafas panjang, mengubah posisi duduknya menghadap meja, dan mulai bercerita.
“Pertama kali aku ngeliat kamu itu di perpus ini juga, di tempat kamu duduk sekarang ini. Aku disuruh Pak Sinaga ngambil buku. Saat itu kamu lagi tidur, dan aku datang. Pertama kali ngeliat, aku langsung kaget sama penglihatanku. ‘Gila! Malaikat dari mana yang datang?’ begitu pikirku. Tapi, setelahnya aku sadar. Mungkin itu hanya efek dari sinar matahari dari arah jendela, makanya kamu bisa kelihatan begitu bercahaya di mataku. Tapi, setelah aku datang berkali-kali, bahkan di saat sinar matahari nggak mengenai kamu, kamu benar-benar terlihat seperti seorang bidadari di mataku. Sejak saat itu, sebisa mungkin aku cari info tentang kamu. Kamu kelas berapa, nama kamu, dan lain sebagainya. Sering aku datang ke perpus, ke tempat ini, karena aku pikir aku mungkin bisa ketemu sama kamu, tapi kamu nggak pernah ada. Aku putus asa banget, padahal aku pikir aku bisa kenal kamu lebih jauh kalau aku bisa ketemu sama kamu. Akhirnya, setelah usaha keras aku selama seminggu lebih, aku dapet info yang aku mau. Nama kamu, kelas kamu, kamu tuh orangnya gimana aja, dan aku sadar. Kamu nggak seperti cewek-cewek yang lain, yang aku pacarin selama ini. Kamu berbeda sama mereka. Aku sendiri nggak tahu apa yang beda, tapi ada sesuatu yang berbeda dalam diri kamu.”
Dia berhenti sejenak. Mengambil nafas dan menundukkan sedikit kepalanya. Kemudian, dia kembali melanjutkan ceritanya.
“Setelah agak lama, aku beraniin diri nembak kamu, walaupun aku yakin, kemungkinan besar, kamu nggak mungkin mau nerima aku. Tapi, aku tetep nekad, dan ternyata dugaan aku nggak salah. Well, aku minta maaf soal kesan pertama yang kamu dapet dari aku—“ aku menatapnya bingung, tak mengerti maksud kesan pertamanya yang mana, “—yang aku, aku nyium kamu waktu itu.”
Aku menunduk, malu. Tapi, sudah dua kali dia melakukan hal itu padaku. Tentu saja aku kesal berat padanya kan? Itu hal yang sangat wajar.
“Aku minta maaf, Ra. Maaf banget! Yang pertama kali itu karena aku sudah nggak tahan banget ngeliat kamu di depan aku terus. Kamu nggak pernah ada di depan aku selama itu sebelumnya, juga sebagai bukti yang kamu minta. Dan, akhirnya aku nggak berhasil nahan diri aku untuk nyium cewek yang aku cintai banget. Yang kedua karena aku bener-bener nggak tahan ngeliat kamu nangis, Ra. Seperti yang aku bilang tadi. Kamu mau maafin aku kan?”
Setelah menimbang-nimbang, aku mengangguk kecil. Entah apa yang mendorong kepalaku untuk mengangguk saat itu. Aku sendiri pun tak mengerti. Akhir-akhir ini tubuhku tidak pernah mau mendengarkan perintahku.
“Makasih banget, Ra. Aku nggak mau kamu benci sama aku. Ngeliat kamu nangis emang buat aku menderita, Ra. Tapi, kalau melihat kamu yang benci sama aku, aku lebih baik mati, Ra. Aku nggak sanggup.”
Oh my Gott! Itu kalimat paling romantis yang pernah aku terima dalam hidupku! In my whole life!
“So, gimana, Ra? Kamu mau nerima aku? Nerima cinta aku ke kamu?” tanyanya yang sudah membetulkan letak duduknya dan menghadap ke arahku. Dia menatap langsung kedua mataku. Saat aku mau memalingkan wajah, dia segera menahannya dengan sebelah tangan.
“Kalau kamu bener-bener nggak mau jadi pacarku, aku yakin kamu bisa ngejawab itu tanpa memalingkan tatapan mata kamu dari aku.”
Sial! Aku tak bisa apa-apa lagi, sebab tangannya tetap menahan wajahku. Kutatap matanya takut-takut. Biarpun matanya memandangku langsung, matanya tetap terlihat begitu lembut saat menatapku.
“A-ak-aku… aku… ng-nggak b-bi-bisa, Yan. A-aku nggak bis-bisa—“ Brian menaruh jari telunjukknya di bibirku, menyuruhku diam.
Hening.
Diam menyelimuti.
“Alright,” kata Brian dengan begitu putus asa sebelum aku menyelesaikan kalimatku. “Aku juga nggak bisa maksa aku, tapi at least kamu bisa ngebiarin aku tetep berada di dekat kamu kan? Ada di sekitar kamu?”
“Heh! Kalimat aku belum selesai, kamu udah main motong aja! Ya udah!” Aku pura-pura ngembek.
“Lho? Tapi intinya kan kamu nolak aku juga kan?”
“Aku nggak bisa nolak kamu, Yan. Aku sadar, sepertinya kamu udah berhasil ngebuat aku jatuh cinta sama kamu. Tapi, karena kamu udah berasumsi lain, apa daya. Aku cuek aja, deh!” Aku segera berdiri untuk melangkah pergi tapi dia langsung menahanku. Dia meraih pergelangan tanganku dan menarikku duduk ke pangkuannya. Spontan wajahku memerah. Aku duduk di pangkuannya! Wajahnya berada tidak sampai lima senti dariku!
Tanpa ba-bi-bu lagi, dia langsung menciumku! Ugh! Biarpun aku cinta sama dia, bukan berarti dia boleh selalu nyium aku sesuka hati dia, kan?!
Tangannya yang lebar memelukku dengan begitu erat. Takut-takut tanganku juga meluk dia. Aku bener-bener pengen meluk dia, sejak aku naik motor dia. Badannya sungguh bidang.
Bukannya merenggangkan pelukannya, eh… dia malah semakin menguatkannya. Bisa-bisa tulangku remuk, nih!
Lima detik sudah berlalu. Tapi, dia belum melepaskan bibirku. Barulah setelah sekitar delapan detik terlewati, dia melepaskan bibirku dari bibirnya. Sekilas kulihat wajahnya yang memerah, tapi dia segera menutupinya dengan memelukku, sehingga aku tak bisa melihat wajahnya yang kini bertengger di bahuku.
“Sorry, tapi aku bener-bener nggak bisa nahan diri,” ucapnya pelan di telingaku. Aku hanya tersenyum kecil mendengarnya.
Biarpun kesal, aku tetap tak bisa marah padanya. Ternyata pepatah itu selalu benar. Kalau udah jatuh cinta, waktu paling lama untuk kita marah sama orang yang kita cintai cuman satu menit! Nggak lebih!
Well, setidaknya aku sudah menemukan cintaku. Sekarang aku benar-benar bahagia. Hei, tahukah kalian arti dari sebuah kebahagiaan? Aku pernah membacanya dari sebuah buku. Kebahagiaan itu adalah pertemuan dua hati yang saling mencintai. Dan, sekarang ‘kebahagiaan’ itu sudah kutemukan. Bahkan, mungkin kebahagiaanku ini melebih semua cewek-cewek yang pernah dipacarinya. No doubt about it!
Alright, aku tahu dia memang keren banget. Otaknya juga pintar, malah termasuk juara kelas. Olahraga? Weits…jangan salah. Dia jago main sepak bola. Oke, aku akui dia memang punya banyak kelebihan yang diidam-idamkan oleh banyak perempuan.
But, satu yang membuat dia mendapat nilai minus dariku. Playboy! Semua cewek cakep, stylish, gaul, dan mentel sudah pernah dia pacari! Yang kuper, rajin baca buku? Sebagian besar juga sudah. Malah aku ragu, mungkin semua sudah dia pacarin. Belum termasuk aku, tentunya. Aku sudah tahu se-playboy apa dirinya. Segala akal bulus dia buat ngerayu cewek juga sudah kudengar dari semua teman-temanku yang—sayangnya juga—sudah pernah berpacaran dengannya.
Rata-rata cewek yang pacaran sama dia nggak pernah lebih dari tiga bulan. Yang paling singkat hanya satu minggu lebih! Lihat? Tahu sendiri gimana playboynya dia? Dan sekarang dia ‘nembak’ aku, minta aku jadi cewek dia? Jadi pacar dia? Gila aja kalau aku sampai mau terima. You wish!
Masih kuingat dengan jelas kejadian yang paling memalukan dalam hidupku tadi itu. Kejadian yang benar-benar akan menjadi peristiwa yang mungkin tidak akan pernah terhapus dari ingatanku.
* * *
“Ra, aku mau kamu jadi pacarku. Kamu mau kan? Aku cinta sama kamu, Ra. Aku cinta banget sama kamu, dan aku yakin kamu bener-bener cinta sejati aku. True love aku. Aku yakin cuma kamu satu-satunya cewek yang pasti buat aku bertahan sama satu cewek aja! Aku yakin aku nggak bakal playboy lagi kalau jalan sama kamu. Trust me, will you?”
Pengakuan Brian yang begitu terang-terangan di kelasku tadi saat istirahat benar-benar memalukan! Dia mengatakan kalimat seperti itu begitu dia memasuki kelasku? Ralat, bukan mengatakan. Melainkan meneriakkan! Dia ini beneran juara nggak sih? Sopan santunnya mana? Apa dia nggak tahu apa dampaknya sama aku kalau dia ngomong gitu? Cewek satu sekolahan bakal musuhin aku! Ya, Tuhan, satu sekolahan!
“Gimana, Ra? Kamu mau?” tanyanya sambil menatap kedua mataku dalam dengan posisi berlutut ala pangeran-pangeran dari negeri dongeng.
Aku hanya memandang ke kiri dan kanan, tempat kedua sahabatku duduk. Tapi, tidak ada gunanya. Mereka sedang memandang Brian dengan begitu seriusnya. Serius dalam arti terpesona ngeliat dia—seperti biasanya juga, sebenarnya.
Aku menarik nafas yang dalam sambil memejamkan mata. Kutatap mata Brian tajam setelahnya.
“Aku nggak mau. Kamu kira aku bakal percaya gitu aja sama kamu, setelah kamu pacarin semua cewek yang ada di sekolah kita?”
“Belum semua. Cleaning service belum pernah aku pacarin. Penjaga kantin juga belum. Dan kamu juga belum,” jawabnya lancar dan tenang.
Aku hanya menggeram kesal. Sial!
“Lalu, apa yang bisa buat aku percaya kamu nggak bakal playboy lagi? Nggak ada jaminan untuk itu kan? Kamu selalu bermulut manis sama semua cewek yang kamu pacarin, dan kamu pikir aku juga bakal jadi seperti mereka, percaya rayuan gombal kamu begitu saja? Aku nggak bakal segampang itu percaya sam—“
Oh my God! Di-dia… Dia… nyium aku di depan semua orang! Dasar kurang ajar! Apanya yang juara kelas?! Sopan santun aja nggak tahu! Tata karma dan norma-norma pun dia tak tahu! Di bibir pula itu! Aku berusaha mendorong tubuhnya namun tak berhasil. Tenanganya lebih besar dariku. Wajar sebenarnya, karena dia cowok sedangkan aku cewek.
“Cukupkah itu untuk sebuah bukti?” tanyanya setelah melepas bibirku yang menempel dengan bibirnya selama sekitar dua-tiga detik.
Aku segera mengambil botol minumku, mencuci bibirku sebentar, kemudian membersihkannya dengan tanganku segera.
“Nggak bakal. It will never be! Kamu kira aku bakal percaya hanya dengan kamu… k-kamu… ny-nyi-nyium aku? Mungkin saja semua cewek juga sudah kamu perlakukan begitu, malah mungkin lebih!”
Aku segera berlari keluar kelas, melewatinya begitu saja. Teman-temannya yang berdiri di belakangnya semua terperangah melihatku berlari keluar. So what? Emangnya aku bakal peduli? Aku nggak peduli! Yang aku tahu, sekarang aku harus ke kamar mandi dan segera membersihkan bibirku yang sudah tercemar! Terkena berbagai macam virus dan bakteri!
* * *
Yah, kira-kira begitulah ceritanya. Dan sekarang aku masih berada di salah satu toilet yang ada. Aku malas untuk masuk ke kelas dan menghadapi semua orang.
Aku yakin semuanya akan membicarakanku sekarang. Ke mana pun aku melangkah, orang-orang pasti akan berbisik-bisik di belakangku. Dan kalaupun ada yang lebih parah, cewek-cewek yang sok berlagak model itu pasti akan menghinaku secara terang-terangan. Bagai lampu yang terus terang.
Aku segera berjalan menyusuri lorong sekolah dan melangkahkan kakiku ke arah perpustakaan—tempatku untuk bolos dan bersembunyi, kalau-kalau aku sedang tidak ingin berada di kelas.
Segera aku melangkah ke rak buku cerita. Biarpun memakai bahasa Inggris, aku tetap suka membaca buku cerita di sekolahku ini. Semuanya menarik! Aku segera duduk di tempat biasa, tempat yang agak tersudut, dekat dengan jendela yang menghadap ke lapangan.
Kulihat anak-anak kelas 3 SMA sedang berlari keliling lapangan. Kenapa aku tahu itu kelas 3? Sebab pakaian olahraga kami itu berbeda tiap tingkatannya. Aneh kan? Tapi keren juga sih, hehehe… Yah, itulah sekolahku.
Sekilas Brian terlihat oleh mataku. Dia sedang berlari santai. Wajar sebenarnya mengetahui dia anak yang ikut ekskul sepak bola. Nggak heran dia nggak terlihat begitu lelah seperti yang lainnya. Sebenarnya, kalau kelakuan dia nggak minus, aku rasa aku sendiri mungkin bisa jatuh hati juga padanya, as all my friends do. Tapi sayang, dia terlanjur mendapat “nilai minus” itu dariku.
Brian terlihat tersenyum ke arahku. Dia memandangku dan tersenyum dengan lembut. Tangannya sedikit melambai padaku tadi. Aku segera duduk agak menjauh dari jendela. Takut cewek-cewek lain yang mungkin juga sedang memperhatikan Brian akan melihatku. Aku bisa mampus!
Dasar cowok gila! Tapi, apa bener dia cinta sama aku?
Sejujur-jujurnya, aku juga suka sama dia. Suka, bukan cinta. Atau mungkin lebih tepatnya belum. Mungkin karena aku tidak begitu dekat dengannya. Aku belum begitu mengenal dirinya.
Aku kembali sibuk dengan buku cerita yang ada di tanganku sekarang ini. Namun, tidak ada gunanya. Entah kenapa, terus terbayang senyum lembut yang tadi kuterima dari Brian. Aku segera menggeleng-geleng kepalaku. Cleora, jangan mudah percaya! Sudah banyak cewek yang jatuh ke pelukannya. Kamu jangan mau jadi seperti mereka semua!
Berkali-kali aku menasehati diriku sendiri. Dan berusaha kembali membaca buku yang tadi kuambil. Namun, bayang senyumannya tak juga mau menghilang dari pikiranku. Iiih… jangan-jangan dia sampai pake pelet hanya karena aku nggak mau terima dia, ya? Tapi, nggak mungkin. Kalau memang iya, berarti itu juga udah merupakan salah satu alasan kuat aku nggak bakal menerimanya.
* * *
Seminggu sudah berlalu sejak kejadian memalukan itu. Namun, tidak ada tanda-tanda Brian akan menyerah untuk berusaha memacariku. Sebelum bel pertama berbunyi, bahkan sebelum aku datang, dia selalu sudah duduk menunggu di mejaku. Tentu saja, teman-teman sekelasku tidak ada yang mengusirnya. Mana mungkin ada yang mau! Bagi mereka, itu karunia di pagi hari. Pagi-pagi sudah dapat melihat Brian. But, not for me.
Setiap istirahat dia juga selalu mampir ke kelasku. Entah hanya untuk mengajakku ke kantin, atau menawariku jasanya. Maksudku dia mau mengajariku pelajaran-pelajaran yang tak kumengerti. Untuk yang satu ini aku tidak menolak. Sia-sia banget kalau ditolak! Ilmu itu berguna banget, tahu!
Terkadang, kalau aku ingin pergi ke toilet—tentu saja itu hanya alasanku untuk menghindarinya—Brian pasti memaksa ingin ikut. Tapi, dia hanya akan menungguku di depan toilet sambil bersandar di dinding. Pernah sekali langkah kakiku terhenti saat akan keluar toilet karena melihatnya sekilas. Jujur, saat itu jantungku benar-benar berdebar kencang. Dia terlihat begitu tampan saat dia bersandar di dinding dengan kedua tangannya berada di dalam saku celanaya. Biarpun sudah banyak kulihat gaya-gaya model seperti itu di majalah, tapi tetap saja ada yang kurasa berbeda pada dirinya. Entah apa itu.
Setiap pulang sekolah, dia juga selalu menawarkan diri untuk mengantarku pulang dengan motornya. Maklum, aku memang pulang sekolah naik angkot. Rumahku tidak berada begitu jauh dari rumah.
Once, aku merasa begitu sial. Tidak ada satupun angkot yang lewat. Bayangkan! Satu pun tak ada! Brian yang, as always, selalu menunggu sampai aku benar-benar naik ke dalam angkot, masih menungguiku. Tapi, tetap saja tidak ada angkot yang lewat. Aku benar-benar heran. Nggak mungkin nggak ada yang lewat! Pasti ada yang aneh! Mungkinkah ada kecelakaan yang menghambat jalan menuju sekolahku? Argh… Sial!
Saat aku memutuskan untuk berjalan kaki untuk pulang, Brian segera menarik tanganku, menahanku pergi.
“Aku antar kamu pulang. Bahaya kalau cewek secantik dan semanis kamu pulang sendiri.”
Terang saja aku menolak. Ogah! Gengsi! Tapi, dia tetap memaksa. Bahkan ketika aku tetap ngotot dengan niatku, dia tetap mengikutiku. Dia mengendarai motornya begitu pelan sehingga bisa mengimbangi langkahku. Segera saja lebih kupelankan lagi langkahku, agar motornya jadi berjalan lebih cepat ke depan sana. Namun, gagal. Ideku tak berjalan lancar. Dia malah mematikan mesin motornya dan turun dari motornya. Dia berdiri di sebelah motornya dan berjalan sambil mendorong motornya agar bisa mengimbangi langkahku.
Terus terang saja, aku—as a girl—pasti senang sekali ada cowok yang begitu demi aku. Tapi, dia itu Brian—playboy berat! I can’t fall in love with him! I can’t. Nggak boleh!
Sampai tengah jalan, kulihat dia terlihat begitu kelelahan. Wajar memang, sebab dia berjalan sambil mendorong motornya. Belum lagi ditambah teriknya matahari yang saat ini nggak bisa diajak kompromi. Sampai tengah jalan, aku sengaja singgah ke warteg-warteg yang ada di pinggir jalan. Setidaknya agar dia bisa beristirahat dulu. Minum, makan, atau apa kek. Terserah. Bahkan biar dia duduk semeja denganku, aku tak peduli. Aku tak berbicara padanya sama sekali. Aku ke sini hanya agar dia bisa beristirahat sejenak.
Ketika kulihat lelahnya sudah mulai hilang, aku segera berdiri dan menunggunya di motornya.
“Ayo cepat! Aku mau pulang!” seruku tak sabaran karena dia hanya berdiri bengong sekitar setengah meter dari motornya. Aku begini sebenarnya biar dia nggak kelelahan lagi. Kalau nggak, bisa-bisa anak orang pingsan sampai rumah.
“Rumah kamu di mana?” tanyanya yang sekarang sudah duduk di motornya—dihadapanku.
Kujelaskan dimana letak rumahku secara rinci. Dia segera mengangguk dan menarik kedua tanganku, melingkarkan tanganku ke tubuhnya. Saat aku berusaha melepas tanganku, dia malah menahannya dengan sebelah tangan. Sial! Mentang-mentang cowok, jadi bisa seenaknya karena tenaganya lebih gede. Curang!
“Kalau kamu nggak pegangan, aku nggak jamin kamu selamat sampai rumah. Jangan kamu kira aku nggak bakal ngebut, Ra. Itu bukan aku banget. Aku bukan tiep cowok yang tahan melaju pelan pakai motor.”
Biarpun dia memakai helm dan kata-katanya tidak begitu keras, aku masih bisa mendengarnya. Karena wajahku berada tepat di belakangnya, di punggungnya.
Segera dia hidupkan motornya dan melaju kencang. Cepat banget, batinku. Jantungku sampai deg-degan. Karena takut tentunya. Mana mungkin karena aku sedang memeluk tubuhnya. Tubuhnya begitu bidang. Tapi aku yakin, aku bukan cewek pertama yang diboncenginya pulang. Jadi, aku juga bukan cewek pertama yang memeluk tubuhnya saat naik motor seperti ini kan? Rugi banget kalau aku berdebar-debar hanya karena “memeluknya” seperti ini. Remember, I’m not the first one.
Begitu sampai di depan rumahku, aku segera turun dari motornya. Air mataku sudah ada di pelupuk mataku, hanya saja belum mengalir jatuh menuruni kedua pipiku. Gila! Dia benar-benar gila! He’s out of his mind! Ngebutnya nggak tanggung-tanggung. Apa dia nggak tahu yang sedang berada di belakangnya itu seorang cewek, perempuan, gadis, wanita, lady? Segera kuusap kedua mataku.
“Lho, kamu kok nangis, sih, Ra?” tanyanya panik.
Dengan cepat kuusap air mataku. Aku tak ingin dia melihatku dalam keadaan begini. Tapi, air mataku tak bisa diajak kompromi. Air mataku malah mengalir tambah derasnya.
“Kamu gila, ya? Kamu sadar nggak, sih, kalau kamu tadi ngebutnya sudah kayak orang gila! Orang yang sudah nggak waras! Kamu sadar nggak yang tadi ada di belakang kamu itu seorang cewek! Kamu nggak mikir ya, Yan?”
Amarahku keluar semua. Kumaki-maki dia terus. Sampai akhirnya aku tak bisa lagi melanjutkan kalimat-kalimatku. Dia menghentikan. Dengan cara yang paling ampuh di dunia, yang bahkan tak terlintas di pikiranku. Dia menciumku! Lagi!
Setelah kira-kira lima detik hampir terlewati, baru dia memisahkan bibirku dan bibirnya. Segera kutampar pipinya. Namun, aku rasa tidak akan begitu terasa sakit baginya, aku yakin. Sebab, tenagaku tiba-tiba melayang entah kemana semua.
“Aku belum gila, Ra. Aku tahu yang duduk di belakang aku itu seorang cewek. Seorang cewek yang aku sayangi, aku cintai.”
Aku hanya memalingkan wajahku. Diam menyelimuti kami untuk beberapa lama. Sadar tak ada yang akan pergi sebelum salah satu dari kami bergerak, aku segera berbalik dan masuk ke rumahku. Kutinggalkan dia yang masih saja menatap ke arah pintu rumahku. Aku tak peduli. Aku tak mau lagi peduli padanya. Never.
* * *
Beberapa hari sejak kejadian itu, dia tak lagi mendatangiku. Sepertinya dia sudah menyerah.
“Baguslah,” gumamku pelan. Tapi, entah mengapa, aku merasa ada perasaan aneh yang menghampiri hatiku. Ada sedikit perasaan tak rela dan kehilangan. Tapi, tak kuambil pusing. Lama-lama juga pasti akan hilang sendiri.
Aku jalani hari-hariku seperti biasa. Seperti saat dia belum masuk ke dalam kehidupanku. Tapi, perasaan kehilangan itu masih tetap ada. Ke mana pun kakiku melangkah, kenangan antara aku dan dia tetap ada. Di kantin, di toilet, di perpustakaan. Seolah-olah dia membayangi langkahku ke mana pun kakiku hendak melangkah.
Aku berusaha untuk tetap menjalani semuanya seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara kami. Hari ini, aku bolos lagi. Kakiku membawaku ke perpustakaan, mengambil buku yang dulu belum sempat selesai kubaca dan duduk di tempat yang biasa. Tempat di mana Brian untuk pertama kalinya tersenyum padaku. Tersenyum dengan begitu lembut.
Tanpa sadar, setetes air mataku menuruni sebelah pipiku yang kemudian mulai membanjiri kedua pipiku. Tangisku tak mau berhenti, meski seberapa keras pun aku berusaha untuk menghentikannya.
Apa? Apa yang salah denganku? Apa yang terjadi padaku? Apa aku sudah jatuh cinta padanya? Apa aku sudah terlanjur memberikan hatiku ini padanya?
Segera kusingkirkan buku yang ada di tanganku, karena takut akan segera basah oleh air mataku yang tak henti-hentinya mengalir. Untung saja saat ini perpustakaan sedang sepi, ditambah lagi tempat kududuki begitu tersudut. Segera kutumpahkan semua air mataku yang berteriak ingin keluar.
Begitu kudengar ada langkah yang mulai mendekati tempatku sekarang, aku segera berusaha menghentikan tangisku. Segera kulap kedua pipiku yang begitu basah.
“B-Br-Brian?” gumamku tak percaya. Dia? Seorang Brian datang ke perpustakaan? Saat jam pelajaran pula.
“Wajah kamu memang tetap cantik walaupun kamu sedang menangis, Ra, tapi senyum kamu tetap yang paling indah. Please, Ra. Jangan nangis lagi. Aku nggak tahan ngeliat kamu nangis, Ra. Aku juga menderita kalau melihat kamu nangis.”
Kalimat-kalimat itu sukses membuatku membelalakan mataku. Siapa yang tidak akan kaget mendengarnya? Kalimat romantis gitu? Tapi, gengsiku sepertinya begitu tinggi.
“Ya sudah, pergi aja biar kamu nggak ngeliat aku nangis,” jawabku ketus.
“Nggak ada gunanya, Ra. Di mana pun aku berada, kalau kamu lagi menangis, aku pasti menderita juga. Anytime. Anywhere.”
“Gombal.”
“Terserah kamu mau percaya atau nggak. Setidaknya, aku sudah selalu berusaha untuk jujur di depan kamu, Ra. Hanya di depan kamu. Aku belum pernah kayak gini sama cewek lain sebelumnya, Ra. Baru sama kamu seorang, dan aku rasa hanya akan begini sama kamu. I’ve told you. You ARE my true love.”
Tangis kembali mendatangi diriku. Kenapa aku jadi cengeng begini, sih? Apa yang salah denganku? Apa ada masalah dengan kelenjar air mataku? Sepertinya aku harus segera check-up.
“Kamu kenapa nangis, sih, Ra? Cerita sama aku, barangkali tangis kamu bakal berhenti.” Brian sudah duduk di sebelahku dan mengusap sebelah pipiku dengan ibu jarinya. Tangisku semakin menjadi.
“Ak-aku juga ng-nggak tahu, Yan. Se-sejak sejak kamu nggak pernah ngedatengin aku lagi, ada perasaan kehilangan di hati aku. Aku pikir lama-lama perasaan itu bakal menghilang bgitu saja, tapi sampai sekarang perasaan itu nggak hilang-hilang juga,” jelasku panjang lebar sambil menangis.
Samar-samar kulihat sebuah senyum dari bibir Brian. Anak ini benar-benar nggak waras! Orang lagi nangis begini malah senyum?
“Itu masalah yang simpel banget, Ra. Itu tandanya kamu sayang sama aku, kamu cinta sama aku. Kamu nggak bisa jauh-jauh dari aku. Semua perasaan kamu itu sama kayak perasaan aku ke kamu.” Dia membelai kepalaku pelan.
“Tapi, kamu pasti bakal mainin aku juga seperti cewek-cewek kamu semua. Kamu nggak serius sama aku. Kamu Cuma mau mainin aku. Kamu—”
“Kamu salah besar, Ra. Aku cinta sama kamu. Aku bener-bener cinta sama kamu. Sudah lama banget! Cuma, susah nyari info tentang kamu, Ra. Aku usaha keras banget cuma buat nyari tahu di mana kelas kamu.”
Aku hanya bisa melongo. Tak kusangka dia berbuat begitu. Tapi, aku melarang hatiku untuk percaya begitu saja padanya. Dan, seolah dapat membaca pikiranku, dia menjawab,
“Sebenarnya ceritanya panjang banget, tapi aku rasa kalau aku nggak cerita semuanya kamu nggak bakal percaya sama aku, ya kan?”
Aku segera mengangguk pelan. Dia menarik nafas panjang, mengubah posisi duduknya menghadap meja, dan mulai bercerita.
“Pertama kali aku ngeliat kamu itu di perpus ini juga, di tempat kamu duduk sekarang ini. Aku disuruh Pak Sinaga ngambil buku. Saat itu kamu lagi tidur, dan aku datang. Pertama kali ngeliat, aku langsung kaget sama penglihatanku. ‘Gila! Malaikat dari mana yang datang?’ begitu pikirku. Tapi, setelahnya aku sadar. Mungkin itu hanya efek dari sinar matahari dari arah jendela, makanya kamu bisa kelihatan begitu bercahaya di mataku. Tapi, setelah aku datang berkali-kali, bahkan di saat sinar matahari nggak mengenai kamu, kamu benar-benar terlihat seperti seorang bidadari di mataku. Sejak saat itu, sebisa mungkin aku cari info tentang kamu. Kamu kelas berapa, nama kamu, dan lain sebagainya. Sering aku datang ke perpus, ke tempat ini, karena aku pikir aku mungkin bisa ketemu sama kamu, tapi kamu nggak pernah ada. Aku putus asa banget, padahal aku pikir aku bisa kenal kamu lebih jauh kalau aku bisa ketemu sama kamu. Akhirnya, setelah usaha keras aku selama seminggu lebih, aku dapet info yang aku mau. Nama kamu, kelas kamu, kamu tuh orangnya gimana aja, dan aku sadar. Kamu nggak seperti cewek-cewek yang lain, yang aku pacarin selama ini. Kamu berbeda sama mereka. Aku sendiri nggak tahu apa yang beda, tapi ada sesuatu yang berbeda dalam diri kamu.”
Dia berhenti sejenak. Mengambil nafas dan menundukkan sedikit kepalanya. Kemudian, dia kembali melanjutkan ceritanya.
“Setelah agak lama, aku beraniin diri nembak kamu, walaupun aku yakin, kemungkinan besar, kamu nggak mungkin mau nerima aku. Tapi, aku tetep nekad, dan ternyata dugaan aku nggak salah. Well, aku minta maaf soal kesan pertama yang kamu dapet dari aku—“ aku menatapnya bingung, tak mengerti maksud kesan pertamanya yang mana, “—yang aku, aku nyium kamu waktu itu.”
Aku menunduk, malu. Tapi, sudah dua kali dia melakukan hal itu padaku. Tentu saja aku kesal berat padanya kan? Itu hal yang sangat wajar.
“Aku minta maaf, Ra. Maaf banget! Yang pertama kali itu karena aku sudah nggak tahan banget ngeliat kamu di depan aku terus. Kamu nggak pernah ada di depan aku selama itu sebelumnya, juga sebagai bukti yang kamu minta. Dan, akhirnya aku nggak berhasil nahan diri aku untuk nyium cewek yang aku cintai banget. Yang kedua karena aku bener-bener nggak tahan ngeliat kamu nangis, Ra. Seperti yang aku bilang tadi. Kamu mau maafin aku kan?”
Setelah menimbang-nimbang, aku mengangguk kecil. Entah apa yang mendorong kepalaku untuk mengangguk saat itu. Aku sendiri pun tak mengerti. Akhir-akhir ini tubuhku tidak pernah mau mendengarkan perintahku.
“Makasih banget, Ra. Aku nggak mau kamu benci sama aku. Ngeliat kamu nangis emang buat aku menderita, Ra. Tapi, kalau melihat kamu yang benci sama aku, aku lebih baik mati, Ra. Aku nggak sanggup.”
Oh my Gott! Itu kalimat paling romantis yang pernah aku terima dalam hidupku! In my whole life!
“So, gimana, Ra? Kamu mau nerima aku? Nerima cinta aku ke kamu?” tanyanya yang sudah membetulkan letak duduknya dan menghadap ke arahku. Dia menatap langsung kedua mataku. Saat aku mau memalingkan wajah, dia segera menahannya dengan sebelah tangan.
“Kalau kamu bener-bener nggak mau jadi pacarku, aku yakin kamu bisa ngejawab itu tanpa memalingkan tatapan mata kamu dari aku.”
Sial! Aku tak bisa apa-apa lagi, sebab tangannya tetap menahan wajahku. Kutatap matanya takut-takut. Biarpun matanya memandangku langsung, matanya tetap terlihat begitu lembut saat menatapku.
“A-ak-aku… aku… ng-nggak b-bi-bisa, Yan. A-aku nggak bis-bisa—“ Brian menaruh jari telunjukknya di bibirku, menyuruhku diam.
Hening.
Diam menyelimuti.
“Alright,” kata Brian dengan begitu putus asa sebelum aku menyelesaikan kalimatku. “Aku juga nggak bisa maksa aku, tapi at least kamu bisa ngebiarin aku tetep berada di dekat kamu kan? Ada di sekitar kamu?”
“Heh! Kalimat aku belum selesai, kamu udah main motong aja! Ya udah!” Aku pura-pura ngembek.
“Lho? Tapi intinya kan kamu nolak aku juga kan?”
“Aku nggak bisa nolak kamu, Yan. Aku sadar, sepertinya kamu udah berhasil ngebuat aku jatuh cinta sama kamu. Tapi, karena kamu udah berasumsi lain, apa daya. Aku cuek aja, deh!” Aku segera berdiri untuk melangkah pergi tapi dia langsung menahanku. Dia meraih pergelangan tanganku dan menarikku duduk ke pangkuannya. Spontan wajahku memerah. Aku duduk di pangkuannya! Wajahnya berada tidak sampai lima senti dariku!
Tanpa ba-bi-bu lagi, dia langsung menciumku! Ugh! Biarpun aku cinta sama dia, bukan berarti dia boleh selalu nyium aku sesuka hati dia, kan?!
Tangannya yang lebar memelukku dengan begitu erat. Takut-takut tanganku juga meluk dia. Aku bener-bener pengen meluk dia, sejak aku naik motor dia. Badannya sungguh bidang.
Bukannya merenggangkan pelukannya, eh… dia malah semakin menguatkannya. Bisa-bisa tulangku remuk, nih!
Lima detik sudah berlalu. Tapi, dia belum melepaskan bibirku. Barulah setelah sekitar delapan detik terlewati, dia melepaskan bibirku dari bibirnya. Sekilas kulihat wajahnya yang memerah, tapi dia segera menutupinya dengan memelukku, sehingga aku tak bisa melihat wajahnya yang kini bertengger di bahuku.
“Sorry, tapi aku bener-bener nggak bisa nahan diri,” ucapnya pelan di telingaku. Aku hanya tersenyum kecil mendengarnya.
Biarpun kesal, aku tetap tak bisa marah padanya. Ternyata pepatah itu selalu benar. Kalau udah jatuh cinta, waktu paling lama untuk kita marah sama orang yang kita cintai cuman satu menit! Nggak lebih!
Well, setidaknya aku sudah menemukan cintaku. Sekarang aku benar-benar bahagia. Hei, tahukah kalian arti dari sebuah kebahagiaan? Aku pernah membacanya dari sebuah buku. Kebahagiaan itu adalah pertemuan dua hati yang saling mencintai. Dan, sekarang ‘kebahagiaan’ itu sudah kutemukan. Bahkan, mungkin kebahagiaanku ini melebih semua cewek-cewek yang pernah dipacarinya. No doubt about it!
CINta dalam hati
Sore itu berjuta tetes air dari langit mulai turun membasahi dedaunan yang tumbuh dan tertata rapi di belakang rumah Sarah dan menyuarakan percikan air di kolam ikan miliknya. Tampak seorang gadis sedang duduk melamun menikmati saat hujan itu, seakan terpaku mengenang masa yang telah lalu.
“Heh, melamun saja? Ini minumnya,” suara Sarah membuyarkan lamunan Fuchi.
“Ehm, terima kasih minumnya.”
“Ngelamunin apaan sih kamu? Serius sekali,” tanya Sarah penasaran.
“Saat hujan begini aku jadi ingat sama…” jawaban Fuchi terputus oleh Sarah.
“Ooh, iya iya aku mengerti. Pasti kamu ingat dengan Alan kan!” tebak Sarah.
“Hm, iya. Kok kamu tahu?”
“Ya, jelas tahu lah. Waktu itu dia pergi saat hujan seperti ini. Dan kamu bela-belain naik sepeda dari rumahmu ke terminal hanya demi melihat dia untuk yang terakhir kalinya. Karena kamu tahu dia akan pergi dan tidak akan kembali lagi. Bahkan sudah setahun pun dia pergi kamu masih saja mengingat-ingat dia, dan kamu yakin kalau dia akan kembali lagi ke sini. Padahal kenyataannya, mana, sampai saat ini pun dia tidak kembali. Iya kan!” jelas Sarah.
“Wah, kamu hebat. Aku tidak menyangka kamu masih ingat apa yang pernah aku ceritakan tentang Alan ke kamu. Eh, tapi, siapa bilang kalau Alan tidak akan kembali?! Aku yakin dia pasti ke sini. Yah, mungkin belum waktunya saja,” kata Fuchi sambil tersenyum menutupi kesedihannya.
“Aduh, sudah lah Chi. Kamu tidak perlu meyakinkan diri kamu seperti itu. Aku hanya tidak mau kamu kecewa nantinya,” kata Sarah mengungkapkan rasa simpatinya.
“Iya, terima kasih sudah mau peduli sama aku. Tapi, pokoknya aku akan tetap menunggu dia, titik!” tegas Fuchi.
“Tapi Chi, kan kamu sendiri yang pernah bilang, kalau selama dia jadi tetanggamu dulu, tidak pernah sedikit pun dia menyapa kamu atau mengajak bicara walau hanya sekedar basa-basi. Tidak pernah kan? Kamu juga bilang kalau dia angkuh dan sombong. Kenapa kamu bisa seyakin itu?” kata Sarah dengan perlahan.
“Kamu tidak tahu Sarah. Aku merasakan sesuatu yang beda dari cara dia melihat aku dan tingkah laku dia sama aku, saat dia tahu kalau aku ngelihatin dari jauh, dia seperti cari perhatian gitu sama aku,” ungkap Fuchi dengan sedih mengingat Alan.
“Ya sudah dong, kamu jangan sedih terus. Begini Chi, aku itu cuma nggak mau kamu terus memikirkan dia, kamu cuma buang-buang waktu untuk memikirkan hal yang nggak pasti gini.”
“Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan terlalu larut memikirkan dia kok,” kata Fuchi sambil menghapus air matanya dan mulai mengembangkan senyum di pipinya.
Sarah menganggukkan kepala, mengiyakan kata-kata Fuchi sambil tersenyum. Mereka lalu berpelukan, di tengah suara gemericik air hujan sore itu.
Dalam hati Fuchi, sebenarnya dia takut kalau ternyata Alan tidak akan pernah kembali. Tapi, entah kenapa feelling Fuchi tentang Alan sangat kuat.
Sarah pernah mencoba untuk mencarikan seseorang yang bisa menggantikan posisi Alan di hati Fuchi, supaya Fuchi tidak terus-terusan sedih memikirkan Alan. Namun, rencana Sarah tidak berhasil, setiap teman Sarah yang dikenalkannya pada Fuchi selalu di tanggapi dengan dingin oleh Fuchi. Jadi, tidak ada seorang pun yang berani mendekati Fuchi.
“Rah, kenapa sih kamu banyak ngenalin teman-teman kamu ke aku, cowok semua lagi,” tanya Fuchi dengan penasaran di sela-sela pelajaran Ekonomi waktu itu.
“Ehm… tidak apa-apa sih. Yah, supaya kamu tidak bete saja memikirkan si Alan yang tidak jelas itu,” jawab Sarah sedikit berbisik.
“Siapa juga yang bete, biasa aja kali. Sudah lah, usaha kamu tidak akan mempan. Hati aku cuma terbuka buat Alan seorang,” jawab Fuchi dengan tersenyum.
“Ih, kamu kok seperti itu. Nanti kalau sampai tua kamu tidak ketemu sama dia, jadi perawan tua baru tahu rasa.”
“Bodo’,” jawab Fuchi enteng.
“Iih, bodo-bodo. Aku sumpahin jadi perawan tua beneran kamu! Biar sampai ubanan kamu nggak dapat jodoh sekalian. Hiii.. pasti lucu,” ucap Sarah sambil tertawa kecil.
“Yeee… kamu kali yang jadi perawan tua. Buktinya, sampai sekarang pun kamu juga belum punya pacar. Pasti sampai muka kamu keriput pun belum punya pacar juga. Hiiii,” ejek Fuchi.
“Enak saja kamu.”
“Ssst…” Terdengar suara itu dari salah seorang siswa yang merasa terganggu dengan pembicaraan Fuchi dan Sarah. Membuat Sarah dan Fuchi menghentikan pembicaraan mereka. Dan ruang kelas pun kembali hening.
Suatu hari sempat terbesit di benak Fuchi, kenapa dia begitu yakin kalau Alan akan kembali. Padahal dia tahu tidak ada alasan untuk Alan kembali ke Jogja tempat tinggal Fuchi. Di Jogja Alan tidak punya sanak saudara, dia hanya nge-kost di dekat rumah Fuchi, di Jogja dia hanya untuk bekerja. Dia bekerja di counter dekat rumah Fuchi.
Oleh karena itu, setiap hari Fuchi selalu bisa bertemu dengan Alan. Dia terbiasa melihat tingkah laku Alan yang lucu walaupun sedikit sombong. Tetapi, sekarang sosok itu sudah tidak hadir di setiap hari-harinya. Dia meyakini sesuatu dalam diri Alan, dia melihat ada sesuatu yang terpendam dalam diri Alan, dia juga melihat ada cinta di hati Alan yang masih tertutup oleh api keangkuhan dan kesombongannya. Yah, dia berharap suatu hari bisa bertemu dengan Alan dan bisa mengungkapkan perasaanya dengan Alan.
Namun, dari hari ke hari, bulan ke bulan, lama-lama Fuchi lelah menunggu seseorang yang tidak pasti, dia ingin berusaha melupakan Alan. Namun, selalu saja hati kecilnya berkata kalau suatu hari nanti Alan pasti datang. Dia bingung, antara kata hatinya atau kata-kata Sarah. Dalam hatinya dia berkata,
Mungkin benar kata Sarah, kalau Alan tidak akan pernah ke sini. Mungkin juga dia malah sudah lupa sama aku. Aku hanya buang-buang waktu saja, selama setahun ini aku hanya menunggu orang yang tidak pasti, toh dia juga belum tentu memikirkan aku. Huh, kenapa aku aneh sih, lebih baik aku tidak usah berharap dia akan ke sini.
Mungkin mulai saat ini aku harus berhenti berharap, belum tentu juga dia memikirkan aku seperti aku memikirkan dia, pikir Fuchi melepaskan harapannya bertemu dengan Alan.
Beberapa hari setelah dia mengatakan melepaskan semua harapannya untuk bertemu Alan tak disangka tak dinyana, ketika dia pulang sekolah dan melewati depan counter bekas tempat kerja Alan, dia melihat sosok seperti Alan ada di sana.
“Ya ampun. Apa aku salah lihat ya. Kok, di counter tadi seperti ada Alan? Ah, tapi mana mungkin,” gumam Fuchi dan seketika menghentikan sepedanya.
”Masa aku harus ke sana lagi untuk memastikan kalau itu Alan atau bukan! Ah, nanti sore saja aku kembali ke sana,” pikir Fuchi.
Sore harinya Fuchi pura-pura lewat depan counter untuk memastikan sosok itu Alan atau bukan. Dia lalu mengeluarkan sepeda dari garasi rumahnya. Ketika dia belum beberapa jauh menaiki sepedanya, dari jauh dia melihat ada seorang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Seseorang itu mirip sekali dengan Alan. Setelah mendekat dan semakin mendekat, ternyata orang itu memang Alan. Ketika berpapasan, Fuchi sedikit tersenyum ragu karena takut tidak dibalas oleh Alan, tetapi Alan malah tersenyum sangat ramah sekali. Bahkan menurut Fuchi, itu adalah senyum terindah yang pernah diberikan oleh Alan kepada Fuchi.
Betapa senangnya hati Fuchi saat itu, harapannya tercapai, doanya terkabul dan penantiannya selama setahun lebih tidak sia-sia. Apalagi Alan mau tersenyum kepada Fuchi.
Kejadian itu lalu diceritakan kepada Sarah waktu di sekolah. Fuchi ingin sekali membuktikan bahwa penantiannya selama ini tidak sia-sia.
“Pagi Sarah!” teriak Fuchi menyapa Sarah ketika memasuki kelasnya.
“Pa…pagi,” jawab Sarah dengan terbata karena heran melihat tingkah laku Fuchi yang tidak seperti biasanya.
“Kamu tidak apa-apa kan! Kesambet setan apa kamu, tidak biasanya aku lihat kamu ceria dan senyum-senyum tidak jelas begini,” tanya Sarah penasaran sambil menempelkan punggung tangannya ke pipi dan kening Fuchi.
“Ih, apaan sih kamu. Aku sehat-sehat aja kali. Eh, tahu tidak! coba tebak kemarin aku habis ketemu sama siapa?”
“Memangnya kamu habis ketemu sama siapa? Kelihatannya senang sekali,” tanya Sarah penasaran.
“Kemarin aku ketemu sama Alan.”
“Hah…Alan?! Ah, kamu pasti bercanda kan!” kata Sarah ragu.
“Aku benar-benar ketemu sama dia. Dia ada kost-kostannya dulu. Bahkan, dia mau senyum sama aku. Aku seneng banget.”
“Wah, bagus dong. Ternyata aku salah, aku kira dia tidak akan kembali ke sini. Ini kesempatan kamu buat PDKT sama dia.”
“Iya, ini kesempatan aku buat PDKT sama dia. Dan aku tidak mau buang-buang waktu, mungkin saja dia di sini cuma sebentar.”
“Iya, jangan sampai kamu kehilangan dia lagi. Pokoknya aku akan dukung kamu, kalau kamu butuh saran beritahu aku, aku pasti akan bantu. Lagi pula dia sudah mau senyum sama kamu, itu awal yang baik, tinggal kamu sering menyapa dia dan sering ajak ngobrol. Oke?” kata Sarah yang ikut senang dan mendukung usaha Fuchi untuk PDKT sama Alan.
“Oke,” jawab Fuchi seakan siap untuk bertempur.
Hari demi hari Fuchi semakin sering berbicara dengan Alan, mareka jadi semakin dekat dan akrab. Fuchi tidak melihat sosok yang angkuh dan sombong dari Alan. Malah dia melihat sosok yang ramah, lucu dan baik.
Ternyata Alan di Jogja hanya seminggu, katanya ada urusan yang belum diselesaikannya.
“Memangnya ada urusan apa Lan? Sepertinya penting sekali. Yah, kalau aku boleh tahu,” tanya Fuchi penasaran saat jalan kaki sepulang sekolah yang tanpa sengaja bertemu dengan Alan.
“Yah, ada lah pokoknya. Mungkin nanti kamu juga tahu,” jawab Alan yang masih membuat Fuchi penasaran.
“Ooh.. Eh, iya. Kamu pulangnya kapan?
“Mungkin dua hari lagi. Kenapa? Takut ya, kalau aku pergi?”
“Ih, apaan sih,” kata Fuchi dengan pipi yang memerah tersipu malu.
“Oh, iya. Sebelum aku pulang, mau nggak kita main ke taman kota?” ajak Alan, yang tak pernah terduga sebelumnya oleh Fuchi.
“Hah… Ke taman berdua sama kamu?” kata Fuchi tercengang.
“Iya, berdua. Kenapa memangnya? Tidak mau ya!”
“Ehm, tidak. Aku mau. Eh, tapi lihat nanti ya!” jawab Fuchi dengan terbata dan sedikit malu.
“Oke.”
Fuchi senang sekali saat itu, dia tidak pernah mengira kalau Alan mau mengajaknya pergi berdua. Mendengar hal itu, Sarah menduga kalau Alan ingin menungkapkan cintanya kepada Fuchi, tetapi Fuchi tak yakin. Mana mungkin dalam waktu kurang dari seminggu Alan langsung suka sama aku, pikir Fuchi.
Sore itu hujan rintik-rintik, namun tak menyurutkan niat Fuchi untuk bertemu dengan Alan di taman kota yang telah dijanjikan oleh Alan.
“Chi, hujan itu. Kamu masih mau pergi juga?” tanya Sarah waktu menemani Fuchi di kamar memilih pakaian yang bagus utnuk pertemuan nanti.
“Ya jadi lah. Masa cuma gara-gara hujan tidak jadi pergi. Kan kasihan Alan sudah menunggu,” jawab Fuchi sambil menyisir rambutnya.
“Alah, aku tahu kamu pasti berharap dia mau katakan cinta untuk kamu. Iya kan!”
“Ya nggak lah. Dia mau katakan cinta atau tidak, tidak jadi masalah buat aku. Kalau pun dia tidak suka sama aku, ya tidak apa-apa, yang penting untuk saat ini sudah bisa jadi temannya saja aku sudah seneng banget.”
“Ooh, gitu!
“Ya sudah. Temani aku yuk!” ajak Fuchi.
“Hah…aku ikut?! Ah, malas ah. Masa nanti aku cuma lihat kalian pacaran!”
“Ya ampun siapa juga yang mau pacaran. Nanti kamu nemenin aku sampai Alan datang, habis itu terserah kamu mau pulang atau kemana.”
“Kenapa tidak sama dia saja?”
“Katanya dia mau nunggu di sana. Yah, ikut ya?” pinta Fuchi
“Ya sudah lah.”
Mereka berdua lalu pergi ke taman itu. Setelah sampai di sana, mereka duduk di bangku dekat pohon besar. Kata Alan, dia akan menunggu Fuchi di tempat itu.
“Mana Alan? Katanya menunggu di sini,” tanya Sarah tidak sabar.
“Mungkin masih di jalan. Sabar saja!”
“Nah, itu dia,” seru Sarah sambil menunjuk ke jalan raya.
“Iya. Wah, dia bawa apaan itu?”
‘Ehm, dia bawa boneka itu buat kamu. Cie…Ya sudah ya, aku pulang dulu. Selamat bersenang-senang,” kata Sarah sambil melangkah pergi.
“Ih, apaan sih. Ya sudah sana, hati-hati.”
Dari jauh Alan melambaikan tangan ke arah Fuchi, Fuchi pun membalasnya. Dengan perlahan Alan mencoba menyeberangi jalan yang ramai dan licin karena terguyur hujan.
Tetapi, tiba-tiba ada sebuah truk yang melaju kencang ke arah Alan. Dari jauh Fuchi melihat truk itu, dan dia lalu berteriak,
“Alan awas!” teriak Fuchi.
Namun belum sempat Alan menghindar, truk itu telah menabrak tubuh Alan
“Bruuk… Ciiiit…..! ” Suara rem truk itu mencoba untuk berhenti. Sontak Fuchi pun terkejut lalu berlari menuju jalan raya itu. Sarah pun yang belum jauh dari taman langsung ikut berlari menghampiri Alan.
“Alan…Alan kenapa bisa begini Lan? Kita ke rumah sakit sekarang. Kamu tahan ya, aku panggil ambulan dulu,” kata Fuchi dengan berlinang air mata.
“Tidak perlu, Chi. Aku hanya ingin kamu tahu sesuatu yang selama ini terpendam dalam hati aku,” kata Alan sambil menahan sakit.
“Sudah Alan, kamu tidak usah banyak bicara. Kita ke rumah sakit sekarang.” Fuchi menangis dengan tangan menahan darah yang keluar dari kepala Alan.
“Aku cuma mau bilang kalau aku cinta sama kamu. Aku suka sama kamu sejak aku pertama ketemu kamu. Tapi, aku membohongi perasanku sendiri. Dan aku baru sadar setelah setahun aku pergi, aku kangen sama kamu. Dan aku belain kesini cuma ingin katakan itu. Mungkin aku hanya diberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku dan aku tidak punya kesempatan untuk memiliki kamu. Mungkin ini saat terakhir aku,” ungkap Alan dengan terbata menahan sakit.
“Tidak Alan. Kamu tidak boleh pergi, kita ke rumah sakit sekarang.”
“Sekarang kamu jawab, apa kamu juga cinta sama aku? Jawab sebelum aku benar-benar pergi.”
“Kamu tahu Alan? Aku juga cinta sama kamu. Selama setahun ini aku menunggu kamu, menunggu tanpa kepastian, aku berharap kamu kembali. Ternyata kamu memang kembali, dan kamu juga mencintai aku. Tapi kenapa sekarang kamu mau ninggalin aku lagi. Kamu tidak boleh pergi, kamu harus bisa bertahan Alan.”
“Tidak bisa, aku sudah tidak kuat lagi. Malaikat itu sudah ada di depanku. Maafkan aku, aku harus pergi. Tapi, aku pergi dengan meninggalkan cintaku untuk kamu. Dan ini, kamu simpan boneka ini ya, walaupun berlumur darah. Sekarang aku bisa pergi dengan tenang. Selamat tinggal Fuchi,” kata Alan untuk terakhir kalinya sambil memberikan boneka kepada Fuchi.
“Tidak … Alan… Jangan pergi Alan… Alan…,” teriak Fuchi di tengah-tengah keramaian jalan dan gemericik hujan.
Takdir berkata lain, Alan pun telah pergi meninggalkan Fuchi dengan cinta yang telah diungkapkannya. Tapi cinta Alan terlambat untuk disadari hingga dia meninggalkan cinta dengan hanya sebatas kata-kata bukan suatu pengorbanan atau kasih sayang. Cinta memang ditakdirkan untuk sulit disadari. Bahkan untuk menyadari itu cinta atau bukan, harus dengan perginya seseorang itu, baru terasa betapa rindunya dengan orang yang ternyata kita cintai.
Bagi Fuchi mencintai seseorang tak butuh logika, yang dia butuhkan hanyalah feeling dan hatinya, karena dari situlah yang benar-benar tulus.
“Heh, melamun saja? Ini minumnya,” suara Sarah membuyarkan lamunan Fuchi.
“Ehm, terima kasih minumnya.”
“Ngelamunin apaan sih kamu? Serius sekali,” tanya Sarah penasaran.
“Saat hujan begini aku jadi ingat sama…” jawaban Fuchi terputus oleh Sarah.
“Ooh, iya iya aku mengerti. Pasti kamu ingat dengan Alan kan!” tebak Sarah.
“Hm, iya. Kok kamu tahu?”
“Ya, jelas tahu lah. Waktu itu dia pergi saat hujan seperti ini. Dan kamu bela-belain naik sepeda dari rumahmu ke terminal hanya demi melihat dia untuk yang terakhir kalinya. Karena kamu tahu dia akan pergi dan tidak akan kembali lagi. Bahkan sudah setahun pun dia pergi kamu masih saja mengingat-ingat dia, dan kamu yakin kalau dia akan kembali lagi ke sini. Padahal kenyataannya, mana, sampai saat ini pun dia tidak kembali. Iya kan!” jelas Sarah.
“Wah, kamu hebat. Aku tidak menyangka kamu masih ingat apa yang pernah aku ceritakan tentang Alan ke kamu. Eh, tapi, siapa bilang kalau Alan tidak akan kembali?! Aku yakin dia pasti ke sini. Yah, mungkin belum waktunya saja,” kata Fuchi sambil tersenyum menutupi kesedihannya.
“Aduh, sudah lah Chi. Kamu tidak perlu meyakinkan diri kamu seperti itu. Aku hanya tidak mau kamu kecewa nantinya,” kata Sarah mengungkapkan rasa simpatinya.
“Iya, terima kasih sudah mau peduli sama aku. Tapi, pokoknya aku akan tetap menunggu dia, titik!” tegas Fuchi.
“Tapi Chi, kan kamu sendiri yang pernah bilang, kalau selama dia jadi tetanggamu dulu, tidak pernah sedikit pun dia menyapa kamu atau mengajak bicara walau hanya sekedar basa-basi. Tidak pernah kan? Kamu juga bilang kalau dia angkuh dan sombong. Kenapa kamu bisa seyakin itu?” kata Sarah dengan perlahan.
“Kamu tidak tahu Sarah. Aku merasakan sesuatu yang beda dari cara dia melihat aku dan tingkah laku dia sama aku, saat dia tahu kalau aku ngelihatin dari jauh, dia seperti cari perhatian gitu sama aku,” ungkap Fuchi dengan sedih mengingat Alan.
“Ya sudah dong, kamu jangan sedih terus. Begini Chi, aku itu cuma nggak mau kamu terus memikirkan dia, kamu cuma buang-buang waktu untuk memikirkan hal yang nggak pasti gini.”
“Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan terlalu larut memikirkan dia kok,” kata Fuchi sambil menghapus air matanya dan mulai mengembangkan senyum di pipinya.
Sarah menganggukkan kepala, mengiyakan kata-kata Fuchi sambil tersenyum. Mereka lalu berpelukan, di tengah suara gemericik air hujan sore itu.
Dalam hati Fuchi, sebenarnya dia takut kalau ternyata Alan tidak akan pernah kembali. Tapi, entah kenapa feelling Fuchi tentang Alan sangat kuat.
Sarah pernah mencoba untuk mencarikan seseorang yang bisa menggantikan posisi Alan di hati Fuchi, supaya Fuchi tidak terus-terusan sedih memikirkan Alan. Namun, rencana Sarah tidak berhasil, setiap teman Sarah yang dikenalkannya pada Fuchi selalu di tanggapi dengan dingin oleh Fuchi. Jadi, tidak ada seorang pun yang berani mendekati Fuchi.
“Rah, kenapa sih kamu banyak ngenalin teman-teman kamu ke aku, cowok semua lagi,” tanya Fuchi dengan penasaran di sela-sela pelajaran Ekonomi waktu itu.
“Ehm… tidak apa-apa sih. Yah, supaya kamu tidak bete saja memikirkan si Alan yang tidak jelas itu,” jawab Sarah sedikit berbisik.
“Siapa juga yang bete, biasa aja kali. Sudah lah, usaha kamu tidak akan mempan. Hati aku cuma terbuka buat Alan seorang,” jawab Fuchi dengan tersenyum.
“Ih, kamu kok seperti itu. Nanti kalau sampai tua kamu tidak ketemu sama dia, jadi perawan tua baru tahu rasa.”
“Bodo’,” jawab Fuchi enteng.
“Iih, bodo-bodo. Aku sumpahin jadi perawan tua beneran kamu! Biar sampai ubanan kamu nggak dapat jodoh sekalian. Hiii.. pasti lucu,” ucap Sarah sambil tertawa kecil.
“Yeee… kamu kali yang jadi perawan tua. Buktinya, sampai sekarang pun kamu juga belum punya pacar. Pasti sampai muka kamu keriput pun belum punya pacar juga. Hiiii,” ejek Fuchi.
“Enak saja kamu.”
“Ssst…” Terdengar suara itu dari salah seorang siswa yang merasa terganggu dengan pembicaraan Fuchi dan Sarah. Membuat Sarah dan Fuchi menghentikan pembicaraan mereka. Dan ruang kelas pun kembali hening.
Suatu hari sempat terbesit di benak Fuchi, kenapa dia begitu yakin kalau Alan akan kembali. Padahal dia tahu tidak ada alasan untuk Alan kembali ke Jogja tempat tinggal Fuchi. Di Jogja Alan tidak punya sanak saudara, dia hanya nge-kost di dekat rumah Fuchi, di Jogja dia hanya untuk bekerja. Dia bekerja di counter dekat rumah Fuchi.
Oleh karena itu, setiap hari Fuchi selalu bisa bertemu dengan Alan. Dia terbiasa melihat tingkah laku Alan yang lucu walaupun sedikit sombong. Tetapi, sekarang sosok itu sudah tidak hadir di setiap hari-harinya. Dia meyakini sesuatu dalam diri Alan, dia melihat ada sesuatu yang terpendam dalam diri Alan, dia juga melihat ada cinta di hati Alan yang masih tertutup oleh api keangkuhan dan kesombongannya. Yah, dia berharap suatu hari bisa bertemu dengan Alan dan bisa mengungkapkan perasaanya dengan Alan.
Namun, dari hari ke hari, bulan ke bulan, lama-lama Fuchi lelah menunggu seseorang yang tidak pasti, dia ingin berusaha melupakan Alan. Namun, selalu saja hati kecilnya berkata kalau suatu hari nanti Alan pasti datang. Dia bingung, antara kata hatinya atau kata-kata Sarah. Dalam hatinya dia berkata,
Mungkin benar kata Sarah, kalau Alan tidak akan pernah ke sini. Mungkin juga dia malah sudah lupa sama aku. Aku hanya buang-buang waktu saja, selama setahun ini aku hanya menunggu orang yang tidak pasti, toh dia juga belum tentu memikirkan aku. Huh, kenapa aku aneh sih, lebih baik aku tidak usah berharap dia akan ke sini.
Mungkin mulai saat ini aku harus berhenti berharap, belum tentu juga dia memikirkan aku seperti aku memikirkan dia, pikir Fuchi melepaskan harapannya bertemu dengan Alan.
Beberapa hari setelah dia mengatakan melepaskan semua harapannya untuk bertemu Alan tak disangka tak dinyana, ketika dia pulang sekolah dan melewati depan counter bekas tempat kerja Alan, dia melihat sosok seperti Alan ada di sana.
“Ya ampun. Apa aku salah lihat ya. Kok, di counter tadi seperti ada Alan? Ah, tapi mana mungkin,” gumam Fuchi dan seketika menghentikan sepedanya.
”Masa aku harus ke sana lagi untuk memastikan kalau itu Alan atau bukan! Ah, nanti sore saja aku kembali ke sana,” pikir Fuchi.
Sore harinya Fuchi pura-pura lewat depan counter untuk memastikan sosok itu Alan atau bukan. Dia lalu mengeluarkan sepeda dari garasi rumahnya. Ketika dia belum beberapa jauh menaiki sepedanya, dari jauh dia melihat ada seorang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Seseorang itu mirip sekali dengan Alan. Setelah mendekat dan semakin mendekat, ternyata orang itu memang Alan. Ketika berpapasan, Fuchi sedikit tersenyum ragu karena takut tidak dibalas oleh Alan, tetapi Alan malah tersenyum sangat ramah sekali. Bahkan menurut Fuchi, itu adalah senyum terindah yang pernah diberikan oleh Alan kepada Fuchi.
Betapa senangnya hati Fuchi saat itu, harapannya tercapai, doanya terkabul dan penantiannya selama setahun lebih tidak sia-sia. Apalagi Alan mau tersenyum kepada Fuchi.
Kejadian itu lalu diceritakan kepada Sarah waktu di sekolah. Fuchi ingin sekali membuktikan bahwa penantiannya selama ini tidak sia-sia.
“Pagi Sarah!” teriak Fuchi menyapa Sarah ketika memasuki kelasnya.
“Pa…pagi,” jawab Sarah dengan terbata karena heran melihat tingkah laku Fuchi yang tidak seperti biasanya.
“Kamu tidak apa-apa kan! Kesambet setan apa kamu, tidak biasanya aku lihat kamu ceria dan senyum-senyum tidak jelas begini,” tanya Sarah penasaran sambil menempelkan punggung tangannya ke pipi dan kening Fuchi.
“Ih, apaan sih kamu. Aku sehat-sehat aja kali. Eh, tahu tidak! coba tebak kemarin aku habis ketemu sama siapa?”
“Memangnya kamu habis ketemu sama siapa? Kelihatannya senang sekali,” tanya Sarah penasaran.
“Kemarin aku ketemu sama Alan.”
“Hah…Alan?! Ah, kamu pasti bercanda kan!” kata Sarah ragu.
“Aku benar-benar ketemu sama dia. Dia ada kost-kostannya dulu. Bahkan, dia mau senyum sama aku. Aku seneng banget.”
“Wah, bagus dong. Ternyata aku salah, aku kira dia tidak akan kembali ke sini. Ini kesempatan kamu buat PDKT sama dia.”
“Iya, ini kesempatan aku buat PDKT sama dia. Dan aku tidak mau buang-buang waktu, mungkin saja dia di sini cuma sebentar.”
“Iya, jangan sampai kamu kehilangan dia lagi. Pokoknya aku akan dukung kamu, kalau kamu butuh saran beritahu aku, aku pasti akan bantu. Lagi pula dia sudah mau senyum sama kamu, itu awal yang baik, tinggal kamu sering menyapa dia dan sering ajak ngobrol. Oke?” kata Sarah yang ikut senang dan mendukung usaha Fuchi untuk PDKT sama Alan.
“Oke,” jawab Fuchi seakan siap untuk bertempur.
Hari demi hari Fuchi semakin sering berbicara dengan Alan, mareka jadi semakin dekat dan akrab. Fuchi tidak melihat sosok yang angkuh dan sombong dari Alan. Malah dia melihat sosok yang ramah, lucu dan baik.
Ternyata Alan di Jogja hanya seminggu, katanya ada urusan yang belum diselesaikannya.
“Memangnya ada urusan apa Lan? Sepertinya penting sekali. Yah, kalau aku boleh tahu,” tanya Fuchi penasaran saat jalan kaki sepulang sekolah yang tanpa sengaja bertemu dengan Alan.
“Yah, ada lah pokoknya. Mungkin nanti kamu juga tahu,” jawab Alan yang masih membuat Fuchi penasaran.
“Ooh.. Eh, iya. Kamu pulangnya kapan?
“Mungkin dua hari lagi. Kenapa? Takut ya, kalau aku pergi?”
“Ih, apaan sih,” kata Fuchi dengan pipi yang memerah tersipu malu.
“Oh, iya. Sebelum aku pulang, mau nggak kita main ke taman kota?” ajak Alan, yang tak pernah terduga sebelumnya oleh Fuchi.
“Hah… Ke taman berdua sama kamu?” kata Fuchi tercengang.
“Iya, berdua. Kenapa memangnya? Tidak mau ya!”
“Ehm, tidak. Aku mau. Eh, tapi lihat nanti ya!” jawab Fuchi dengan terbata dan sedikit malu.
“Oke.”
Fuchi senang sekali saat itu, dia tidak pernah mengira kalau Alan mau mengajaknya pergi berdua. Mendengar hal itu, Sarah menduga kalau Alan ingin menungkapkan cintanya kepada Fuchi, tetapi Fuchi tak yakin. Mana mungkin dalam waktu kurang dari seminggu Alan langsung suka sama aku, pikir Fuchi.
Sore itu hujan rintik-rintik, namun tak menyurutkan niat Fuchi untuk bertemu dengan Alan di taman kota yang telah dijanjikan oleh Alan.
“Chi, hujan itu. Kamu masih mau pergi juga?” tanya Sarah waktu menemani Fuchi di kamar memilih pakaian yang bagus utnuk pertemuan nanti.
“Ya jadi lah. Masa cuma gara-gara hujan tidak jadi pergi. Kan kasihan Alan sudah menunggu,” jawab Fuchi sambil menyisir rambutnya.
“Alah, aku tahu kamu pasti berharap dia mau katakan cinta untuk kamu. Iya kan!”
“Ya nggak lah. Dia mau katakan cinta atau tidak, tidak jadi masalah buat aku. Kalau pun dia tidak suka sama aku, ya tidak apa-apa, yang penting untuk saat ini sudah bisa jadi temannya saja aku sudah seneng banget.”
“Ooh, gitu!
“Ya sudah. Temani aku yuk!” ajak Fuchi.
“Hah…aku ikut?! Ah, malas ah. Masa nanti aku cuma lihat kalian pacaran!”
“Ya ampun siapa juga yang mau pacaran. Nanti kamu nemenin aku sampai Alan datang, habis itu terserah kamu mau pulang atau kemana.”
“Kenapa tidak sama dia saja?”
“Katanya dia mau nunggu di sana. Yah, ikut ya?” pinta Fuchi
“Ya sudah lah.”
Mereka berdua lalu pergi ke taman itu. Setelah sampai di sana, mereka duduk di bangku dekat pohon besar. Kata Alan, dia akan menunggu Fuchi di tempat itu.
“Mana Alan? Katanya menunggu di sini,” tanya Sarah tidak sabar.
“Mungkin masih di jalan. Sabar saja!”
“Nah, itu dia,” seru Sarah sambil menunjuk ke jalan raya.
“Iya. Wah, dia bawa apaan itu?”
‘Ehm, dia bawa boneka itu buat kamu. Cie…Ya sudah ya, aku pulang dulu. Selamat bersenang-senang,” kata Sarah sambil melangkah pergi.
“Ih, apaan sih. Ya sudah sana, hati-hati.”
Dari jauh Alan melambaikan tangan ke arah Fuchi, Fuchi pun membalasnya. Dengan perlahan Alan mencoba menyeberangi jalan yang ramai dan licin karena terguyur hujan.
Tetapi, tiba-tiba ada sebuah truk yang melaju kencang ke arah Alan. Dari jauh Fuchi melihat truk itu, dan dia lalu berteriak,
“Alan awas!” teriak Fuchi.
Namun belum sempat Alan menghindar, truk itu telah menabrak tubuh Alan
“Bruuk… Ciiiit…..! ” Suara rem truk itu mencoba untuk berhenti. Sontak Fuchi pun terkejut lalu berlari menuju jalan raya itu. Sarah pun yang belum jauh dari taman langsung ikut berlari menghampiri Alan.
“Alan…Alan kenapa bisa begini Lan? Kita ke rumah sakit sekarang. Kamu tahan ya, aku panggil ambulan dulu,” kata Fuchi dengan berlinang air mata.
“Tidak perlu, Chi. Aku hanya ingin kamu tahu sesuatu yang selama ini terpendam dalam hati aku,” kata Alan sambil menahan sakit.
“Sudah Alan, kamu tidak usah banyak bicara. Kita ke rumah sakit sekarang.” Fuchi menangis dengan tangan menahan darah yang keluar dari kepala Alan.
“Aku cuma mau bilang kalau aku cinta sama kamu. Aku suka sama kamu sejak aku pertama ketemu kamu. Tapi, aku membohongi perasanku sendiri. Dan aku baru sadar setelah setahun aku pergi, aku kangen sama kamu. Dan aku belain kesini cuma ingin katakan itu. Mungkin aku hanya diberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku dan aku tidak punya kesempatan untuk memiliki kamu. Mungkin ini saat terakhir aku,” ungkap Alan dengan terbata menahan sakit.
“Tidak Alan. Kamu tidak boleh pergi, kita ke rumah sakit sekarang.”
“Sekarang kamu jawab, apa kamu juga cinta sama aku? Jawab sebelum aku benar-benar pergi.”
“Kamu tahu Alan? Aku juga cinta sama kamu. Selama setahun ini aku menunggu kamu, menunggu tanpa kepastian, aku berharap kamu kembali. Ternyata kamu memang kembali, dan kamu juga mencintai aku. Tapi kenapa sekarang kamu mau ninggalin aku lagi. Kamu tidak boleh pergi, kamu harus bisa bertahan Alan.”
“Tidak bisa, aku sudah tidak kuat lagi. Malaikat itu sudah ada di depanku. Maafkan aku, aku harus pergi. Tapi, aku pergi dengan meninggalkan cintaku untuk kamu. Dan ini, kamu simpan boneka ini ya, walaupun berlumur darah. Sekarang aku bisa pergi dengan tenang. Selamat tinggal Fuchi,” kata Alan untuk terakhir kalinya sambil memberikan boneka kepada Fuchi.
“Tidak … Alan… Jangan pergi Alan… Alan…,” teriak Fuchi di tengah-tengah keramaian jalan dan gemericik hujan.
Takdir berkata lain, Alan pun telah pergi meninggalkan Fuchi dengan cinta yang telah diungkapkannya. Tapi cinta Alan terlambat untuk disadari hingga dia meninggalkan cinta dengan hanya sebatas kata-kata bukan suatu pengorbanan atau kasih sayang. Cinta memang ditakdirkan untuk sulit disadari. Bahkan untuk menyadari itu cinta atau bukan, harus dengan perginya seseorang itu, baru terasa betapa rindunya dengan orang yang ternyata kita cintai.
Bagi Fuchi mencintai seseorang tak butuh logika, yang dia butuhkan hanyalah feeling dan hatinya, karena dari situlah yang benar-benar tulus.
julian
Jakarta, 3 juni 2014 ( 13.00 wib )
“Hay Rayna, apa kabar?”
Itu salam pembuka dari Julian. Ya Tuhan Terima Kasih… Hanya itu yang bisa kuteriakkan dalam hati. Aku tak menyangka bisa bertemu lagi dengan pujaan hati. Aku baru tahu kalau Julian ternyata satu kantor denganku. Walaupun baru satu hari ia masuk kantor, aku sudah menduga hari- hariku selanjutnya bakal bahagia. Tidak masalah beda divisi , yang terpenting aku selalu melihatnya. Aku harus memberitahu kabar bagus ini ke sahabatku tersayang. Siapa lagi kalau bukan Daniel.
Kring… kring…
“Halo Daniel sayang !”
“Hai Ray.”
“Lagi ngapain?”
“Aku mo ketemu klien nanti jam 1.”
“Hmm, klien ya? Cowok apa cewek?” Aku gak mampu menyembunyikan rasa ingin tahu di balik pertanyaanku.
“Cowok. Mang kenapa?” tanya Daniel menantang.
“Yah kok cowok sih, coba cewek. Kalau cewek kan ada kemungkinan dia bisa jadi pacar kamu.”
Untuk ke sekian kalinya Daniel hanya bisa menarik nafas panjang. Selalu begitu reaksinya setiap kali aku menanyakan masalah asmaranya. Daniel dan aku sudah bersahabat semenjak masih kuliah. Sampai detik ini pun aku tidak tahu siapa ratu di hatinya.
“Mengapa , Ray? Kok bengong begitu, ada apa Say?”
“Aku punya kabar bagus nih.”
Daniel mengeluarkan nada “ooo” panjang untuk menimpali pembicaraan.
Lalu seperti sudah diduga, Daniel mulai menanyakan semua hal. Aku bercerita panjang lebar tentang semua hal yang aku alami hari ini. Namun aku sengaja merahasiakan satu topik. Apalagi kalau bukan alasan putus dengan Fil karena aku bertemu Jul. Nanti saja aku ceritanya di resto fast food favorit kita berdua. Lagian selama ini Daniel gak suka aku dekat sama Julian. Kayaknya Daniel naksir aku deh dari dulu, he he.
“Sudahlah Ray. Jangan sedih terus. Lupakan Jul?” Itu yang dikatakan Daniel setelah Julian memutuskan kuliah di Amrik.
“Duh, ngapain sih ditunda- tunda. Aku udah kepingin dengar ceritanya nih,” bujuk Daniel manja.
“Nanti aja ya Bro. Jangan lupa jam 7 di PS. Ok da.”
Aku segera menyudahi pembicaraan dengan Daniel. Aku lebih memilih bercerita di resto fast food saja.Tetapi ada satu hal yang menggeliti nuraniku.
“Kenapa Daniel sampai sekarang belum punya pacar ya?”
Aku yakin sahabatku punya alasan sendiri. Bagiku tak baik terlalu mencampuri urusan orang lain. Daniel sudah kuanggap seperti saudara sendiri. Selama ini Daniel selalu setia menemani dan menghibur diriku.
Puluhan bulan aku dan Julian berpisah. Mulanya aku resah namun setelah ribuan hari aku lalui tanpa kabar dari Julian. Aku pasrah. Mungkin Julian telah melupakanku. Tapi aku juga merasa aneh, Daniel tidak tahu kabar Jul soalnya selama ini mereka berteman akrab. Dan karena hari ini aku bertemu dengan Julian pula, aku memutuskan hubungan dengan Fil. Tadi aku sudah menelpon Fil. Masa bodoh dia sakit hati, toh aku gak pernah cinta sama dia. Aku belum bisa menghapus bayangan Julian.
“Jangan- jangan Julian sekarang sudah punya kekasih?”
Ah, aduh kok jadi ngawur sih. Lebih baik aku buang jauh – jauh pikiranku yang mulai melantur tidak ada juntrungan. Aku yakin kepulangan Julian dari Amrik, akan membawa perubahan. Aku tidak pernah mengkhayal terlalu jauh. Toh ucapan I love you dari Julian sudah cukup.
6 tahun lalu…
Jakarta, 1 Desember 2008
“Daniel datang!”
Jeritan Daniel adalah suara yang pertama kali sampai ke gendang telingaku. Seharian ini aku malas keluar kamar. Untung dia datang, setidaknya ada hiburan. Siapa tahu dia bawa kabar tentang Jul.
“Hai, Ray apa nggak bosan nulis cerpen melulu?” sapa Daniel santai sambil menepuk punggungku.
“Aku musti kelarin nih cerpen. Payah, dari kemarin alur ceritanya gak berkembang. Kurang konsentrasi, ”ujarku putus asa.
“Gue yakin lo pasti mikirin Julian kan?”
“Gak tuh!” ucapku ketus
Tiba- tiba pikiranku melayang ke Julian, 4 tahun sudah aku menunggu dia. Sejak pertama kali ketemu aku langsung menyukai pribadi Julian, abis dia cakep, pintar, dan gak sombong pula. Dia asyik diajak ngobrol dan sangat menyenangkan kalau bareng dia. Aku yakin Julian suka sama aku. Buktinya Julian selalu kasih hadiah setiap aku ulang tahun. Belum lagi setiap malam , selalu mengirimkan SMS ucapan selamat tidur. Dan gak bosan antar jemput aku ke kampus, setiap hari lagi.
“Daniel, kenapa Jul belum juga nembak aku ya?”
Daniel menggeleng- gelengkan kepalanya, dirangkulnya Ray.
“Belum saatnya!” ujar Daniel mantap.
Selanjutnya dia dengan panjang lebar menjelaskan definisi cinta padaku. Intinya cinta tidak bisa dijelaskan , tapi dirasakan.
“Ufh, Daniel gimana sih nasihatin aku soal cinta. Dia sendiri gak ketahuan punya pacar apa enggak!” protesku dalam hati.
Daniel jahat, dia bilang aku harus lupakan Jul. Tapi kalau dipikir- pikir, dia gak jahat juga sih. Buktinya selama ini informasi tentang Julian selalu aku dapat dari dia. Daniel juga yang memperkenalkan aku ke Julian Itulah enaknya punya sahabat cowok.
“Julian itu tidak dekat dengan wanita selain kamu,” kata Daniel.
Aku tersentak. Tak dapat mengelak dan sedikit tersipu.”Rupanya kau sudah bisa baca isi pikiranku.”
Setelah Daniel pergi, aku teringat kembali oleh kata-kata Daniel, soal persiapan wisuda. Dua minggu lagi wisuda akan berlangsung, makanya hari sabtu besok aku sudah niat mau cari kebaya. Aku sengaja mau pergi sendiri, tanpa ditemani Mama, Daniel, atau Biru adikku. Mereka pasti akan keukeuh memilihkan kebaya untuk aku pakai di acara wisuda nanti. Sementara aku, pasti akan menolak ide mereka mentah-mentah. Yang penting Daniel sudah beritahu aku warna kesukaan Julian itu hijau.
Deg, akhirnya, tiba juga hari yang dinanti. Wisuda. Eits jangan salah, aku senang bukan karena dapat gelar. Ada sesuatu hal yang aku tunggu dari tadi. Bisa tebak dong?
Hh…, kembali aku menghela nafas untuk ke sekian kalinya. Di dalam ruangan ini, aku duduk gelisah. Di mana sih Julian? Daniel bilang ini waktu yang tepat untuk nembak Jul. Daripada penasaran terus. Akhirnya Tuhan membukakan pintu hati Daniel. Daniel sepertinya setuju aku nembak Julian.
“Lebih baik malu sekali, dari pada nyesel seumur hidup,” ujar Daniel kasih semangat.
Aku termenung di bangku taman yang biasa aku datangi. Ada sesuatu menggelayuti pikiranku. Sesuatu yang membuatku tidak tenang. Aku memejamkan mata. Aku menyesal dengan apa yang menimpaku. Aku malu sekali.
“Aku benci keadaan ini. Kalau dia tidak menyukaiku seharusnya bicara. Bukan mencium pipiku lalu pergi berlalu begitu saja. Jujur saja, aku sebenarnya sangat – sangat senang. Siapa sih yang enggak senang tiba- tiba dicium kecengannya? Seakan kami mempunyai rahasia kecil dan hubungan yang “khusus”. Tapi aku masih enggak jelas hubungan kita mau dibawa ke mana Jul? Apa aku harus menunggu kamu pulang dari Amrik? Dasar laki-laki aneh.”
Jakarta, 3 juni 2014
( 18.00 wib)
Aku sengaja , datang lebih cepat dari Daniel. Tak masalah menunggu lebih awal. Kasihan Daniel, pasti saat ini dia masih sibuk. Dia benar- benar sahabatku yang setia. Aku yakin dia tidak pernah menghianatiku. Tak kan pernah. Resto fast food yang kudatangi ini memiliki kelebihan. Selain masakannya lezat, juga asik buat tempat ngobrol. Aku pilih bangku berwarna pink. Warnanya cocok untuk orang yang sedang jatuh cinta. Untung posisi di pojok dekat tembok, rasanya pas.
Tapi aku kecewa berat habis di balik tembok, terdengar dua orang muda mudi sedang memadu cinta.
“Ufh, seharusnya aku tidak memilih bangku ini. Berisik sekali mereka, topik yang mereka bicarakan terlalu vulgar. Aku ganti bangku saja.”
(01.00 wib)
Aku baru saja selesai telpon-telponan sama Daniel. Hatiku masih perih. Aku tidak bisa membendung air mataku. Aku patah hati. Semakin lama kepalaku terasa berat , sudah waktunya menutup chapter Julian di kehidupanku. Besok, aku harus minta maaf sama Fil. Smoga masih ada harapan. Semoga Fil tetap cinta aku. Mungkin ini saatnya ngebuka mata dan hati buat Fil yang udah setia. Aku harus tidur, melupakan semua mimpiku.
“Julian!” Aku meneriakkan namanya kencang – kencang.
Untung di rumah lagi gak ada orang selain aku dan mbok Yem. Tapi tetap saja bayangan dan suara itu masih terngiang- ngiang di telingaku.
“Kapan kita menikah? “
“Iya aku mau menikah sama kamu, aku pikir lebih baik kita menikah di Belanda saja!”
“Sayang aku ingin melumat bibirmu. Hasratku memuncak kau telah meninggalkanku selama enam tahun.”
Untuk kesekian kalinya kupandangi foto wisuda. Fotoku bersama teman dan sahabat tercinta. Aku sudah lelah, enam tahun terlewat dengan sia- sia. Kini tidak ada harapan . Tapi aku tak pernah merasa menyesal mencintai Julian. Jul kini bersama orang yang tepat.
Segurat senyuman menghiasi wajah manis Ray.
“Daniel , Julian, aku merestui pernikahan kalian.”
“Hay Rayna, apa kabar?”
Itu salam pembuka dari Julian. Ya Tuhan Terima Kasih… Hanya itu yang bisa kuteriakkan dalam hati. Aku tak menyangka bisa bertemu lagi dengan pujaan hati. Aku baru tahu kalau Julian ternyata satu kantor denganku. Walaupun baru satu hari ia masuk kantor, aku sudah menduga hari- hariku selanjutnya bakal bahagia. Tidak masalah beda divisi , yang terpenting aku selalu melihatnya. Aku harus memberitahu kabar bagus ini ke sahabatku tersayang. Siapa lagi kalau bukan Daniel.
Kring… kring…
“Halo Daniel sayang !”
“Hai Ray.”
“Lagi ngapain?”
“Aku mo ketemu klien nanti jam 1.”
“Hmm, klien ya? Cowok apa cewek?” Aku gak mampu menyembunyikan rasa ingin tahu di balik pertanyaanku.
“Cowok. Mang kenapa?” tanya Daniel menantang.
“Yah kok cowok sih, coba cewek. Kalau cewek kan ada kemungkinan dia bisa jadi pacar kamu.”
Untuk ke sekian kalinya Daniel hanya bisa menarik nafas panjang. Selalu begitu reaksinya setiap kali aku menanyakan masalah asmaranya. Daniel dan aku sudah bersahabat semenjak masih kuliah. Sampai detik ini pun aku tidak tahu siapa ratu di hatinya.
“Mengapa , Ray? Kok bengong begitu, ada apa Say?”
“Aku punya kabar bagus nih.”
Daniel mengeluarkan nada “ooo” panjang untuk menimpali pembicaraan.
Lalu seperti sudah diduga, Daniel mulai menanyakan semua hal. Aku bercerita panjang lebar tentang semua hal yang aku alami hari ini. Namun aku sengaja merahasiakan satu topik. Apalagi kalau bukan alasan putus dengan Fil karena aku bertemu Jul. Nanti saja aku ceritanya di resto fast food favorit kita berdua. Lagian selama ini Daniel gak suka aku dekat sama Julian. Kayaknya Daniel naksir aku deh dari dulu, he he.
“Sudahlah Ray. Jangan sedih terus. Lupakan Jul?” Itu yang dikatakan Daniel setelah Julian memutuskan kuliah di Amrik.
“Duh, ngapain sih ditunda- tunda. Aku udah kepingin dengar ceritanya nih,” bujuk Daniel manja.
“Nanti aja ya Bro. Jangan lupa jam 7 di PS. Ok da.”
Aku segera menyudahi pembicaraan dengan Daniel. Aku lebih memilih bercerita di resto fast food saja.Tetapi ada satu hal yang menggeliti nuraniku.
“Kenapa Daniel sampai sekarang belum punya pacar ya?”
Aku yakin sahabatku punya alasan sendiri. Bagiku tak baik terlalu mencampuri urusan orang lain. Daniel sudah kuanggap seperti saudara sendiri. Selama ini Daniel selalu setia menemani dan menghibur diriku.
Puluhan bulan aku dan Julian berpisah. Mulanya aku resah namun setelah ribuan hari aku lalui tanpa kabar dari Julian. Aku pasrah. Mungkin Julian telah melupakanku. Tapi aku juga merasa aneh, Daniel tidak tahu kabar Jul soalnya selama ini mereka berteman akrab. Dan karena hari ini aku bertemu dengan Julian pula, aku memutuskan hubungan dengan Fil. Tadi aku sudah menelpon Fil. Masa bodoh dia sakit hati, toh aku gak pernah cinta sama dia. Aku belum bisa menghapus bayangan Julian.
“Jangan- jangan Julian sekarang sudah punya kekasih?”
Ah, aduh kok jadi ngawur sih. Lebih baik aku buang jauh – jauh pikiranku yang mulai melantur tidak ada juntrungan. Aku yakin kepulangan Julian dari Amrik, akan membawa perubahan. Aku tidak pernah mengkhayal terlalu jauh. Toh ucapan I love you dari Julian sudah cukup.
6 tahun lalu…
Jakarta, 1 Desember 2008
“Daniel datang!”
Jeritan Daniel adalah suara yang pertama kali sampai ke gendang telingaku. Seharian ini aku malas keluar kamar. Untung dia datang, setidaknya ada hiburan. Siapa tahu dia bawa kabar tentang Jul.
“Hai, Ray apa nggak bosan nulis cerpen melulu?” sapa Daniel santai sambil menepuk punggungku.
“Aku musti kelarin nih cerpen. Payah, dari kemarin alur ceritanya gak berkembang. Kurang konsentrasi, ”ujarku putus asa.
“Gue yakin lo pasti mikirin Julian kan?”
“Gak tuh!” ucapku ketus
Tiba- tiba pikiranku melayang ke Julian, 4 tahun sudah aku menunggu dia. Sejak pertama kali ketemu aku langsung menyukai pribadi Julian, abis dia cakep, pintar, dan gak sombong pula. Dia asyik diajak ngobrol dan sangat menyenangkan kalau bareng dia. Aku yakin Julian suka sama aku. Buktinya Julian selalu kasih hadiah setiap aku ulang tahun. Belum lagi setiap malam , selalu mengirimkan SMS ucapan selamat tidur. Dan gak bosan antar jemput aku ke kampus, setiap hari lagi.
“Daniel, kenapa Jul belum juga nembak aku ya?”
Daniel menggeleng- gelengkan kepalanya, dirangkulnya Ray.
“Belum saatnya!” ujar Daniel mantap.
Selanjutnya dia dengan panjang lebar menjelaskan definisi cinta padaku. Intinya cinta tidak bisa dijelaskan , tapi dirasakan.
“Ufh, Daniel gimana sih nasihatin aku soal cinta. Dia sendiri gak ketahuan punya pacar apa enggak!” protesku dalam hati.
Daniel jahat, dia bilang aku harus lupakan Jul. Tapi kalau dipikir- pikir, dia gak jahat juga sih. Buktinya selama ini informasi tentang Julian selalu aku dapat dari dia. Daniel juga yang memperkenalkan aku ke Julian Itulah enaknya punya sahabat cowok.
“Julian itu tidak dekat dengan wanita selain kamu,” kata Daniel.
Aku tersentak. Tak dapat mengelak dan sedikit tersipu.”Rupanya kau sudah bisa baca isi pikiranku.”
Setelah Daniel pergi, aku teringat kembali oleh kata-kata Daniel, soal persiapan wisuda. Dua minggu lagi wisuda akan berlangsung, makanya hari sabtu besok aku sudah niat mau cari kebaya. Aku sengaja mau pergi sendiri, tanpa ditemani Mama, Daniel, atau Biru adikku. Mereka pasti akan keukeuh memilihkan kebaya untuk aku pakai di acara wisuda nanti. Sementara aku, pasti akan menolak ide mereka mentah-mentah. Yang penting Daniel sudah beritahu aku warna kesukaan Julian itu hijau.
Deg, akhirnya, tiba juga hari yang dinanti. Wisuda. Eits jangan salah, aku senang bukan karena dapat gelar. Ada sesuatu hal yang aku tunggu dari tadi. Bisa tebak dong?
Hh…, kembali aku menghela nafas untuk ke sekian kalinya. Di dalam ruangan ini, aku duduk gelisah. Di mana sih Julian? Daniel bilang ini waktu yang tepat untuk nembak Jul. Daripada penasaran terus. Akhirnya Tuhan membukakan pintu hati Daniel. Daniel sepertinya setuju aku nembak Julian.
“Lebih baik malu sekali, dari pada nyesel seumur hidup,” ujar Daniel kasih semangat.
Aku termenung di bangku taman yang biasa aku datangi. Ada sesuatu menggelayuti pikiranku. Sesuatu yang membuatku tidak tenang. Aku memejamkan mata. Aku menyesal dengan apa yang menimpaku. Aku malu sekali.
“Aku benci keadaan ini. Kalau dia tidak menyukaiku seharusnya bicara. Bukan mencium pipiku lalu pergi berlalu begitu saja. Jujur saja, aku sebenarnya sangat – sangat senang. Siapa sih yang enggak senang tiba- tiba dicium kecengannya? Seakan kami mempunyai rahasia kecil dan hubungan yang “khusus”. Tapi aku masih enggak jelas hubungan kita mau dibawa ke mana Jul? Apa aku harus menunggu kamu pulang dari Amrik? Dasar laki-laki aneh.”
Jakarta, 3 juni 2014
( 18.00 wib)
Aku sengaja , datang lebih cepat dari Daniel. Tak masalah menunggu lebih awal. Kasihan Daniel, pasti saat ini dia masih sibuk. Dia benar- benar sahabatku yang setia. Aku yakin dia tidak pernah menghianatiku. Tak kan pernah. Resto fast food yang kudatangi ini memiliki kelebihan. Selain masakannya lezat, juga asik buat tempat ngobrol. Aku pilih bangku berwarna pink. Warnanya cocok untuk orang yang sedang jatuh cinta. Untung posisi di pojok dekat tembok, rasanya pas.
Tapi aku kecewa berat habis di balik tembok, terdengar dua orang muda mudi sedang memadu cinta.
“Ufh, seharusnya aku tidak memilih bangku ini. Berisik sekali mereka, topik yang mereka bicarakan terlalu vulgar. Aku ganti bangku saja.”
(01.00 wib)
Aku baru saja selesai telpon-telponan sama Daniel. Hatiku masih perih. Aku tidak bisa membendung air mataku. Aku patah hati. Semakin lama kepalaku terasa berat , sudah waktunya menutup chapter Julian di kehidupanku. Besok, aku harus minta maaf sama Fil. Smoga masih ada harapan. Semoga Fil tetap cinta aku. Mungkin ini saatnya ngebuka mata dan hati buat Fil yang udah setia. Aku harus tidur, melupakan semua mimpiku.
“Julian!” Aku meneriakkan namanya kencang – kencang.
Untung di rumah lagi gak ada orang selain aku dan mbok Yem. Tapi tetap saja bayangan dan suara itu masih terngiang- ngiang di telingaku.
“Kapan kita menikah? “
“Iya aku mau menikah sama kamu, aku pikir lebih baik kita menikah di Belanda saja!”
“Sayang aku ingin melumat bibirmu. Hasratku memuncak kau telah meninggalkanku selama enam tahun.”
Untuk kesekian kalinya kupandangi foto wisuda. Fotoku bersama teman dan sahabat tercinta. Aku sudah lelah, enam tahun terlewat dengan sia- sia. Kini tidak ada harapan . Tapi aku tak pernah merasa menyesal mencintai Julian. Jul kini bersama orang yang tepat.
Segurat senyuman menghiasi wajah manis Ray.
“Daniel , Julian, aku merestui pernikahan kalian.”
aku malang, ibuku jalang, bapakku jahanam bukan kepalang
Aku dibentuk dari dua nyawa yang terpisah. Nyawa seorang pria yang menabuhi seorang wanita bernyawa dengan sperma. Aku ingat saat dulu berkejar-kejaran dengan teman-teman. Kami mencari tempat terhangat, sebelum salah satu dari kami berhenti sesaat. Siapa bilang kami bernyawa setelah salah satu dari kami mempunyai rupa? Kami telah bernyawa dari sejak kami menjadi sperma. Kalau kami tak bernyawa, mana mungkin kami punya tenaga untuk mencapai indung telur wanita. Aku juga masih ingat, sesama teman sperma yang dimuntahkan dari penis manusia, mati di jalan karena mereka berlari terlalu pelan atau kalah dalam himpit-himpitan jutaan teman yang berkejar-kejaran mencari tempat buat makan. Nyawa pertamaku dari seorang pria. Tapi sambungan hidupku berada pada wanita. Aku makan dari wanita yang kemudian kukenal dengan sebutan ibu. Ibu yang mengharapkan kehadiranku atau Ibu yang menganggapku hanya sebagai benalu. Entah yang mana ibuku, aku belum tahu.
Saat ini, aku baru saja bersenyawa dengan tubuh Ibu. Membentuk sel baru yang menyatu. Meninggalkan rupa lama yang dulu hanya berbentuk ekor dan kepala. Aku mulai tumbuh dan tak lama lagi akan membuat pergolakan rasa yang perlahan akan membuat Ibu tahu bahwa aku ada. Aku sudah tidak sabar untuk mengabarinya bahwa ia telah berhasil menciptakan bibit manusia. Aku makan dengan rakus. Aku minum karena selalu haus. Aku ingin cepat mempunyai muka, kaki, tangan, untuk mengelus, menendang bahkan menerajang. Bukan aku tak sayang. Tapi ini satu-satunya caraku untuk memberi tahu Ibu bahwa aku bukan bayang.
Tidak tahukah Ibu, bahwa aku begitu bangga. Aku juara. Aku mengalahkan berjuta ekor dan kepala lainnya yang datang mencari Ibu. Tidak tahukah Ibu, walau belum mempunyai mulut dan bibir untuk tersenyum, aku sudah tertawa, penuh rasa lega akhirnya aku tiba. Lelahku akhirnya terbalas juga. Ibu memberiku makan dari darah yang mengandung sari yang dipompa dari jantung melalui aorta.
xxxxx
Malam pertama bersama Ibu. Aku melihat Ibu duduk di atas sebuah kursi memanjang dengan bantal yang kenyal. Ia seperti menunggu. Apakah Ibu menunggu Bapakku? Aku belum tahu. Malam ini Ibu terlihat begitu cantik. Pantaslah Bapakku tidak bisa munafik untuk tidak tertarik. Ibu benar-benar bersifat magnetik. Pintu diketuk. Ibu bangkit dan berjalan secara perlahan. Seorang lelaki bertubuh tambun dengan perut menyembul, muncul. Dia bukan Bapak. Aku tahu persis siapa Bapak. Aku diam berhari-hari di tubuh Bapak sebelum akhirnya bertemu Ibu. Bapakku tampan. Wajahnya rupawan. Ia mempesona setiap perempuan. Bukan seperti lelaki yang datang ini, perawakannya tak beraturan. Mungkin saja dia bapaknya Ibu. Wajah dan penampilannya menunjukkan seperti itu. Tapi, tidak! Ia menyentuh Ibu dengan gerakan yang sama sekali tak malu-malu. Ada apa dengan Ibu? Ibu, dia bukan Bapakku. Teganya Ibu mengkhianati Bapakku.
Aku lemas. Tapi, laki-laki itu semakin panas. Gerakan-gerakan yang ia ciptakan membuat salah satu bagian tubuhnya menegang. Bagian tubuh itu, persis seperti tempatku dulu di tubuh Bapak. Aku ingat ketika Bapak berlaku seperti itu pada Ibu. Bapak bereaksi. Reaksi itu menimbulkan ereksi. Ia seakan memberi pertanda pada kami untuk siap-siap beraksi. Reaksi ereksi itu seperti permulaan arena balapan. Penuh ketegangan. Kami menunggu dalam deru erangan, yang sebentar kemudian akan memunculkan pertanda, seperti bendera yang turun di arena balapan, kami berkebut-kebutan.
Aku menunduk malu. Ibu dan lelaki itu saling beradu. Lelaki itu membolak-balik iIu seperti barbeque di arang kayu. Lalu, tumpahan-tumpahan makhluk seperti aku membasahi muka Ibu. Mereka tidak berlarian, seperti aku, di dalam liang hangat, tempat laki-laki itu singgah sesaat sebelum air maninya muncrat, mencuat, menggurat menjadi lekat di kulit Ibu yang sekat oleh keringat.
xxxxx
Aku ingin bertemu Bapak. Malam ini, malam keduaku bersama Ibu. Ibu kembali menunggu. Apakah kali ini lagi-lagi lelaki buncit yang memberi malu, atau sesungguhnya Bapak yang ditunggu? Aku belum juga tahu.
Ibu menunggu di dalam sebuah ruangan luas, megah dan nyaman. Ia sendirian. Tapi tidak sepenuhnya sendirian. Ia ditemani segelas minuman. Minuman itu begitu elegan dalam gelas kaca dengan kaki panjang menawan. Ibu menenggaknya. Beberapa menit kemudian aku merasakan sesuatu yang tak nyaman. Minuman itu memabukkan. Oh Ibu, kali ini dia membuatku mabuk. Tubuhku yang belum sepenuhnya terbentuk ini terasa berputar-putar. Dunia tempat Ibu berpijak, berguncang dan seakan tak berhenti bergetar. Aku gemetar. Tapi aku tak gentar. Aku ingin tetap terjaga. Aku ingin bersamanya ketika ia bersama siapa saja, sehingga aku bisa mengenal wajah seorang Bapak yang kutunggu kedatangannya.
Masih, yang datang lagi-lagi lelaki. Lelaki bertubuh tinggi dengan kulit putih sangat terawat. Wajahnya tampan dengan senyum yang sangat memikat. Pantas saja seorang Ibu terjerat. Apakah ia Bapak? Bukan. Sudah kukatakan, Bapakku memang tampan dan rupawan, ia mampu memikat perempuan. Tapi Bapakku berkulit kecokelatan. Lelaki itu datang menjenguk Ibu. Tidak seperti lelaki tambun tak tahu malu yang langsung menyentuh Ibu tanpa ragu. Ia duduk dan berbicara terlebih dulu. Bercanda. Lantas tertawa-tawa. Ia pun meminum minuman yang diminum Ibu. Lalu berbaring dan membuka baju. Bajunya. Dan baju Ibu.
Ia menaiki Ibu yang tengah terbaring. Lalu ia menyatukan tubuhnya dan tubuh Ibu seperti anjing. Suara desah Ibu terpecah melengking. Menciptakan bunyi yang membuat tubuh tanpa kepalaku pusing dan pening.
Makhluk-makhluk yang dulunya seperti aku, akhirnya keluar. Mereka seperti lahar yang mencahar karena panas bergejolak yang membakar. Tumpahan-tumpahan itu berlalu bersama waktu, dengan gerakan yang membuat lelaki itu bersimpuh layu. Ini tempatku. Matilah kalian sebelum sampai lebih dalam di rahim Ibu. Aku sudah tiba lebih dulu. Sudah tidak kusisakan lagi sedikitpun tempat untuk kalian menyatu.
xxxxx
Dan aku masih menunggu. Menunggu Bapakku. Tapi Ibu tak pernah lagi bertemu Bapak. Sekian hari sekian waktu Ibu selalu bersama laki-laki. Ibu bertemu laki-laki. Ibu tidur dengan laki-laki. Ibu mencampuri laki-laki. Ibu bercinta dengan laki-laki. Kemudian mereka datang dan pergi, silih berganti. Lompat-lompatan. Desah-desahan. Gerakan jumpalitan hingga ledakan tumpahan air kemaluan, bukan lagi keanehan. Tapi, lompat-lompatan, gerakan jumpalitan, hingga ledakan tumpahan air kemaluan yang bukan lagi keanehan, tidak Ibu lalui bersama Bapak.
Dan hari ini, hari ketujuh bersama Ibu. Ibu masih belum tahu keberadaanku. Ia masih sibuk dengan dirinya yang luar biasa. Luar biasa sempurna. Luar biasa menggoda. Luar biasa bercinta. Laki-laki manapun takluk dan bertekuk lutut padanya. Aku marah pada keluarbiasaan Ibu. Aku kecewa pada gaya hidupnya. Aku putus asa pada sikapnya. Dan aku menerjang. Walau tak punya kaki tangan aku menendang, membuat Ibu mabuk kepayang. Aku ingin Ibu sadar. Aku ingin Ibu dengar. Aku ingin Ibu gentar, bahwa aku ada. Aku nyata. Aku bibit manusia buah bercinta dengan pria yang belum kujumpa.
Ibu meraung. Ia memuntahkan isi perut yang ia kandung. Aku tak urung. Terus kugetar-getarkan tubuhku untuk membuatnya terhuyung. Ibu tersandar. Ia lelah karena harus memuntahkan makanannya keluar. Wajahnya panik. Lalu ia mengambil sesuatu dalam sebuah kotak yang berbungkus plastik. Benda itu berbentuk kertas tipis memanjang secarik. Ibuku mengamat-amati benda itu. Kemudian ia menduduki kloset dan mengencinginya. Ia diam. Menunggu dalam bimbang. Ia berdiri. Berjalan bolak-balik mondar-mandir sambil menggenggam benda itu dan berpikir. Ia meliriknya. Dengan bola mata yang terbuka lebar, nanar, ia memaki.
“Bangsat!
xxxxx
Aku semakin besar kini. Aku berteman dengan benda yang kemudian kukenal dengan sebutan, ari-ari kembaran. Aku sudah memiliki tangan dan kaki, walaupun belum sepenuhnya memiliki jari jemari. Aku tetap makan. Tapi tak lagi makan dengan lahap. Aku tetap minum. Tapi tak lagi minum dengan harap. Aku tumbuh karena aku memang tumbuh dan waktu perlahan membuatku begitu. Sebentar lagi aku akan membuat kulit Ibu meretas. Dan Ibu bukan lagi sadar, tapi juga akan membesar.
Aku seperti tak berhenti meratapi diri, sementara ari-ari tak berhenti mencaci maki. Ia menyebut-nyebut aku si tolol yang dungu. Aku memang tolol dan dungu. Itu semua karena Ibu.
“Hey Jabang Bayi, berhentilah kau berharap. Dunia yang sesungguhnya memang pengap. Kalau kau tak tau caranya bertahan kau bisa megap-megap.”
“Masa bodoh dengan dunia di luar sana, Ari-ari. Aku tak pantas diperlakukan seperti ini. Tahukah Ibu bahwa aku mani yang menang lomba lari terpanjang seantero bumi? Bukan salahku kalau aku kemudian menghuni tempat ini. Aku disuruh lari, aku lari. Teman-teman berkejar-kejaran, aku ikutan. Mereka balapan, aku memimpin di depan, hingga akhirnya aku tiba dalam rahim seorang perempuan. Perempuan yang tak berperasaan.”
“Dia jelas-jelas lupa saat ia masih menjadi sperma. Dunia sudah membuat ia lupa asal mula. Dunia kehidupan yang berbeda, kata mereka.”
“Aku benci Ibu.”
“Ibumu pelacur.”
“Dan aku anak pelacur yang vaginanya selalu menjadi tempat bercampur.”
Ibuku benar-benar tak punya belas kasihan. Ia tak hanya membuatku mabuk dengan minuman. Ia mengisi udara paru-paruku dengan asap yang membuatku jengap. Asap yang ia hirup dan ia jadikan oksigen sampingannya untuk bernafas menjadi racun yang membekas. Ibu benar-benar tak pernah menginginkanku. Ia Ibu yang hanya menganggapku benalu.
xxxxx
Malam ini ia kembali menunggu. Entah laki-laki mana lagi aku sudah tak mau tahu. Dia memang selalu seperti itu. Tidur dengan laki-laki yang datang dan berlalu.
Malam ini, Ibuku tak cantik. Tak seperti biasa, ia terlihat kusut masai dengan rambut berantakan tergerai-gerai. Tubuhnya hanya terbalut kaos singlet berwarna putih. Ia tak memakai bawahan, hanya mengenakan celana dalam berwarna hitam. Ia duduk di sisi jendela di atas sebuah sofa berlengan. Dan dari dalam sini, bisa kurasa bahwa di luar sana sedang hujan. Tangannya memegang sepuntung rokok yang abunya sudah bertumpuk menunggu jatuh. Kakinya bertekuk dan ia peluk.
Seorang laki-laki tiba-tiba datang. Laki-laki itu berperawakan tinggi. Ia tampan dan rupawan. Wajahnya memikat setiap perempuan dan kulitnya kecokelatan. Kulit muka yang sepertinya berewokan meninggalkan bekas cukuran yang terlihat jantan. Ia sungguh laki-laki yang menawan. Dan ia Bapakku.
“Ari-ari, lihat siapa yang datang. Itu Bapakku. Bapak kita.”
“Tenanglah, Jabang Bayi bodoh.”
“Aku takkan bisa tenang, Ari-ari. Aku akan menendang perut Ibu sebagai pertanda agar ia tahu. Aku ingin ia memberi tahu Bapak bahwa kita ada.”
“Diamlah, kau Jabang Bayi tolol. Kau tendang seperti apapun ia takkan memberitahunya. Ia tetap akan diam, dan diam saja.”
“Kenapa ia takkan memberi tahunya, Ari-ari. Lelaki itu Bapak kita. Dan ia berhak tahu bahwa aku ada juga karena dia.”
“Karena Ibumu jalang, makhluk malang. Perempuan itu pun tak tahu siapa yang telah mencampurinya. Jadi memberi tahu laki-laki itu hanya akan sia-sia dan merusak acara bercinta mereka.”
Lelaki yang kusebut-sebut Bapak tidak langsung menyentuh Ibu, seperti lelaki tambun yang penuh nafsu. Ia juga tidak seperti lelaki menarik yang memulai percintaan dengan candaan menggelitik. Ia diam seribu bahasa. Ibu pun diam. Mereka tak saling berteguran. Lelaki yang kusebut Bapak itu kemudian bergerak ke depan Ibu yang masih melihat hujan. Ibu masih tak membuat gerakan. Sesaat kemudian ia menoleh, Ibu dan menghujaninya dengan tamparan.
Aku tersekat. Ibuku tetap diam. Lelaki itu menarik tubuh Ibu dan mencengkramkan kedua tangannya ke leher jenjang Ibu. Ibu tak terpekik walau setengah mati ia tercekik. Bapakku semakin membabi buta. Ia merobek pakaian Ibu sampai tak satupun tersisa. Ibu masih tak melawan. Bahkan ketika lelaki yang kusebut Bapak itu menunggangi Ibu seperti binatang, Ibu terkesan pasrah dan melemah. Bapakku memaki. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah cacian meskipun ia begitu kenikmatan.
Aku menutup mukaku dengan kedua tangan yang baru terbentuk seakan menahan malu. Begitukah Bapakku saat membuat aku. Hinanya aku. Hal yang sudah lama kutunggu berjumpa dengan Bapak tidak seperti apa yang menjadi pengharapan rindu. Bapak tidak mencium Ibu dengan hangat, ia menamparnya. Bapak tidak memeluk Ibu dalam dekap, ia mencekiknya. Bapak tidak bercinta dengan Ibu penuh dengan rasa, ia memakinya. Ia seperti pawang yang menunggangi binatang yang telah terlebih dulu di cucuk lubang hidungnya. Ibuku benar-benar perempuan binal. Ia pelacur profesional. Ia melayani laki-laki manapun yang tak ia kenal. Sampailah ia bertemu Bapak yang tak kalah nakal. Jadilah aku hasil hubungan yang penuh malu. Lelaki itu tak akan pernah tahu bahwa aku dulu adalah benda berekor dan berkepala yang ada di tubuhnya, dan kini melebur dalam tubuh pelacur, tubuh Ibu, menjadi zygot, menjadi embrio, menjadi setengah manusia yang sudah memiliki kepala sesungguhnya kepala.
Argh! Aku penat. Ibuku perempuan laknat. Bapakku lelaki bangsat.
xxxxx
“Aku seakan tak punya harapan hidup, Ari-ari.”
“Bodohnya kau, Jabang Bayi. Tidak ingatkah perjuanganmu untuk sampai ke tempat ini?”
“Percuma saja, Ari-ari. Ibu Bapak tak menginginkanku.”
“Persetan dengan mereka. Kau tetap berhak melihat dunia.”
Aku terdiam sejenak. Ari-ari kembaranku benar. Aku tak mau mati di sini. Aku sudah hidup dan bernyawa. Perjuangan sampai ke tempat ini sangat berharga. Aku bukan hanya makhluk berekor dan berkepala yang tumpah di muka wanita, di lantai, di kasur, lalu dibuang sia-sia. Aku sudah menjadi setengah manusia, dan aku memiliki hak seperti para manusia, karena aku sudah menjadi bagian dari mereka.
“Ari-ari, apa aku akan melupakan saat-saat ini ketika aku seutuhnya menjadi manusia sejati?”
“Maaf Jabang Bayi, aku rasa kau tidak akan pernah muncul di dunia untuk menghirup udara?”
“Kenapa, Ari-ari? Kenapa?”
Belum sempat ari-ariku menjawab, aku sudah merasakan guncangan hebat bergetar dalam ruang sempit di sekelilingku. Aku bergerak, meronta, melawan, menerjang guncangan yang menarikku juga menarik ari-ari kembaran. Tenaga yang kami miliki sungguh tak sebanding dengan kekuatan angin maha dahsyat yang menyedot kami. Mataku terbuka lebar, nanar, persis seperti mata Ibu saat baru menyadari keberadaanku. Sungguh aku tak percaya bahwa Ibu benar-benar tega. Tanpa sadar aku terisak, dalam tangisan yang rasanya sesak. Ari-ari dan aku saling berpegangan, saling berpelukan. Dan ini adalah perpisahan.
Wahai Ibu, teganya kau padaku. Aku darah. Aku dagingmu. Aku bagian tubuhmu. Sekarang kau membuangku seakan aku sampah. Benda tak berharga yang keberadaannya hanya menyesakkan dunia.
Aku sudah tak mampu lagi meronta. Ari-ariku sudah tak lagi berbicara. Tidak ada juga udara yang mampu kuhirup untuk membakar tenaga. Hanya perasaan marah yang bergejolak dan tergelak-gelak seperti lava. Aku malang. Ibuku jalang. Bapakku jahanam bukan kepalang.
“Kalau saja kau ingat seluruh perjuanganmu mencapai tempat di rahimmu, Ibu, kau pasti tak akan melakukan ini semua. Hanya saja, dunia menggerus ingatanmu. Dan tak lagi membekaskan memori masa lalu asal muasalmu. Aku manusia, Ibu. Walau setengah manusia. Aku berhak hidup dan melihat dunia, walau ia fana.”
Dan aku lemas, tak lagi bernafas. Aku hanya berharap untuk diberi lagi kesempatan menjadi mani pada laki-laki, yang akan kembali membuatku berjuang dan berkejar-kejaran dalam himpitan. Mudah-mudahan aku sampai pada perempuan yang menanti kedatanganku. Bukan Ibu yang hanya menganggapku sebagai benalu.
Saat ini, aku baru saja bersenyawa dengan tubuh Ibu. Membentuk sel baru yang menyatu. Meninggalkan rupa lama yang dulu hanya berbentuk ekor dan kepala. Aku mulai tumbuh dan tak lama lagi akan membuat pergolakan rasa yang perlahan akan membuat Ibu tahu bahwa aku ada. Aku sudah tidak sabar untuk mengabarinya bahwa ia telah berhasil menciptakan bibit manusia. Aku makan dengan rakus. Aku minum karena selalu haus. Aku ingin cepat mempunyai muka, kaki, tangan, untuk mengelus, menendang bahkan menerajang. Bukan aku tak sayang. Tapi ini satu-satunya caraku untuk memberi tahu Ibu bahwa aku bukan bayang.
Tidak tahukah Ibu, bahwa aku begitu bangga. Aku juara. Aku mengalahkan berjuta ekor dan kepala lainnya yang datang mencari Ibu. Tidak tahukah Ibu, walau belum mempunyai mulut dan bibir untuk tersenyum, aku sudah tertawa, penuh rasa lega akhirnya aku tiba. Lelahku akhirnya terbalas juga. Ibu memberiku makan dari darah yang mengandung sari yang dipompa dari jantung melalui aorta.
xxxxx
Malam pertama bersama Ibu. Aku melihat Ibu duduk di atas sebuah kursi memanjang dengan bantal yang kenyal. Ia seperti menunggu. Apakah Ibu menunggu Bapakku? Aku belum tahu. Malam ini Ibu terlihat begitu cantik. Pantaslah Bapakku tidak bisa munafik untuk tidak tertarik. Ibu benar-benar bersifat magnetik. Pintu diketuk. Ibu bangkit dan berjalan secara perlahan. Seorang lelaki bertubuh tambun dengan perut menyembul, muncul. Dia bukan Bapak. Aku tahu persis siapa Bapak. Aku diam berhari-hari di tubuh Bapak sebelum akhirnya bertemu Ibu. Bapakku tampan. Wajahnya rupawan. Ia mempesona setiap perempuan. Bukan seperti lelaki yang datang ini, perawakannya tak beraturan. Mungkin saja dia bapaknya Ibu. Wajah dan penampilannya menunjukkan seperti itu. Tapi, tidak! Ia menyentuh Ibu dengan gerakan yang sama sekali tak malu-malu. Ada apa dengan Ibu? Ibu, dia bukan Bapakku. Teganya Ibu mengkhianati Bapakku.
Aku lemas. Tapi, laki-laki itu semakin panas. Gerakan-gerakan yang ia ciptakan membuat salah satu bagian tubuhnya menegang. Bagian tubuh itu, persis seperti tempatku dulu di tubuh Bapak. Aku ingat ketika Bapak berlaku seperti itu pada Ibu. Bapak bereaksi. Reaksi itu menimbulkan ereksi. Ia seakan memberi pertanda pada kami untuk siap-siap beraksi. Reaksi ereksi itu seperti permulaan arena balapan. Penuh ketegangan. Kami menunggu dalam deru erangan, yang sebentar kemudian akan memunculkan pertanda, seperti bendera yang turun di arena balapan, kami berkebut-kebutan.
Aku menunduk malu. Ibu dan lelaki itu saling beradu. Lelaki itu membolak-balik iIu seperti barbeque di arang kayu. Lalu, tumpahan-tumpahan makhluk seperti aku membasahi muka Ibu. Mereka tidak berlarian, seperti aku, di dalam liang hangat, tempat laki-laki itu singgah sesaat sebelum air maninya muncrat, mencuat, menggurat menjadi lekat di kulit Ibu yang sekat oleh keringat.
xxxxx
Aku ingin bertemu Bapak. Malam ini, malam keduaku bersama Ibu. Ibu kembali menunggu. Apakah kali ini lagi-lagi lelaki buncit yang memberi malu, atau sesungguhnya Bapak yang ditunggu? Aku belum juga tahu.
Ibu menunggu di dalam sebuah ruangan luas, megah dan nyaman. Ia sendirian. Tapi tidak sepenuhnya sendirian. Ia ditemani segelas minuman. Minuman itu begitu elegan dalam gelas kaca dengan kaki panjang menawan. Ibu menenggaknya. Beberapa menit kemudian aku merasakan sesuatu yang tak nyaman. Minuman itu memabukkan. Oh Ibu, kali ini dia membuatku mabuk. Tubuhku yang belum sepenuhnya terbentuk ini terasa berputar-putar. Dunia tempat Ibu berpijak, berguncang dan seakan tak berhenti bergetar. Aku gemetar. Tapi aku tak gentar. Aku ingin tetap terjaga. Aku ingin bersamanya ketika ia bersama siapa saja, sehingga aku bisa mengenal wajah seorang Bapak yang kutunggu kedatangannya.
Masih, yang datang lagi-lagi lelaki. Lelaki bertubuh tinggi dengan kulit putih sangat terawat. Wajahnya tampan dengan senyum yang sangat memikat. Pantas saja seorang Ibu terjerat. Apakah ia Bapak? Bukan. Sudah kukatakan, Bapakku memang tampan dan rupawan, ia mampu memikat perempuan. Tapi Bapakku berkulit kecokelatan. Lelaki itu datang menjenguk Ibu. Tidak seperti lelaki tambun tak tahu malu yang langsung menyentuh Ibu tanpa ragu. Ia duduk dan berbicara terlebih dulu. Bercanda. Lantas tertawa-tawa. Ia pun meminum minuman yang diminum Ibu. Lalu berbaring dan membuka baju. Bajunya. Dan baju Ibu.
Ia menaiki Ibu yang tengah terbaring. Lalu ia menyatukan tubuhnya dan tubuh Ibu seperti anjing. Suara desah Ibu terpecah melengking. Menciptakan bunyi yang membuat tubuh tanpa kepalaku pusing dan pening.
Makhluk-makhluk yang dulunya seperti aku, akhirnya keluar. Mereka seperti lahar yang mencahar karena panas bergejolak yang membakar. Tumpahan-tumpahan itu berlalu bersama waktu, dengan gerakan yang membuat lelaki itu bersimpuh layu. Ini tempatku. Matilah kalian sebelum sampai lebih dalam di rahim Ibu. Aku sudah tiba lebih dulu. Sudah tidak kusisakan lagi sedikitpun tempat untuk kalian menyatu.
xxxxx
Dan aku masih menunggu. Menunggu Bapakku. Tapi Ibu tak pernah lagi bertemu Bapak. Sekian hari sekian waktu Ibu selalu bersama laki-laki. Ibu bertemu laki-laki. Ibu tidur dengan laki-laki. Ibu mencampuri laki-laki. Ibu bercinta dengan laki-laki. Kemudian mereka datang dan pergi, silih berganti. Lompat-lompatan. Desah-desahan. Gerakan jumpalitan hingga ledakan tumpahan air kemaluan, bukan lagi keanehan. Tapi, lompat-lompatan, gerakan jumpalitan, hingga ledakan tumpahan air kemaluan yang bukan lagi keanehan, tidak Ibu lalui bersama Bapak.
Dan hari ini, hari ketujuh bersama Ibu. Ibu masih belum tahu keberadaanku. Ia masih sibuk dengan dirinya yang luar biasa. Luar biasa sempurna. Luar biasa menggoda. Luar biasa bercinta. Laki-laki manapun takluk dan bertekuk lutut padanya. Aku marah pada keluarbiasaan Ibu. Aku kecewa pada gaya hidupnya. Aku putus asa pada sikapnya. Dan aku menerjang. Walau tak punya kaki tangan aku menendang, membuat Ibu mabuk kepayang. Aku ingin Ibu sadar. Aku ingin Ibu dengar. Aku ingin Ibu gentar, bahwa aku ada. Aku nyata. Aku bibit manusia buah bercinta dengan pria yang belum kujumpa.
Ibu meraung. Ia memuntahkan isi perut yang ia kandung. Aku tak urung. Terus kugetar-getarkan tubuhku untuk membuatnya terhuyung. Ibu tersandar. Ia lelah karena harus memuntahkan makanannya keluar. Wajahnya panik. Lalu ia mengambil sesuatu dalam sebuah kotak yang berbungkus plastik. Benda itu berbentuk kertas tipis memanjang secarik. Ibuku mengamat-amati benda itu. Kemudian ia menduduki kloset dan mengencinginya. Ia diam. Menunggu dalam bimbang. Ia berdiri. Berjalan bolak-balik mondar-mandir sambil menggenggam benda itu dan berpikir. Ia meliriknya. Dengan bola mata yang terbuka lebar, nanar, ia memaki.
“Bangsat!
xxxxx
Aku semakin besar kini. Aku berteman dengan benda yang kemudian kukenal dengan sebutan, ari-ari kembaran. Aku sudah memiliki tangan dan kaki, walaupun belum sepenuhnya memiliki jari jemari. Aku tetap makan. Tapi tak lagi makan dengan lahap. Aku tetap minum. Tapi tak lagi minum dengan harap. Aku tumbuh karena aku memang tumbuh dan waktu perlahan membuatku begitu. Sebentar lagi aku akan membuat kulit Ibu meretas. Dan Ibu bukan lagi sadar, tapi juga akan membesar.
Aku seperti tak berhenti meratapi diri, sementara ari-ari tak berhenti mencaci maki. Ia menyebut-nyebut aku si tolol yang dungu. Aku memang tolol dan dungu. Itu semua karena Ibu.
“Hey Jabang Bayi, berhentilah kau berharap. Dunia yang sesungguhnya memang pengap. Kalau kau tak tau caranya bertahan kau bisa megap-megap.”
“Masa bodoh dengan dunia di luar sana, Ari-ari. Aku tak pantas diperlakukan seperti ini. Tahukah Ibu bahwa aku mani yang menang lomba lari terpanjang seantero bumi? Bukan salahku kalau aku kemudian menghuni tempat ini. Aku disuruh lari, aku lari. Teman-teman berkejar-kejaran, aku ikutan. Mereka balapan, aku memimpin di depan, hingga akhirnya aku tiba dalam rahim seorang perempuan. Perempuan yang tak berperasaan.”
“Dia jelas-jelas lupa saat ia masih menjadi sperma. Dunia sudah membuat ia lupa asal mula. Dunia kehidupan yang berbeda, kata mereka.”
“Aku benci Ibu.”
“Ibumu pelacur.”
“Dan aku anak pelacur yang vaginanya selalu menjadi tempat bercampur.”
Ibuku benar-benar tak punya belas kasihan. Ia tak hanya membuatku mabuk dengan minuman. Ia mengisi udara paru-paruku dengan asap yang membuatku jengap. Asap yang ia hirup dan ia jadikan oksigen sampingannya untuk bernafas menjadi racun yang membekas. Ibu benar-benar tak pernah menginginkanku. Ia Ibu yang hanya menganggapku benalu.
xxxxx
Malam ini ia kembali menunggu. Entah laki-laki mana lagi aku sudah tak mau tahu. Dia memang selalu seperti itu. Tidur dengan laki-laki yang datang dan berlalu.
Malam ini, Ibuku tak cantik. Tak seperti biasa, ia terlihat kusut masai dengan rambut berantakan tergerai-gerai. Tubuhnya hanya terbalut kaos singlet berwarna putih. Ia tak memakai bawahan, hanya mengenakan celana dalam berwarna hitam. Ia duduk di sisi jendela di atas sebuah sofa berlengan. Dan dari dalam sini, bisa kurasa bahwa di luar sana sedang hujan. Tangannya memegang sepuntung rokok yang abunya sudah bertumpuk menunggu jatuh. Kakinya bertekuk dan ia peluk.
Seorang laki-laki tiba-tiba datang. Laki-laki itu berperawakan tinggi. Ia tampan dan rupawan. Wajahnya memikat setiap perempuan dan kulitnya kecokelatan. Kulit muka yang sepertinya berewokan meninggalkan bekas cukuran yang terlihat jantan. Ia sungguh laki-laki yang menawan. Dan ia Bapakku.
“Ari-ari, lihat siapa yang datang. Itu Bapakku. Bapak kita.”
“Tenanglah, Jabang Bayi bodoh.”
“Aku takkan bisa tenang, Ari-ari. Aku akan menendang perut Ibu sebagai pertanda agar ia tahu. Aku ingin ia memberi tahu Bapak bahwa kita ada.”
“Diamlah, kau Jabang Bayi tolol. Kau tendang seperti apapun ia takkan memberitahunya. Ia tetap akan diam, dan diam saja.”
“Kenapa ia takkan memberi tahunya, Ari-ari. Lelaki itu Bapak kita. Dan ia berhak tahu bahwa aku ada juga karena dia.”
“Karena Ibumu jalang, makhluk malang. Perempuan itu pun tak tahu siapa yang telah mencampurinya. Jadi memberi tahu laki-laki itu hanya akan sia-sia dan merusak acara bercinta mereka.”
Lelaki yang kusebut-sebut Bapak tidak langsung menyentuh Ibu, seperti lelaki tambun yang penuh nafsu. Ia juga tidak seperti lelaki menarik yang memulai percintaan dengan candaan menggelitik. Ia diam seribu bahasa. Ibu pun diam. Mereka tak saling berteguran. Lelaki yang kusebut Bapak itu kemudian bergerak ke depan Ibu yang masih melihat hujan. Ibu masih tak membuat gerakan. Sesaat kemudian ia menoleh, Ibu dan menghujaninya dengan tamparan.
Aku tersekat. Ibuku tetap diam. Lelaki itu menarik tubuh Ibu dan mencengkramkan kedua tangannya ke leher jenjang Ibu. Ibu tak terpekik walau setengah mati ia tercekik. Bapakku semakin membabi buta. Ia merobek pakaian Ibu sampai tak satupun tersisa. Ibu masih tak melawan. Bahkan ketika lelaki yang kusebut Bapak itu menunggangi Ibu seperti binatang, Ibu terkesan pasrah dan melemah. Bapakku memaki. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah cacian meskipun ia begitu kenikmatan.
Aku menutup mukaku dengan kedua tangan yang baru terbentuk seakan menahan malu. Begitukah Bapakku saat membuat aku. Hinanya aku. Hal yang sudah lama kutunggu berjumpa dengan Bapak tidak seperti apa yang menjadi pengharapan rindu. Bapak tidak mencium Ibu dengan hangat, ia menamparnya. Bapak tidak memeluk Ibu dalam dekap, ia mencekiknya. Bapak tidak bercinta dengan Ibu penuh dengan rasa, ia memakinya. Ia seperti pawang yang menunggangi binatang yang telah terlebih dulu di cucuk lubang hidungnya. Ibuku benar-benar perempuan binal. Ia pelacur profesional. Ia melayani laki-laki manapun yang tak ia kenal. Sampailah ia bertemu Bapak yang tak kalah nakal. Jadilah aku hasil hubungan yang penuh malu. Lelaki itu tak akan pernah tahu bahwa aku dulu adalah benda berekor dan berkepala yang ada di tubuhnya, dan kini melebur dalam tubuh pelacur, tubuh Ibu, menjadi zygot, menjadi embrio, menjadi setengah manusia yang sudah memiliki kepala sesungguhnya kepala.
Argh! Aku penat. Ibuku perempuan laknat. Bapakku lelaki bangsat.
xxxxx
“Aku seakan tak punya harapan hidup, Ari-ari.”
“Bodohnya kau, Jabang Bayi. Tidak ingatkah perjuanganmu untuk sampai ke tempat ini?”
“Percuma saja, Ari-ari. Ibu Bapak tak menginginkanku.”
“Persetan dengan mereka. Kau tetap berhak melihat dunia.”
Aku terdiam sejenak. Ari-ari kembaranku benar. Aku tak mau mati di sini. Aku sudah hidup dan bernyawa. Perjuangan sampai ke tempat ini sangat berharga. Aku bukan hanya makhluk berekor dan berkepala yang tumpah di muka wanita, di lantai, di kasur, lalu dibuang sia-sia. Aku sudah menjadi setengah manusia, dan aku memiliki hak seperti para manusia, karena aku sudah menjadi bagian dari mereka.
“Ari-ari, apa aku akan melupakan saat-saat ini ketika aku seutuhnya menjadi manusia sejati?”
“Maaf Jabang Bayi, aku rasa kau tidak akan pernah muncul di dunia untuk menghirup udara?”
“Kenapa, Ari-ari? Kenapa?”
Belum sempat ari-ariku menjawab, aku sudah merasakan guncangan hebat bergetar dalam ruang sempit di sekelilingku. Aku bergerak, meronta, melawan, menerjang guncangan yang menarikku juga menarik ari-ari kembaran. Tenaga yang kami miliki sungguh tak sebanding dengan kekuatan angin maha dahsyat yang menyedot kami. Mataku terbuka lebar, nanar, persis seperti mata Ibu saat baru menyadari keberadaanku. Sungguh aku tak percaya bahwa Ibu benar-benar tega. Tanpa sadar aku terisak, dalam tangisan yang rasanya sesak. Ari-ari dan aku saling berpegangan, saling berpelukan. Dan ini adalah perpisahan.
Wahai Ibu, teganya kau padaku. Aku darah. Aku dagingmu. Aku bagian tubuhmu. Sekarang kau membuangku seakan aku sampah. Benda tak berharga yang keberadaannya hanya menyesakkan dunia.
Aku sudah tak mampu lagi meronta. Ari-ariku sudah tak lagi berbicara. Tidak ada juga udara yang mampu kuhirup untuk membakar tenaga. Hanya perasaan marah yang bergejolak dan tergelak-gelak seperti lava. Aku malang. Ibuku jalang. Bapakku jahanam bukan kepalang.
“Kalau saja kau ingat seluruh perjuanganmu mencapai tempat di rahimmu, Ibu, kau pasti tak akan melakukan ini semua. Hanya saja, dunia menggerus ingatanmu. Dan tak lagi membekaskan memori masa lalu asal muasalmu. Aku manusia, Ibu. Walau setengah manusia. Aku berhak hidup dan melihat dunia, walau ia fana.”
Dan aku lemas, tak lagi bernafas. Aku hanya berharap untuk diberi lagi kesempatan menjadi mani pada laki-laki, yang akan kembali membuatku berjuang dan berkejar-kejaran dalam himpitan. Mudah-mudahan aku sampai pada perempuan yang menanti kedatanganku. Bukan Ibu yang hanya menganggapku sebagai benalu.
aku masih saudara
Di mana ada gula di situ pasti ada semut, peribahasa ini bisa dikatakan pantas di alamatkan pada Tia dan Ratna. Sejak SD, SMP, hingga SMA mereka selalu bersama. Orang-orang sekitar yang mengenali mereka selalu memisalkan persahabatan seperti Tia dan Ratna.
Namun demikian, bagi yang menilainya tidaklah keliru memisalkan persahabatan seperti mereka. Walaupun pada prinsipnya persahabatan mereka diwarnai dengan pandangan dan kebiasaan yang berseberangan, bagi yang pernah mengenalnya, pasti akan tahu perbedaan mereka. Perbedaan kontras terletak pada hal-hal yang bersangkutan tentang pacaran.
Tia mengenal mencintai lawan jenis sejak SMP. Jikalau dihitung laki-laki yang pernah dekat dengannya ada tujuh orang, empat sewaktu SMP, dan tiga ketika SMA. Yang terakhir sekaligus masih utuh-utuhnya adalah Rudi, ketua OSIS di sekolah itu. Lain halnya dengan Ratna yang biasa-biasa saja dan terkesan sederhana. Dia hanya pernah memiliki satu orang yang pernah mencintainya. Laki-laki itu menjadi yang pertama dan yang terakhir baginya. Hubungan mereka terhendus oleh orang tuanya. Mereka sangat selektif terhadap perkembangan anaknya, terutama Tia. Karenanya hubungan mereka tak berlanjut, putus. Pasnya menjelang akhir semester dua. Hingga kini ia telah kelas XI, tak ada keinginannya untuk menerima tawaran pengganti cinta pertamanya.
Ratna yang kemungkinan berada pada tingkat ke lima dalam urusan cinta tak pernah tersisih atau ketinggalan. Dia telah menetapkan perhatiannya pada belajar. Buktinya Ratna lebih unggul dari Tia pada bidang akademik. Dia selalu mendapatkan tingkat pertama, baik inter maupun antar kelas. Bahkan perlombaan antar kelas maupun antar sekolah pernah diikutinya. Misalnya, lomba cerdas cermat, lomba pidato berbahasa inggris, dan ada juga lomba debat siswa.
Jikalau dinilai, Tia pun tak kalah daripada Ratna dalam porsi berbeda. Tia yang hanya selalu berada pada tingkat sepuluh besar lebih mengandalkan kecantikannya. Dia selalu tak pernah absen mengikuti acara perhelatan model diadakan di sekolah maupun di daerah. Dan jangan lupakan Tia yang berbakat seni tari. Wajah Tia akan selalu numpang di pentas dalam pergelaran seni tari daerah.
Kendati pun demikian, malah sebaliknya perbedaan di antara mereka justru tersingkir. Mereka selalu akur di kelas dan di luar sekolah. Di luar kesibukkan mereka selalu terlihat bersama.
Pagi hari menjelang proses belajar mengajar, Bu Yuli memasuki ruangan. Kegaduhan pun terjadi. Di antara mereka beranggapan, terjadi pertukaran mata pelajaran, ada pula yang menanyakan keberadaan Bu Neli, guru bahasa Indonesia, namun tak sedikit gembira. Bu Yuli pun meredam keributan yang terjadi.
Setelah seisi ruangan kembali sunyi, nyaman, beliau mengabarkan bahwa di lokal itu akan kedatangan teman baru, seorang laki-laki. Laki-laki itu pun dipanggil dan dipersilahkan memasuki ruangan. Pintu pun terbuka.
Ruangan malah gaduh. Lebih riuh dari yang sebelumnya. Terjadi komentar dari mulut ke mulut. Saling membisiki satu sama lain. Namun ada juga yang diam, tapi matanya berkelintan pada sosok yang berdiri di depan.
Teman baru itu dipersilahkan memperkenalkan diri. Sedikit canggung dia memperkenalkan diri. Namanya Maulana, Maulana Malik Adz Dzahiri. Pindahan dari Jakarta. Kemudian dia dipersilahkan menduduki bangku kosong paling belakang.
Memasuki hari kelima, Maulana menjelma menjadi sang idola. Dia menjadi buah bibir, terutama kalangan siswi-siswi. Tidak hanya itu saja, kebanyakan di antara mereka berjiberan di depan pintu kelas, taman-taman di depan kelas, bahkan mencoba mengintip atau memasuki ruangan.
Sejak itu Tia menyadari bahwa dalam dirinya terjadi sesuatu. Setiap waktu nama Maulana singgah di relung hatinnya. Ketika di lokal bola matanya selalu menjenguk sosok Maulana. Apa lagi di rumah, wajah Maulana selalu meracuni pikirannya. Dicobanya menepis anggapan itu, namun tak bisa. Dicarinya Rudi dan mengajaknya jalan bersama, tapi dia lebih banyak diam. Komunikasi jadi nggak nyambung.
Bila hati terkesan, tak mudah untuk menghapusnya
Ketika melihatnnya setelah itu tak bisa menghilangkan jejak wajah di balik jeruji dasar hati
Di sadari, maka ia akan sadar apa yang telah terjadi
Bahwa di hatinya tersimpan mutiara, yaitu cinta
Ditulisnya kata itu di diarinya. Kemudian pandangannya menerawang jauh tak terbatas. Dia ingin menemukan sosok yang membelenggu perasaannya di sana. Bulan sabit mengintip di balik seprai jendela, kemudian disibaknya.
Sehabis jam pelajaran, seisi kelas bubar. Diringi pekik kegembiraan siswa-siswi. Sedangkan Tia menuruti beban di hatinya, dengan berdiri manja. Keadaan ini mengundang prasangka Ratna di sampingnya.
“Tia beberapa hari ini kamu kok gak seperti biasanya. Apa kamu sakit?” Ratna memperlihatkan raut wajah kasihan dengan memberikan perhatian pada teman satunya ini.
“Ah tidak, gak apa-apa kok” jawab Tia ringan, seolah tak pernah terjadi apapun. Tia berbohong. Ratna hanya menggeleng kepala, sementara ia tak bisa memberikan keteduhan pada ego Tia.
Hari demi hari berlanjut, sementara kegesitan Tia pudar di mata Ratna. Namun Tia tak pernah berkata jujur sekalipun padanya. Ketika ditanya, Tia enggan berterus terang. Sejak itu pula Ratna merasakan bak orang lain. Tapi dia merasa kasihan pada Tia. Beberapa hari ini sepertinya kemelut semakin giat mengikis kondisi badan Tia menjadi semakin kurus.
Tidak hanya Tia saja sebagai teman yang merasa dicuekin, tapi juga Rudi. Rudi sebagai pacarnya selalu membesuk Tia di rumah, menanyakan keadaannya melalui HP, dan menawarkan Tia bersedia diantarkan ke rumah, namun tak digubris. Tia seperti kehilangan kewarasan, baik Ratna maupun Rudi, tak luput dari makian kasar. Alasan tanpa dasar. Membikin hati berduri.
Seperti biasanya Tia dan Ratna pulang sekolah bersama, namun kali ini tidak. Tia yang sering kali ditanya selalu berkilah. Dia hanya ingin tak ditemani. Ke sanggar tari pun telah belajar absen. Hasil materi latihan jeblok. Pekerjaan rumah tak dikerjakan. Kadang juga telat. Di mata Ratna, Tia sekarang lain dari pada Tia yang pernah dikenalnya.
Sebagai teman, Ratna menginginkan Tia agar kembali ceria seperti sebelumnya.
Sehabis jam pelajaran disengajakannya berlalu duluan dari Tia. Dia memikirkan suatu cara. Dia ingin membuktikan penyebab perubahan sikap Tia.
Di kantin, tak jauh dari gerbang sekolah Ratna bersembunyi. Dia bersama Rudi. Mereka telah sepakat berdua berkumpul di sana. Mereka menunggu kesempatan memergoki Tia. Mereka telah menaruh curiga, tapi hanya tinggal pembuktian saja. Mereka telah mencurigai dalang penyebab perubahan sikap Tia.
Mungkin saja Maulana itu, anak baru itu, desis pikirannya. Pikirannya melayang mengenang kejadian sepanjang kehadiran Maulana di sekolahnya.
Matahari merona dengan garangnya. Walaupun ia telah terjungkir dari puncak, memberati ke bagian barat, namun panas teriknya tak berkurang. Bersamaan itu Tia muncul dari gerbang bersama seseorang di depannya.
“Benar dugaanku bukan. Ternyata Tia memang mengejar-ngejar Maulana.” Ratna berkacak pinggang, sementara dilihatnya paras Rudi tegang, memerah. Rudi hanya diam saja.
“Kamu jangan marah ya sama Tia.” Ratna sepertinya telah membaca gelagat Rudi. “Bagaimana pun dia adalah temanku” tambahnya harap cemas. Dia teringat ketika Rudi dimaki habis oleh Tia di depannya ketika itu.
“Tenang saja aku akan mencoba menahan amarahku. Cuma aku sedang berpikiran bagaimana Tia berbalik ke aku,” tandas Rudi.
Dilihatnya Tia mendekat dengan Maulana. Di antara keduanya terjadi percakapan serius. Sepertinya Tia lebih banyak bicara dan seakan mengiba. Namun reaksi Maulana dingin.
Ratna meraih tangan Rudi, mencegat.
“Ke mana? Biarkan dulu sampai Maulana pergi. Tolong! Aku juga merasakan sakit yang kamu rasakan. Tapi bagaimana pun dia tetap temanku.” Ratna tak ingin terjadi sesuatu, makanya yang ditenangkan terlebih dahulu adalah rasa gundah Rudi. “Kamu tetap ingin balik padanya, bukan! Percayalah padaku. Tunggulah! Kalau tidak….” Sebenarnya Ratna ingin menerangkan tentang sikap Tia pada setiap laki-laki berdasarkan cerita yang pernah didengarnya dari Tia. Tia membenci laki-laki yang pencemburu. Maka tidak salah Tia selalu bergonta ganti pacar. Tapi niatnya terhalang.
Maulana pergi. Dia menghindar. Mengabaikan perasaan suka Tia padanya. Tia terlihat menangis.
“Tunggulah di sini dulu. Nanti kamu menyusul setelah aku pada waktu yang tepat, agar keberadaan kita tidak dicurigainya,” terang Ratna. Kemudian ia berlalu.
“Tia ada apa denganmu. Ah kamu menangis! Apa yang telah terjadi?” Dirangkulnya pundak Tia ke pelukannya. Tia menghapus air mata, tapi belum menjawab. Malah pelukan Tia semakin erat. Ratna merasakan perasaan temannya terguncang. “Ada apa Tia, coba katakan padaku. Berhentilah menangis” Tia masih tetap membisu.
Ratna melepaslan pelukkannya dengan lembut, kemudian berkata, “Percayalah padaku. Janganlah kali ini kamu mencoba berkilah. Lihatlah dirimu, air mata yang membasahi pipimu, apakah kamu masih menganggap aku ini sebagai temanmu!” Tia tak kuasa menahan gejolak haru perasaannya serta rasa bersalah mendalam pada Ratna, kemudian dipeluknya lagi.
“Maafkan aku Rat. Aku terlalu egois padamu,” suaranya parau. “Maafkan aku Rat. Aku telah…”
“Tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Itu biasa. Gak apa-apa! Kapan dan di mana pun aku ini tetap saudaramu. Cobalah katakan, apa yang telah terjadi,” potong Ratna. Dia melepaskan pelukan dan menatap dalam mendung di matanya itu seraya mengangguk pelan.
“Maafkan aku Rat. Selama ini aku telah membohongimu. Aku tak bisa, sungguh aku tak bisa…” Air matanya membuncah. Suaranya bergetar.
Rudi kini telah berada di belakang mereka. Sesuai dengan komando Ratna melalui kedipan mata, dia paham maksud yang disampaikan Ratna dan membiarkan kejadian berlangsung di depan matanya.
“Katakanlah Tia. Kamu tahu kan aku tak bisa menunggu terlalu lama,” desaknya.
“Tadi aku bersama Maulana. Aku sengaja menemuinya untuk mengatakan sesuatu…” Suaranya tertahan mencoba mengenang kejadian bersama Maulana.
“Mengatakan apa? “ Dia mencoba merasakannya dengan penuh pengertian.
“Aku mengatakan bahwa aku suka padanya. Bahkan aku menjelaskan padanya, betapa aku menginginkannya dan ingin menyayanginya. Dan aku juga mengatakan bahwa aku tak bisa melupakannya.”
“Dan apa jawabannya sehingga membuatmu seperti ini.”
“Rat, dia menolakku…hu…hu…”
“Dan kata-katanya, sehingga kamu sampai menangis.”
“Dia mengatakan, carilah laki-laki yang lain, karena…” Dihapusnya air mata yang meleleh. “Karena kedatanganku belajar di sini, pindah dari jakarta adalah untuk mencari ketenangan. Dia tak ingin menyukai wanita. Di Jakarta, karena wanita, teman-temannya menjadi terperangkap narkoba dan perbuatan keji lainnya. Dia tak ingin pacaran. Tidak ingin juga karena tuntunan agama. Karena menurutnya, agama melarang berpacaran. Dan katanya lagi, ternyata wanita di Jakarta, sebagiannya masih sama dengan di sini. Suka mengejar laki-laki dengan perasaan tak malu. Dia sungguh menyesal. Kemudian pergi,” kata Tia menirukan paparan laki-laki itu.
Dia benar, dalam Islam dilarang berhubungan antar yang bukan mahram. Tapi seharusnya dia berhati-hati mengucapkan kata-kata yang menyakiti itu. Namun kata-kata ini dibiarkannya bergema di hatinya. Ditatapnya Tia.
“Lihatlah, siapa yang berada di belakangmu.”
Tia menoleh, dan…
Namun demikian, bagi yang menilainya tidaklah keliru memisalkan persahabatan seperti mereka. Walaupun pada prinsipnya persahabatan mereka diwarnai dengan pandangan dan kebiasaan yang berseberangan, bagi yang pernah mengenalnya, pasti akan tahu perbedaan mereka. Perbedaan kontras terletak pada hal-hal yang bersangkutan tentang pacaran.
Tia mengenal mencintai lawan jenis sejak SMP. Jikalau dihitung laki-laki yang pernah dekat dengannya ada tujuh orang, empat sewaktu SMP, dan tiga ketika SMA. Yang terakhir sekaligus masih utuh-utuhnya adalah Rudi, ketua OSIS di sekolah itu. Lain halnya dengan Ratna yang biasa-biasa saja dan terkesan sederhana. Dia hanya pernah memiliki satu orang yang pernah mencintainya. Laki-laki itu menjadi yang pertama dan yang terakhir baginya. Hubungan mereka terhendus oleh orang tuanya. Mereka sangat selektif terhadap perkembangan anaknya, terutama Tia. Karenanya hubungan mereka tak berlanjut, putus. Pasnya menjelang akhir semester dua. Hingga kini ia telah kelas XI, tak ada keinginannya untuk menerima tawaran pengganti cinta pertamanya.
Ratna yang kemungkinan berada pada tingkat ke lima dalam urusan cinta tak pernah tersisih atau ketinggalan. Dia telah menetapkan perhatiannya pada belajar. Buktinya Ratna lebih unggul dari Tia pada bidang akademik. Dia selalu mendapatkan tingkat pertama, baik inter maupun antar kelas. Bahkan perlombaan antar kelas maupun antar sekolah pernah diikutinya. Misalnya, lomba cerdas cermat, lomba pidato berbahasa inggris, dan ada juga lomba debat siswa.
Jikalau dinilai, Tia pun tak kalah daripada Ratna dalam porsi berbeda. Tia yang hanya selalu berada pada tingkat sepuluh besar lebih mengandalkan kecantikannya. Dia selalu tak pernah absen mengikuti acara perhelatan model diadakan di sekolah maupun di daerah. Dan jangan lupakan Tia yang berbakat seni tari. Wajah Tia akan selalu numpang di pentas dalam pergelaran seni tari daerah.
Kendati pun demikian, malah sebaliknya perbedaan di antara mereka justru tersingkir. Mereka selalu akur di kelas dan di luar sekolah. Di luar kesibukkan mereka selalu terlihat bersama.
Pagi hari menjelang proses belajar mengajar, Bu Yuli memasuki ruangan. Kegaduhan pun terjadi. Di antara mereka beranggapan, terjadi pertukaran mata pelajaran, ada pula yang menanyakan keberadaan Bu Neli, guru bahasa Indonesia, namun tak sedikit gembira. Bu Yuli pun meredam keributan yang terjadi.
Setelah seisi ruangan kembali sunyi, nyaman, beliau mengabarkan bahwa di lokal itu akan kedatangan teman baru, seorang laki-laki. Laki-laki itu pun dipanggil dan dipersilahkan memasuki ruangan. Pintu pun terbuka.
Ruangan malah gaduh. Lebih riuh dari yang sebelumnya. Terjadi komentar dari mulut ke mulut. Saling membisiki satu sama lain. Namun ada juga yang diam, tapi matanya berkelintan pada sosok yang berdiri di depan.
Teman baru itu dipersilahkan memperkenalkan diri. Sedikit canggung dia memperkenalkan diri. Namanya Maulana, Maulana Malik Adz Dzahiri. Pindahan dari Jakarta. Kemudian dia dipersilahkan menduduki bangku kosong paling belakang.
Memasuki hari kelima, Maulana menjelma menjadi sang idola. Dia menjadi buah bibir, terutama kalangan siswi-siswi. Tidak hanya itu saja, kebanyakan di antara mereka berjiberan di depan pintu kelas, taman-taman di depan kelas, bahkan mencoba mengintip atau memasuki ruangan.
Sejak itu Tia menyadari bahwa dalam dirinya terjadi sesuatu. Setiap waktu nama Maulana singgah di relung hatinnya. Ketika di lokal bola matanya selalu menjenguk sosok Maulana. Apa lagi di rumah, wajah Maulana selalu meracuni pikirannya. Dicobanya menepis anggapan itu, namun tak bisa. Dicarinya Rudi dan mengajaknya jalan bersama, tapi dia lebih banyak diam. Komunikasi jadi nggak nyambung.
Bila hati terkesan, tak mudah untuk menghapusnya
Ketika melihatnnya setelah itu tak bisa menghilangkan jejak wajah di balik jeruji dasar hati
Di sadari, maka ia akan sadar apa yang telah terjadi
Bahwa di hatinya tersimpan mutiara, yaitu cinta
Ditulisnya kata itu di diarinya. Kemudian pandangannya menerawang jauh tak terbatas. Dia ingin menemukan sosok yang membelenggu perasaannya di sana. Bulan sabit mengintip di balik seprai jendela, kemudian disibaknya.
Sehabis jam pelajaran, seisi kelas bubar. Diringi pekik kegembiraan siswa-siswi. Sedangkan Tia menuruti beban di hatinya, dengan berdiri manja. Keadaan ini mengundang prasangka Ratna di sampingnya.
“Tia beberapa hari ini kamu kok gak seperti biasanya. Apa kamu sakit?” Ratna memperlihatkan raut wajah kasihan dengan memberikan perhatian pada teman satunya ini.
“Ah tidak, gak apa-apa kok” jawab Tia ringan, seolah tak pernah terjadi apapun. Tia berbohong. Ratna hanya menggeleng kepala, sementara ia tak bisa memberikan keteduhan pada ego Tia.
Hari demi hari berlanjut, sementara kegesitan Tia pudar di mata Ratna. Namun Tia tak pernah berkata jujur sekalipun padanya. Ketika ditanya, Tia enggan berterus terang. Sejak itu pula Ratna merasakan bak orang lain. Tapi dia merasa kasihan pada Tia. Beberapa hari ini sepertinya kemelut semakin giat mengikis kondisi badan Tia menjadi semakin kurus.
Tidak hanya Tia saja sebagai teman yang merasa dicuekin, tapi juga Rudi. Rudi sebagai pacarnya selalu membesuk Tia di rumah, menanyakan keadaannya melalui HP, dan menawarkan Tia bersedia diantarkan ke rumah, namun tak digubris. Tia seperti kehilangan kewarasan, baik Ratna maupun Rudi, tak luput dari makian kasar. Alasan tanpa dasar. Membikin hati berduri.
Seperti biasanya Tia dan Ratna pulang sekolah bersama, namun kali ini tidak. Tia yang sering kali ditanya selalu berkilah. Dia hanya ingin tak ditemani. Ke sanggar tari pun telah belajar absen. Hasil materi latihan jeblok. Pekerjaan rumah tak dikerjakan. Kadang juga telat. Di mata Ratna, Tia sekarang lain dari pada Tia yang pernah dikenalnya.
Sebagai teman, Ratna menginginkan Tia agar kembali ceria seperti sebelumnya.
Sehabis jam pelajaran disengajakannya berlalu duluan dari Tia. Dia memikirkan suatu cara. Dia ingin membuktikan penyebab perubahan sikap Tia.
Di kantin, tak jauh dari gerbang sekolah Ratna bersembunyi. Dia bersama Rudi. Mereka telah sepakat berdua berkumpul di sana. Mereka menunggu kesempatan memergoki Tia. Mereka telah menaruh curiga, tapi hanya tinggal pembuktian saja. Mereka telah mencurigai dalang penyebab perubahan sikap Tia.
Mungkin saja Maulana itu, anak baru itu, desis pikirannya. Pikirannya melayang mengenang kejadian sepanjang kehadiran Maulana di sekolahnya.
Matahari merona dengan garangnya. Walaupun ia telah terjungkir dari puncak, memberati ke bagian barat, namun panas teriknya tak berkurang. Bersamaan itu Tia muncul dari gerbang bersama seseorang di depannya.
“Benar dugaanku bukan. Ternyata Tia memang mengejar-ngejar Maulana.” Ratna berkacak pinggang, sementara dilihatnya paras Rudi tegang, memerah. Rudi hanya diam saja.
“Kamu jangan marah ya sama Tia.” Ratna sepertinya telah membaca gelagat Rudi. “Bagaimana pun dia adalah temanku” tambahnya harap cemas. Dia teringat ketika Rudi dimaki habis oleh Tia di depannya ketika itu.
“Tenang saja aku akan mencoba menahan amarahku. Cuma aku sedang berpikiran bagaimana Tia berbalik ke aku,” tandas Rudi.
Dilihatnya Tia mendekat dengan Maulana. Di antara keduanya terjadi percakapan serius. Sepertinya Tia lebih banyak bicara dan seakan mengiba. Namun reaksi Maulana dingin.
Ratna meraih tangan Rudi, mencegat.
“Ke mana? Biarkan dulu sampai Maulana pergi. Tolong! Aku juga merasakan sakit yang kamu rasakan. Tapi bagaimana pun dia tetap temanku.” Ratna tak ingin terjadi sesuatu, makanya yang ditenangkan terlebih dahulu adalah rasa gundah Rudi. “Kamu tetap ingin balik padanya, bukan! Percayalah padaku. Tunggulah! Kalau tidak….” Sebenarnya Ratna ingin menerangkan tentang sikap Tia pada setiap laki-laki berdasarkan cerita yang pernah didengarnya dari Tia. Tia membenci laki-laki yang pencemburu. Maka tidak salah Tia selalu bergonta ganti pacar. Tapi niatnya terhalang.
Maulana pergi. Dia menghindar. Mengabaikan perasaan suka Tia padanya. Tia terlihat menangis.
“Tunggulah di sini dulu. Nanti kamu menyusul setelah aku pada waktu yang tepat, agar keberadaan kita tidak dicurigainya,” terang Ratna. Kemudian ia berlalu.
“Tia ada apa denganmu. Ah kamu menangis! Apa yang telah terjadi?” Dirangkulnya pundak Tia ke pelukannya. Tia menghapus air mata, tapi belum menjawab. Malah pelukan Tia semakin erat. Ratna merasakan perasaan temannya terguncang. “Ada apa Tia, coba katakan padaku. Berhentilah menangis” Tia masih tetap membisu.
Ratna melepaslan pelukkannya dengan lembut, kemudian berkata, “Percayalah padaku. Janganlah kali ini kamu mencoba berkilah. Lihatlah dirimu, air mata yang membasahi pipimu, apakah kamu masih menganggap aku ini sebagai temanmu!” Tia tak kuasa menahan gejolak haru perasaannya serta rasa bersalah mendalam pada Ratna, kemudian dipeluknya lagi.
“Maafkan aku Rat. Aku terlalu egois padamu,” suaranya parau. “Maafkan aku Rat. Aku telah…”
“Tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Itu biasa. Gak apa-apa! Kapan dan di mana pun aku ini tetap saudaramu. Cobalah katakan, apa yang telah terjadi,” potong Ratna. Dia melepaskan pelukan dan menatap dalam mendung di matanya itu seraya mengangguk pelan.
“Maafkan aku Rat. Selama ini aku telah membohongimu. Aku tak bisa, sungguh aku tak bisa…” Air matanya membuncah. Suaranya bergetar.
Rudi kini telah berada di belakang mereka. Sesuai dengan komando Ratna melalui kedipan mata, dia paham maksud yang disampaikan Ratna dan membiarkan kejadian berlangsung di depan matanya.
“Katakanlah Tia. Kamu tahu kan aku tak bisa menunggu terlalu lama,” desaknya.
“Tadi aku bersama Maulana. Aku sengaja menemuinya untuk mengatakan sesuatu…” Suaranya tertahan mencoba mengenang kejadian bersama Maulana.
“Mengatakan apa? “ Dia mencoba merasakannya dengan penuh pengertian.
“Aku mengatakan bahwa aku suka padanya. Bahkan aku menjelaskan padanya, betapa aku menginginkannya dan ingin menyayanginya. Dan aku juga mengatakan bahwa aku tak bisa melupakannya.”
“Dan apa jawabannya sehingga membuatmu seperti ini.”
“Rat, dia menolakku…hu…hu…”
“Dan kata-katanya, sehingga kamu sampai menangis.”
“Dia mengatakan, carilah laki-laki yang lain, karena…” Dihapusnya air mata yang meleleh. “Karena kedatanganku belajar di sini, pindah dari jakarta adalah untuk mencari ketenangan. Dia tak ingin menyukai wanita. Di Jakarta, karena wanita, teman-temannya menjadi terperangkap narkoba dan perbuatan keji lainnya. Dia tak ingin pacaran. Tidak ingin juga karena tuntunan agama. Karena menurutnya, agama melarang berpacaran. Dan katanya lagi, ternyata wanita di Jakarta, sebagiannya masih sama dengan di sini. Suka mengejar laki-laki dengan perasaan tak malu. Dia sungguh menyesal. Kemudian pergi,” kata Tia menirukan paparan laki-laki itu.
Dia benar, dalam Islam dilarang berhubungan antar yang bukan mahram. Tapi seharusnya dia berhati-hati mengucapkan kata-kata yang menyakiti itu. Namun kata-kata ini dibiarkannya bergema di hatinya. Ditatapnya Tia.
“Lihatlah, siapa yang berada di belakangmu.”
Tia menoleh, dan…
Langganan:
Postingan (Atom)
