Rabu, 04 November 2009

Semenit Renungan




Ada seorang anak yang bersifat pemarah.

Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku dipagar belakang setiap kali dia marah.

Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah.lalu secara bertahap jumlah itu berkurang.

Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.

Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya.Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah

Hari-hariberlalu dan anak itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya.lalu sang ayah menuntun anaknya kepagar..hmm? kamu telah berhasil dengan baik anakku., lihatlah lubang-lubang dipagar ini, pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya, ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan..kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini..dihati orang lain.

kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu.tetapi tidak perduli kamu minta maaf..luka itu akan tetap ada.dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik.

Belajar Mengatur Emosi dari Nyamuk




Selelepas Isya, ketika duduk diruang tamu dan berbincang-bincang dengan putri saya yang berumur 12 tahun, ketanangan saya dan putri saya terganggu dengan banyaknya nyamuk. Padahal berbincang-bincang akrab dirumah dengan putri saya sekarang ini menjadi suatu momen yang langka. Hanya dua atau tiga kali setahun. Yaitu ketika putri saya libur sekolah. Sudah menginjak tahun kedua putri saya bersekolah di“Islamic Boarding School” atau pondok pesantren dan baru pulang kerumah pada saat liburan semester atau libur lebaran. Jadi, Libur sepuluh hari dirumah menjadi waktu sangat berharga buat kami. Kebiasaan berdiskusi selepas isya adalah kebiasaan saya dan putri saya sejak dia mulai bisa bicara. Bicara selayaknya ayah dan anak, seperti sahabat, seperti guru dan murid, dan juga berdebat. Alhamdulillah kebiasaan ini menjadikan anak saya tumbuh cerdas dan berwawasan luas.

Sore itu nyamuk begitu banyak, lebih banyak dari biasanya. Sejak siang pintu depan memang sering dibuka agar udara segar bisa masuk. Rumah kami tidak ber-AC. Untuk membuat sejuk saya menanam banyak pohon dan menghiasi depan rumah dengan pot gantung. Mungkin pepohonan yang rimbun dibagian depan rumah menjadikan rumah kami sejuk sehingga jadi tempat yang nyaman bagi nyamuk. Saya memilih tetap sejuk dan banyak pohon walaupun banyak nyamuk daripada gersang tapi nyamuk tetap saja banyak. Selain itu, sejuk tanpa AC jelas menghemat listrik.

Raket nyamuk, belum di-recharge sehingga baterainya lemah dan tidak bisa digunakan. Obat nyamuk gosok habis. Jadi biarlah banyak nyamuk sore ini, nanti jika mau tidur baru disemprot.

Ada hal yang menarik, ketika kami sibuk menepuk nyamuk-nyamuk yang coba-coba menempel ditangan kami. Ketika akan ditepuk dan tangan mulai diarahkan dan rasa gemas atau emosi menyatu untuk segera menepak nyamuk, tiba-tiba nyamuk dengan cepat terbang menyelamatkan diri. Begitu berulaang-ulang. Putri sayapun saya perhatikan mengalami hal yang sama. Saya jadi tertarik, dan berfikir dalam.

Apakah nyamuk memiliki sensitifitas terhadap emosi saya atau karena ia merasakan gerakan saya yang akan menepuknya?.

Kemudian saya mencoba cara lain, saya membiarkan lengan saya dihinggapi nyamuk. Saya memasang strategi dengan diam dan tidak ada gerakan sedikitpun, tangan kiri dibiarkan digigit nyamuk dan tangan kanan dipersiapkan untuk menepuk secepat kilat. Lalu dengan emosi yang meninggi dan perasaan gemas, dendam dan nafsu ingin membunuh nyamuk tersebut, sayapun mulai berniat menyiapkan tangan saya untuk menepuknya secepat mungkin sehingga nyamuk tak bisa mengelak. Namun hasilnya mencengangkan, ketika emosi dan rasa ingin membunuh memenuhi perasaan, nyamuk sudah keburu terbang, tepukan belum lagi dilayangkan, bahkan tangan yang akan digunakan belum lagi deigerakkan. Tak hanya sekali, tapi berkali-kali.

Saya semakin tertarik mengamati tingkah nyamuk-nyamuk itu. Kemudian mencoba strategi baru. Mengambil waktu agak lama saya mencoba menenangkan diri, mengatur emosi layaknya orang bermeditasi. Tak ada rasa marah, tak ada emosi, apalagi rasa kesal dan dendam untuk membunuh mahluk kecil itu. Wajah terpaksa disenyum-senyumkan agar hati menjadi segar. Perasaan datar saja, tepukanpun tidak mengerahkan tenaga, namun tetap berusaha agar mendapatkan kecepatan yang wajar. Hanya seperti layaknya menggerakkan tangan kearah lengan. Nyamuk yang menempel ditangan dianggap tidak ada. Dan anehnya, nyamuk diam saja dan rela mati terkena tepukan yang tidak seberapa cepat apalagi kuat. Saya coba beberapa kali, ternyata berlaku sama.
Sayapun mencoba untuk menepuk nyamuk yang menempel di sofa. Bila menepuk dengan emosi nyamuk terbang, menepuk dengan santai nyamuk diam, walaupun sesekali tetap terbang karena gerakan badan saya terlalu berlebihan. Saya mencoba pula menepuk nyamuk yang hinggap dikaki putri saya dengan dua metode tersebut. Rata-rata menghasilkan kesimpulan yang sama.

Hal tersebut saya informasikan ke putri saya, dan dia melakukan percobaan dua metode tersebut dan ternyata hasilnya rata-rata sama.

Wajah yang bengis, penuh kebencian, amarah, emosi, dendan dan niat menghancurkan ternyata sangat tidak disukai oleh nyamuk.

Ironis,
Dalam kehidupan nyata, banyak sekali kita menemukan manusia yang menampilkan wajah penuh amarah, bengis, hati emosi dan dipenuhi kebencian, kata-kata kasar dan tidak sopan. Dikantor banyak Bos memaki anak buah, dirumah banyak pembantu dimaki dan disiksa majikan, dijalan banyak orang saling sumpah serapah karena berkendaran tak mengindahkan aturan, para demonstran memaki pemerintah, dan seterusnya. Bahkan dalam kehidupan beragama pun tak lepas dari sifat itu, Suni memaki syiah, syiah memaki suni, dan seterusnya. Bahkan ada yang sangat destruktif. Orang-orang berperangai buruk tersebut bukan saja dibenci oleh nyamuk, bahkan manusia lainpun tentu akan membencinya. Kebencianpun menyebar kemana-mana. Kehidupan Islami yang rukun dan damai jadi tinggal teori.

Saya jadi ingat surah dalam Al-Quran. Dalam kitab suci Alquran, Allah SWT menegur Nabi Muhammad SAW karena Nabi menampilkan muka masam dan berpaling ketika seorang buta datang kepadanya. Bahkan hal tersebut diabadikan menjadi nama Surah, yaitu surah ’Abasa. QS:80. ”Ia Bermuka Masam”.

Karena sudah merupakan ketentuan Allah bahwa setiap suatu hal yang disebutkan didalam alquran adalah suatu yang penting dan wajib dikaji atau disimak dengan baik, dikaji dari berbagai hal, maka ”Bermuka Masam” pun adalah suatu hal yang penting. Sama pentingnya seperti hal-hal lain yang ditulis didalam Al-Quran seperti mengenai, keimanan, sholat, puasa, zakat. Atau sama pentingnya untuk dikaji seperti halnya Baja/besi yang disebut dalam surah al Hadid, lebah, dan semut, dan lain-lain. Menampilkan muka masam dilarang oleh Allah, bahkan Allah SWT menegur orang yang berlaku tersebut, termasuk Nabi, yang merupakan hamba dan Rasulnya yang mulia. Namun jarang sekali ini dibahas secara ilmiah, para ulama pun kabanyakan hanya membahas soal ibadah seperti sholat, puasa, zakat dan haji. Dan banyak yang terlalu bersemangat mengkaji masalah jihad sehingga masalah bermuka masam dan pengaruhnya terhadap nyamuk tak terkaji secara dalam dan detail.

Nyamuk mengajarkan saya dan keluarga, bahwa nyamuk yang tak suka wajah beringas, dengan hati emosi penuh nafsu membunuh dan hasrat ingin menghancurkan. Nyamukpun mengantarkan saya pada surah ’Abasa. Jangan bermuka masam! Apalagi berkata kasar, berpenampilan sangar, bengis dan hati penuh dendam dan kebencian, apalagi nafsu ingin menghancurkan. Nauzubillah.

Sumber : http://eramuslim.com

Jaringan Maya Yang Menyesatkan



Hujan gerimis membasahi satu sore menjelang malam di bulan Oktober. Di teras itu saya duduk bersamanya, seorang perempuan awal tiga puluhan. Wajahnya pucat dan cekung. Matanya sembab. Ia bukan lagi sosok ceria yang pernah saya kenal. Betapa derita telah menyedot kebahagiaannya. Di depan saya dia menjadi begitu rapuh.

“Mengapa laki-laki seperti itu, Mbak? Orang yang seharusnya membina dan membimbing keluarga, tega menyakiti hati istrinya? Meskipun hanya lewat facebook atau hp, disebut apa itu kalau bukan selingkuh? Yang ada dalam pikirannya hanya seks dan memikat perempuan. Aku nggak tahan lagi, Mbak. Ini sudah yang kesekian kalinya. Aku capek…,”lirih bibirnya berkata.

Saya terdiam. Hanya sanggup mengusap arus air yang jatuh dari matanya, mengalir di pipinya yang tirus.

“Untuk apakah pernikahan itu mbak? Apa artinya selain penjara bagi kami? Aku berjuang mengalahkan egoku untuk dia. Aku mengubur cita-citaku. Aku bekerja untuk membantunya menafkahi keluarga. Aku menjaga harta dan anak-anaknya. Aku melayaninya sekuat aku bisa di sisa-sisa tenagaku. Aku menjaga harga diri dan kehormatannya di depan orang. Aku tidak mau menyerewetinya begini terus, aku capek menjadi orang yang selalu mengomeli dia. Sekarang dia menganggap aku terlalu ikut campur urusannya. Allah.. mengapa dia tega??” jeritnya tertahan di sela isak tangisnya.

Tangisnya tiba-tiba meledak. Saya memeluknya. Angin berhenti bertiup. Pepohonan tak lagi menggesek dedaunannya, seakan menyelami perasaan seorang wanita yang sedang kehilangan sayapnya.

“Menangislah, Dek. Habiskanlah tangismu malam ini, hingga tak ada lagi sisa kemarahanmu esok. Anak-anak, wajah kamu yang akan mereka lihat esok. Untuk merekalah kau harus berjuang untuk hidup,” saya mencoba membuatnya bangkit.

Tampaknya topik anak menjadi hal yang sangat sensitif baginya. Tangisnya kian dalam di dada saya. Cakrawala membenamkan cahaya sore perlahan. Alam mendengarkan nyanyian cinta seorang istri kepada suaminya. Begitu halus dan manis. Namun mengapa justru suaminya tak dapat mendengar kasidah indah itu?

Tak sekali dua saya mendengarkan curhatan teman-teman tentang perilaku para suami. Sebenarnya saya tidak begitu suka, tetapi daripada mereka bercerita kepada orang tang tidak tepat, lebih baik saya sediakan telinga. Sesungguhnya perempuan hanya perlu didengarkan.

Paling banyak mereka mengeluhkan tentang selingkuhan. Sejak dari berteman terlalu akrab sampai pada perilaku seksual dengan orang selain istrinya. Kali ini teman saya ini bercerita tentang perilaku suaminya yang mulai aneh-aneh sejak aktif berinternet. Sejak ada internet di rumah, suaminya selalu nongkrong di depan komputer. Sampai akhirnya teman saya sendiri tertidur karena lelah seharian bekerja dan mengurus rumah. Mengajak suaminya untuk tidur bersama-sama pun sering ditampik. Mereka mulai jarang mengobrol. Suaminya asyik berinternet, dia sendiri sibuk dengan pekerjaan rumah dan anak-anak. Terkadang sampai menjelang subuh suaminya baru tidur. Pada handphone suaminya dia pun sering mendapati ada panggilan atau telepon yang dilakukan lewat tengah malam. Ketika nomor itu ditelepon kembali, ternyata suara di seberang adalah milik seorang perempuan.

Sebelumnya ia menemukan gambar-gambar yang tidak pantas dalam folder tersembunyi di komputer rumah mereka. Sakit hati sudah pasti. Ia yang dengan tegasnya menolak pornografi, memiliki suami yang menjadi konsumen pornografi. Naif. Sekali, dua, tiga, empat, dan sekian kali suaminya selalu minta maaf dan berjanji untuk tidak lagi mengulangi perbuatannya. Lama-lama ia terbiasa meskipun sungguh tidak ingin.Menganggap istrinya baik hati, suaminya malah mulai berekperimen dengan hawa nafsunya: membuat ID facebook samaran untuk menggaet perempuan gampangan, terakhir ia mendapati suaminya melakukan virtual seks dengan perempuan melalui video call. Setan bertepuk tangan.

Menyakitkan.

Yah, bagi perempuan, apa lagi yang dapat dirasa? Terhina, malu, rendah diri, marah, putus asa, merasa dikhianati.

Teknologi tidak selalu membawa kebaikan bagi manusia. Semakin kuat, semakin rapuh pula ia. Teknologi ibarat pisau bermata dua. Bisa digunakan untuk memotong sayuran, tetapi sekaligus dapat melukai jari kita sendiri. Dunia maya dan jejaring sosial di internet telah membuka ruang privat menjadi lebih luas daripada ruang umum. Karena itu, tak heran lagi bila kebanyakan selingkuh dimulai dari ruang-ruang tertutup itu. Tidak hanya laki-laki, perempuan juga berlomba memenuhi hawa nafsunya di sana. Ada yang rela meninggalkan keluarganya demi kesenangan semu itu. Dipikirnya orang yang diajak berselingkuh lebih sesuai. Dia tidak menyadari bahwa setanlah yang telah menipunya.

“Ini ujian kenaikan tingkat untukmu, Dek. Allah sangat sayang kepadamu. Tak usahlah kita memikirkan hak. Bila suamimu tak sanggup memenuhinya, biar Allah yang mencukupkan. Ingatkan suamimu, ia sedang tersesat. Lihat apa yang belum sempurna kamu berikan kepadanya. Tak ada salahnya mencoba memperbaiki. Bersabarlah. Tak ada yang sempurna. Jika kamu tinggalkan dia, berarti kamu melepaskan ladang dakwah yang Allah berikan saat ini untukmu. Cinta itu memberi, tanpa menagih hasil. Kamu ingat kan, lilin yang habis lumat karena menerangi sekelilingnya? Kamu pasti bisa, Dek. Kamu hanya sedang tidak fokus dan terlalu sedih sekarang. Kamu bisa lalui ini. Kamu perempuan luar biasa,” saya menggenggam tangannya erat.

Seperti tersengat, tangisannya mulai reda. Saya tahu dia masih menyimpan semangat yang terkubur kepanikan dan kesedihan selama bertahun-tahun. Ia terdiam, memandangi daun melati air yang terangguk. Aliran air mata mulai terhenti menyisakan manik berkilau di matanya. Saya mengangkat wajahnya.

“Katakan kamu bisa! Kamu bisa menangis, mengapa tidak bisa tersenyum?” ujar saya.

Ia hanya menunduk. Tetapi tak ada lagi tangisnya. Saya mencolek hidungnya. Ia menatap saya lalu menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyum tipis.

Ah, sahabat… dunia ini membahagiakan jika kau tahu pahitnya sedih. Menangislah jika kau ingin. Malam ini saja. Karena esok matahari akan membawamu menjadi dirimu yang baru. Berjanjilah untuk berjuang mencari jalan dari kebuntuan hidupmu. Jadilah lilin untuk keluarga dan masyarakatmu. Jangan pernah anggap dunia ini tak adil untukmu. Kehidupan abadi yang menyenangkan akan menjadi milikmu.

Untuk temanku yang mulai bermain dengan nafsumu, ketahuilah bahwa apa yang kau pegang adalah air laut yang terus merosot dari genggamanmu. Dan ketika kau minum airnya, dahagamu menjadi. Saat kau melihat orang lain lebih cantik/tampan dari istri/suamimu, mengapakah harus merasa istri/suamimu tidak seperti harapanmu? Kecantikan itu sesaat, harta itu sementara. Dan ketika semuanya hilang, kau punya apa?

Tak ada yang perlu diputus. Mengapa harus meninggalkan mereka? Kau merasa telah meninggalkan ketidaksempurnaan istri/ suamimu untuk sebuah kebahagiaan dalam sebuah kesempurnaan katamu? Aku katakah bahwa itu tipuan! Itu perselingkuhan! Tahukah kau, tak ada yang sempurna kecuali kau yang menanam kesempurnaan itu di hatimu. Dan kau mencari orang lain yang kau anggap bisa mengisi hatimu? Mengapakah? Dan kau mencari sejuta alasan untuk melegalisasi egomu? Untuk apakah?

Sahabatku, jika suami/istrimu menjadi sumber masalahmu, tak inginkah engkau bersabar? Kepada merekalah kamu bisa mencari sejumput rumbia untuk atapmu di dunia. Pada merekalah tersimpan kekuatan dirimu. Temukanlah. Jangan pernah katakan kau membenci istri/suamimu. Karena kepada merekalah kamu kembali di dunia, sejauh apa pun kau bisa berlari. Jangan pernah bakar jembatan di belakangmu, karena suatu hari mungkin kamu harus kembali. Arungi petualanganmu, tetapi ingatlah suatu saat kamu harus kembali. Kejarlah impianmu, tapi jangan lupa suatu hari kau harus menapak bumi.

Jika sekali kau merasa sakit, biar hujan yang menghapusnya. Maafmu akan memberi keajaiban di hatimu dan di hatinya. Jika kau pernah menyakiti hati suami/istrimu, jadilah pemberani untuk meminta maaf, mengakui kesalahan, dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Tak perlu putus asa, tak usah merasa tak mungkin. Cinta itu ada, tapi kau perlu bersabar. Cinta itu kau tanam, bukan cuma kau petik.

Dan bila kau telaten menanam cintamu, bila suatu saat tak ada yang bisa kau pegang di dunia ini, cinta akan mengisi ruang hatimu.

Kabar bagusnya, cinta itu akan membawamu menuju cinta yang hakiki di dunia abadi.

Hmmm... adakah itu artinya buatmu?

Menjawab Pertanyaan "Kapan Menikah"



Anda bosan menjawab berbagai pertanyaan menyangkut pernikahan? Tak perlu khawatir, Anda dapat menjawabnya dengan penuh jenaka dan santai. Coba tips berikut ini:

1. "Habis Lebaran." Trik ini selalu sukses diterapkan. Biasanya orang yang bertanya akan pasang tampang gembira, disusul pertanyaan lanjutan. “Oh ya? Persis setelah lebaran? Tanggal berapa?” Anda tinggal sebut saja angka yang bagus. “Enam!” Nanti dia akan bilang, “Jangan lupa undanganya ya!” Sebuah ‘perintah yang mudah saja Anda jawab dengan, “Oke!”

2. "Bulan Mei." Ini sebenarnya jawaban terbasi. Anda bisa jawab “Bulan Mei”. “Hah! Mei? Tahun ini?” Yak, mei be, next month, next year or mei be not!” Habis itu, tertawalah puas karena berhasil menipunya. Dia akan terlihat dongkol dan tidak akan menanyakan ulang.

3. "Nunggu Kamu." Nah, bila Anda cewek, jawaban ini tepat diberikan pada teman pria. Biasanya mereka akan terpesona dan berhenti bertanya. Namun, jawaban ini pantang diberikan pada lelaki "gede rasa" (GR) kelas berat, pasalnya justru dia akan bersemangat mendekati Anda.

4. "Kamu Kapan?" Kalau jawaban ini paling tepat untuk penanya yang juga belum menikah. Tidak perlu panik jika dia tahu-tahu menyebutkan tanggal dan bulan rencana pernikahannya. Justru disitulah tempat perlindungan teraman Anda. Segera pasang tampang sumringah, tanyai dengan detil rencana pernikahanya, lengkap dengan konsep acara, siapa lelaki beruntung itu, dll. Orang yang berencana menikah akan bersemangat menceritakannya. Begitu cerita habis, segera pamit dari hadapannya atau mengganti topik lain, begitu ada jeda.

5. "Tunggu Saja Undangannya." Cara ini cukup ampuh. Anda cukup bilang, "Tunggu saja undangannya, ya!" Orang akan berhenti bertanya soal ini-itu bila Anda sudah punya undangan. Bila dia bertanya lagi tentang kapan-sama siapa, jawab saja "Sudahlah, tunggu saja. Enggak sabar amat." Ucapkan sambil tersenyum lebar. Bila suatu ketika kemudian Anda bertemu lagi dan dia menagih undangannya, jawab saja, "Tenang, tunggu saja ya." dan tetap berikan senyum lebar itu lagi padanya.

6. "Tahun Depan." Jawaban ini miri-mirip dengan "Habis Lebaran!" Ditanya tanggal dan bulannya? Jawab saja, "Masih rahasia!" Percayalah, orang tidak se-concern itu kok, pada tanggal-bulan-tahun pernikahan Anda. Jadi tidak perlu ditanggapi dengan serius pertanyaannya.

7. "Lagi Yoga." Anda tidak siap menghadapi pertanyaan, "Kapan Menikah?" sekaligus tidak siap dengan jawaban apapun. Tenang saja. Sebenarnya Anda tidak perlu berpikir. Cukup berikan jawaban yang Anda suka dan sekenanya. "lagi yoga", "mau lari pagi nih" atau apapun. Dia akan segera tahu bahwa memang Anda sedang berkelit dan tidak ingin menjawab pertanyaannya.

8. "Nunggu dia." Ayo, cari seseorang acuan di sekitar Anda. Pastikan orang yang Anda tunjuk yang belum menikah, yang mumurnya berada di atas Anda. Di balik dialah Anda bisa berlindung. Begitu Anda ditanya Anda tinggal bilang, "Aku nunggu dia dulu."

9. "Ngga Mau Ngelangkahin." Jawaban ini serupa dengan jawaban nomer sebelumnya, namun dengan nuansa yang lebih kocak. Anda punya 2 alternatif jawaban untuk maksud yang sama. Tinggal bagaimana Anda yang menjawabnya.

10. "Iya, nih." Semua orang tahu kalau jawaban, "Iya nih" adalah sebuah jawaban sopan untuk menyampaikan maksud Anda yang kurang lebih, "Iya nih, masih belum ada yang cocok atau belum ada yang mau, padahal saya sendiri sudah ingin punya pendamping, dan saya sudah capek ditanya terus kanan-kiri, termasuk Anda." Namun dengan cukup 2 kata, tersebut Anda akan aman dan tidak membuat Anda menjadi depresi.

TIPS Cerdas jawaban Pertanyaan : Kapan Menikah"



“Kapan nikah?” Mungkin akan sangat menggangu dan membosankan ketika Anda belum mempunyai pacar atau bahkan cowok kecengan. Tak perlu tertekan atau jadi defensive. Coba jawab saja pertanyaan-pertanyaan ‘membosankan’ tersebut dengan 20 alternatif jawaban, agar mereka menjinak dan tidak mengejar-ngejar Anda:
Tips Cerdas Jawaban Pertanyaan Kapan Menikah

1. “Habis Lebaran.” Trik ini selalu sukses saya pakai. Biasanya orang yang bertanya akan pasang tampang gembira, disusul pertanyaan lanjutan. “Oh ya? Persis setelah lebaran? Tanggal berapa?”Anda tinggal sebut saja angka yang bagus. “Enam!” Nanti dia akan bilang, “Jangan lupa undanganya ya!” Sebuah ‘perintah yang mudah saja Anda jawab dengan, “Oke!”

2. “Bulan Mei.” Ini sebenarnya jawaban terbasi. Ana bisa jawab “Bulan Mei”. “Hah! Mei? Tahun ini?” Yak, mei be, next month, next year or mei be not!” Habis itu, tertawalah puas karena berhasil menipunya. Dia akan bersungut-sungut dan tidak lagi menanyakan ulang.

3. “Nunggu Kamu.” Nah, bila Anda cewek, jawaban ini pas diberikan pada teman pria. Siapa pun itu. Biasanya mereka akan GR, berhenti bertanya, atau paling jauh membahasnya sedikit. Namun, jawaban ini pantang diberikan pada lelaki peng-GR kelas berat atau tipe player (Anda bisa pusing kalau dia justru bersemangat mendekat nantinya), atau suami orang yang istrinya pencemburu berat (plus punya mata-mata di sekitar Anda).

4. “Kamu Kapan?” Kalau jawaban ini paling pas untuk penanya yang juga belum menikah. Tidak perlu panik jika dia tahu-tahu menyebutkan tanggal dan bulan rencana pernikahannya. Justru disitulah temapt perlindungan teraman Anda. Segera pasang tampang exited, tanya dengan detil rencan pernikahanya, lengkap dengan konsep acara, siapa lelaki beruntung itu, dan bla-bla-bla. Orang yang berencana menikah akan bersemangat menceritakannya. Begitucerita habis, segera pamit dari hadapanya atau menggantu topik lain, begitu ada jeda.

5. “Tunggu Saja Undangannya.” Cara ini cukup ampuh. Anda tingga bilang, “Tunggu saja undangannya, ya!” Orang akan berhenti bertanya soal ini-itu bila Anda sudah punya undangan. Bila dia bertanya lagi tentang kapan-sama siapa, jawab saja “Sudahlah, tunggu saja. Enggak sabar amat.” Ucapkan sambil tersenyum lebar. Bila suatu ketika kemudian Anda bertemu lagi dan dia menagih undangannya, jawab saja, “Tenang, tunggu saja ya.” dan tetap berikan senyum lebar itu lagi padanya.

6. “Tahun Depan.” Jawaban ini miri-mirip dengan “Habis Lebaran!” Ditanya tanggal dan bulannya? Jawab saja, “Masih rahasia!” Percayalah, orang tidak se-concern itu kok, pada tanggal-bulan-tahun pernikahan Anda. Jadi tidakperlu ditanggapi dengan serius pertanyaannya.

7. “Lagi Yoga.” Anda tidak siap menghadapi pertanyaan, “Kapan Menikah?“ sekaligus tidak siap dengan jawaban apapun. Tenang saja. Sebenarnya Anda tidak perlu berpikir. Cukup berikan jawaban yang Anda suka dan sekenanya. “Lagi Yoga”, “Mau lari pagi nih” atau apapun. Dia akan segera tahu bahwa memang Anda sedang berkelit dan tidak ingin menjawab pertanyannya.

8. “Nunggu Dia.” Ayo, cari seseorang acuan di sekitar Anda. Orang acuan adalah orang yang belum menikah, yang mumurnya berada di atas Anda. Bila teman, sepupu, tante, mungkin? Di balik dialah Anda bisa berlindung. Begitu Anda ditanya Anda tinggal bilang, “Aku nunggu dia dulu.”

9. “Ngga Mau Ngelangkahin.” Jawaban ini setipe dengan jawaban di poin 8, namun dengan nuansa yang lebih kocak.Anda punya 2 alternatif jawaban untuk maksud yang sama.

10. “Iya, nih.” Semua orang tahu kalau jawaban, “Iya nih” adalah sebuah jawaban sopan untuk menyampikan maksud Anda yang kurang lebih, “Iya nih, masih belum ada yang cocok atau belum ada yang mau, padahal saya sendiri sudah ingin punya pendamping, dan saya sudah capek ditanya terus kanan-kiri, termasuk Anda.” Namun dengan cukup 2 kata, tersebut Anda akan aman dan tidak membuat Anda menjadi depresi.

11. “Kalau Inggris Menang.” Momen piala dunia bisa Anda manfaatkan. Sebut saja salah satu negara yang tampaknya tidak mungkin untuk menjuarai turnamen akbar tersebut -kalau tidak tahu, anda bisa mengkonsultasikan dulu dengan teman kantor. Sehingga ketika ditanya, Anda bisa menjawabnya, “Oke, saya akan kawin kalau Inggris Juara Piala Dunia!” atau lebih ekstrem lagi “Tenang..tenang, begitu Indonesia Juara Piala Dunia, aku langsung kawin hari itu juga!” Orang akan menganggap Anda punya sense of humor namun tidak berminat menjawab pertanyaan tersebut.

12. “Brat Pitt Selingkuh, sih.” Ya ini memang pilihan jawaban basi, tapi cukup ampuh membungkam si penanya. Sekalian ceritakan kalau Anda selama ini sudah menjalin hubungan jaraj jauh dengan Brat Pitt, tapi sayangnya ia lebih memilih Angelina Jolie sebagai pasangannya. Karanglah cerita sepanjang mungkin, sampe orang yang bertanya menutupnya dengan, “Huuuuu!”. Dan tugas Andatelah selesai. Namun yang perlu dijaga adalah intonasi Anda. Tetap santai, tersenyum dengan jenaka.

13. “Cari tanggal yang bagus Nih!” Anda juga bisa menyampikan bahwa Anda ingin hari pernikahan Anda mudah dikenang. “aku ingin tepat di tanggal 09/09/2009 atau 10/10/2010 atau 11/11/2011, tapi lebih cantik kalo 22/22/2222 bisa ga ya?”

14. “Punya Kenalan Duda?” Answer her/his question with question. Coba dengan jawaban spektakuler ini. Boleh juga Anda tambahkan, “Kalau bisa duda beranak satu ya? Jadi aku sekalian dapat satu paket! Sekalian membuktikan kalau dia memang sudah terbukti!hahaha…” Tapi jangan panik kalau ternyata si penanya punya stok teman berstatus duda, dan berniat mengenalkannya pada Anda. Ya, kecuali kalau Anda memang berniat mencari duda beranak satu!

15. “Hari Gini?” Bagi Anda yang belum menjadikan menikah sebagai agenda hidup, boleh juga Anda menunjukan dengan jawab ini. Setelah itu tutup dengan senyum termanis yang pernah Anda punya. Atau bisa juga jawaban “Hari gini?” atau bisa juga Anda tambahkan dengan, “Masih musim ya?” lalu Anda tambahkan dengan, “besok deh nunggu musimnya!”

16. “Coming Soon.” Beberapa orang menganggapnya jawaban ini cukup melegakansi penanya. Paling tidak, dia merasa bahwa Anda memang berniat menikah, suatu ketika kelak. Paling Anda hanya perlu meneguhkan hati, jika dia memberikan nasihat panjang lebar pentingnya masuk ke dalam ‘jebakan’ pernikahan.

17. “Rahasia!” Kalau Anda bukan tipe orang yang mudah terprovokasi serta punya banyak stok rasa santai, maka gunakan jawaban ini. Soalnya orang yang diberikan jawaban ini akan penasanran dan membombardir Anda dengan desakan.

18. “Nunggu Rambut Panjang.” Bagi Anda yang berambut pendek dan seumur-umur tidak pernah memanjangkannya, bisa menggunakan jawaban ini. Akan lebih ampuh jika saat itu kondisi rambut Anda sedang berantakan, panjang tanggung, karena kebetulan Anda belum sempat ke salon. Ini menguatkan jawaban tipu daya Anda. Paling si penanya akan mengerutu.

19. “Diet Dulu.” Diet biasanya dilakukan menjelang hari perkawinan. Sehingga jawaban ini bisa ditangkap dalam 2 arti oleh orang lain, “Anda akan menikah dalam waktu dekat” atau “Ah, itu cuma jawaban berkelit”. Apapun tanggapn orang itu. Anda tidak rugi apa-apa. Dan ini yang penting, Anda dapat segera kabur dari hadapannya. Jangan lupa lambaikan tangan, sambil bilang “Daaah!”

20. “Ah, Bisa Aja.” Ini adalah jawaban yang membungkam si penanya. Dan setelah itu, dia akan kesulitan untuk mengulangi pertanyaannya. Pun salah gaya untuk melontarkan pertanyaan baru. Coba saja. Bagus juga kalau Anda bisa berimprofisasi dengan menjawab, “Ah bisa saja!” sambil nyoleh bahu si penanya, cengar-cengir sebentar, kemudian segera berlalu.

10 Alasan Terburuk untuk Menikah



PADA dasarnya keputusan untuk menikah adalah baik, jika dilandasi cinta, komitmen baik yang berlaku seumur hidup. Pernikahan bukanlah hal yang sederhana sebab membutuhkan tanggung jawab dalam porsi peran masing-masing, baik isteri maupun suami.

Namun, ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan oleh sahabat lajang Media Perempuan. Jika akhirnya Anda memutuskan untuk menikah, berpikirlah sekali lagi apa yang melandasi dan mendorong niat Anda untuk berkomitmen seumur hidup. Sebab, beberapa hal terburuk sebagai alasan Anda menikah yang dikemukakan akan memengaruhi kehidupan dan kisah rumah tangga Anda.

1. Dikejar target
Pernah menargetkan akan menikah di usia tertentu sementara sekarang Anda sudah melampauinya? Jangan khawatir, setiap orang pasti punya target dan tidak perlu gusar jika akhirnya hal ini justru melemahkan semangat Anda untuk menemukan pasangan sejati dan benar-benar sesuai dengan kriteria Anda. Lebih baik, tetap menjalani hubungan dengan calon pasangan Anda, saling menjajaki dan memantapkan rencana. Namun jika Anda belum menemukannya juga, tentukan langkah-langkah strategis untuk memperluas pergaulan.

2. Tekanan sosial
Banyak teman dekat Anda sudah menikah, mempunyai anak bahkan beberapa pernah bercerai dan menikah untuk yang kedua kalinya. Hanya tinggal Anda dan beberapa teman saja yang belum menikah. Padahal apa yang salah dengan hal tersebut? Anda sebaiknya hidup sendiri daripada bersama seseorang dalam keterpaksaan. Tak perlu menurunkan kriteria pasangan hanya karena Anda ingin segera menikah.

3. Menikah karena uang
Menikah karena bisnis atau karena uang sebenarnya hal yang gawat. Menikahi seseorang hanya karena Anda takut hidup sengsara sementara ia bisa memberikan kehidupan berlimpah uang adalah alasan yang buruk. Jika pasangan Anda sampai tahu, ini bisa saja menyakiti perasaannya, apalagi jika ia mencintai Anda sepenuh hati. Materi memang perlu namun jika uang adalah dasar mengapa Anda menikahi seseorang, baiknya pikirkan lagi. Apalagi jika Anda berdua sama-sama menikah karena uang atau untuk melanjutkan dinasti kekayaan.

4. Ingin tinggalkan rumah orang tua
Biasanya hal ini dialami oleh perempuan yang jenuh tinggal bersama dengan orang tua yang akan banyak memperhatikan Anda bahkan hingga hal yang kecil-kecil. Meninggalkan rumah tidak berarti menanti datangnya pangeran yang akan memindahkan Anda ke istananya. Tetapi, jadilah pribadi yang mandiri, sementara sewalah rumah kecil atau kamar kos jika memang Anda butuh sendiri dan tahan diri hingga menemukan seseorang yang benar-benar mantap untuk menikah dan tinggal bersama dengan orang lain.

5. Orang tua menyukai calon Anda
Anda pasti akan senang jika calon pasangan Anda disukai oleh orang tua. Bersyukurlah dengan kondisi ini, namun jangan jadikan satu-satunya alasan menikah karena ingin menyenangkan orang tua. Ingat! Yang menikah dan akan berumah tangga adalah Anda, bukan orang tua. Ada bagusnya saran orang tua Anda dengarkan namun jangan pertimbangkan pernikahan terburu-buru karena hal tersebut. Anda hidup di jalan Anda sendiri, untuk urusan yang satu ini usahakan keputusan benar-benar ada di tangan Anda.

6. Inginkan anak
Banyak orang menikah karena alasan ingin mendapatkan keturunan sehingga perlu menikah muda di saat usia masih produktif untuk bereproduksi. Memang, dari sekian banyak alasan menikah, anak adalah satu alasan di antaranya. Namun apa yang terjadi jika Anda tak kunjung merasa cocok dengan pasangan, namun anak telah lahir. Ketika keinginan Anda sudah terpenuhi, Anda tetap akan berkutat dengan pasangan yang sama. Yang mungkin tidak pernah Anda inginkan. Tak ada orang yang sempurna, namun bukankah orang tua harus memberikan contoh saling mengasihi dan menghormati?

7. Menikahi selingkuhan
Selingkuh mungkin saja indah. Tapi menikahi selingkuhan Anda belum tentu sama indahnya karena kadang perselingkuhan terjadi jika keduanya menyukai tantangan. Hubungan yang diawali dengan jalan yang salah akan berakhir tak begitu baik pula. Ini tak akan jadi landasan yang kuat, karena seseorang yang mau berselingkuh dengan Anda biasanya tak akan punya beban untuk menyelingkuhi Anda.

8. Butuh ayah untuk anak Anda
Bagi seorang janda, jika Anda menemukan pria yang tepat ini adalah permulaan yang bagus. Tetapi jika ternyata dia bukan orang yang tepat untuk Anda bahkan anak Anda, ini akan jadi mimpi buruk sementara Anda sudah sangat ketakutan untuk menjadi janda untuk yang kesekian kalinya. Lebih baik bersabar mencari dan menanti seseorangyang tepat dengan menjadi orang tua tunggal yang sangat menyayangi dan memperhatikan anak.

9. Membuktikan diri
Jujurlah pada diri sendiri. Ini tak pernah jadi ide yang baik karena jika teman Anda curiga Anda adalah seorang pecinta sesama jenis, menikah tak akan membuat orang berhenti mencurigai. Dengan menikah Anda malah melibatkan orang lain ke dalam masalah Anda ini. Jika Anda benar pecinta sesama jenis, menikah bukanlah obat tepat, karena akan menyakiti pasangan.

10. Hamil di luar nikah
Seandainya Anda hamil di luar nikah, pikirkan untuk menikah dengan pasangan yang menghamili Anda apalagi jika tidak benar-benar saling mencintai. Pertimbangkan untuk menjadi orangtua tunggal, berkarier dan membesarkan anak daripada menikah dengan orang yang belum tentu Anda cintai. Lebih baik lagi jika Anda tidak melakukan seks sebelum menikah.

Nah, semoga kita nanti tidak seperti itu yah sobat.. Semoga kita menikah atas dasar Cinta dan Kasih... Amiin..

Nasihat Indah Bagi yang Akan dan Sudah Menikah




Umamah Taghlubiyah, seorang wanita Arab terpandang menasehati anaknya Ummu Iyas binti Auf. Nasehat ini dia sampaikan ketika melepas putrinya itu menuju rumah suaminya saat dia dinikahkan.
Dia berkata, “Wahai anakku, Kalaulah nasehat boleh ditinggalkan karena kemuliaan budi dan ketinggian nasab keturunan, maka aku tidak akan menyampaikannya padamu. Namun ia perlu disampaikan untuk mengingatkan orang baik dan menyadarkan yang lalai.

Wahai anakku, jika seorang perempuan bisa melepaskan diri dari laki-laki dengan harta orang tuanya maka aku adalah orang yang paling bisa untuk itu. Tapi, itu tidak mungkin, anakku. Karena perempuan diciptakan untuk laki-laki. Dan sebaliknya, laki-laki diciptakan untuk perempuan.

Wahai anakku, saat ini engkau akan melangkah dari rumah ini, dimana kamu hidup dan dibesarkan. Kamu akan berangkat ke lembah yang belum kamu ketahui sama sekali dan akan ditemani seorang yang tidak pernah kau kenal selama ini. Makanya, dengarlah pesan-pesanku. . Jadilah engkau bagaikan budak baginya, maka dia akan berlaku seperti itu pula untukmu.

Anakku, dengarkanlah, aku akan menyampaikan SEPULUH wasiat untukmu. Jagalah wasiat ini. Ia akan menjadi penerang dan bekal bagimu dalam hidup.

Pertama, setia dan patuhlah padanya. Kepatuhanmu padanya akan melahirkan keridhaan Allah SWT.

Kedua, qana’ahlah dengan apa yang diberinya. Sikap itu akan melahirkan ketenangan dalam jiwamu.

Ketiga, peliharalah pandangannya padamu. Jangan sampai dia melihat padamu sesuatu yang tidak disenanginya.

Keempat, pelihara penciumannya terhadapmu. Jangan sampai dia mencium darimu sesuatu yang tidak mengenakkan hidungnya.

Kelima, Jagalah waktu makannya (bermakna kebutuhan biologis). Sesungguhnya rasa lapar itu bagaikan bara yang bisa membakar kapan saja.

Keenam, jagalah waktu tidurnya. Sesungguhnya gangguan pada waktu tidur bisa menyulut amarah.

Ketujuh, jagalah harta dan rumahnya. Sesungguhnya yang demikian membuatnya menghargaimu.

Kedelapan, pelihara dan hormatilah anak dan keluarganya. Sesungguhnya hal itu melatihmu mengatur segala Sesuatu dengan baik.

Kesembilan, janganlah kamu buka rahasianya. Jika kamu melakukan itu, maka tidak bisa dijamin dia akan menjaga janjinya padamu.

Kesepuluh, janganlah kau melanggar perintahnya. Sesungguhnya yang demikian itu menyulut rasa cemburu dalam hatinya.

Dan perhatikanlah dua perkara. Janganlah kamu menampakkan kebahagiaan padanya jika dia sedang dirundung sedih. Jangan pula engkau menampakkan kesedihan di kala dia berbahagia.

Ketahuilah wahai anakku, sebesar apa penghormatanmu padanya sebesar itu dia akan menyanjungmu. . . Sejauh mana kamu bisa menyesuaikan pandanganmu dengannya seperti itu pula dia akan setia padamu.

Anak gadisku, sesungguhnya kamu tidak akan mampu melakukan itu semua kecuali jika kamu mampu mendahulukan kerihdaannya atas keinginan pribadimu, dan jika kamu mampu mengedepankan hasratnya atas hasratmu. Semoga Allah melimpahkan kebaikan padamu. Selamat jalan.

Nasehat yang sangat berharga dari seorang ibu yang baik. Semoga negeri kita juga punya ibu-ibu yang seperti ini.

NASIHAT RASUL PADAMU WAHAI LELAKI
Dalam khutbah haji wada’ Rasulullah berpesan kepada umatnya tentang banyak hal. Salah satunya adalah mengenai hidup berumah tangga. Rasulullah saw berpesan:

“Ingatlah, berilah pesan yang baik terhadap istri kalian. Sesungguhnya mereka memerlukan perlindunganmu. Sedikitpun kamu jangan berbuat kejam kepada mereka. Janganlah berbuat sesuatu yang melampaui batas kepada mereka, kecuali telah nyata bahwa mereka melakukan kejahatan. Jika memang mereka melakukan kejahatan, janganlah kamu menemui mereka di tempat tidur. Jika engkau telah memisahkan mereka dari tempat tidurmu, mereka masih tidak merasa bersalah, maka pukullah mereka dengan pukulan yang ringan yang tidak melukai. Bila mereka taat, janganlah berlaku keras terhadap mereka.”

Ingatlah, sesungguhnya istrimu mempunyai hak terhadap kalian para suami. Hak kalian terhadap istrinya adalah melarang mereka mengizinkan masuk seseorang yang tidak kamu sukai kedalam kamarmu dan tidak mengizinkan masuk orang yang tidak kamu sukai ke dalam rumahmu. Hak mereka atas kamu adalah kamu pergauli mereka dengan cara yang baik, tidak memukul mukanya, tidak boleh menjelek-jelekkannya dan memenuhi segala kebutuhan mereka terutama makanan dan pakaian serta tidak boleh mendiamkannya kecuali di dalam rumah.” (HR Abu Daud dan At Tirmidzi)

Dalam kesempatan lain Rasulullah saw bersabda, “Ingatlah, orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik budi pekertinya. Orang yang paling baik budi pekertinya adalah yang paling baik perlakuannya terhadap istrinya” (HR At Tirmidzi)

“Janganlah seorang mukmin memarahi istrinya ataupun seorang wanita beriman. Jika tidak suka terhadap salah satu sifatnya, maka pasti ada sifat lainnya yang menyenangkan. Dunia ini adalah suatu kesenangan yang sementara, dan sebaik-baik kesenangan di dunia adalah wanita yang shaleh” (HR Muslim).

Buat Yang Mau Nikah



Mengapa?? Karena Dia Manusia Biasa...........

Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu? Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban duniawi (cakep atau tajir :D manusiawi lah :P). Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya. Hingga detik ini saya masih ingat setiap detail percakapannya. Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran. Proses pernikahan seperti ini sudah lazim. Dia bukanlah akhwat, sama seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami. Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika dia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius. Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Sayatidak ingin melihatnya menangis lagi.

Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya. Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama proses pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Asli. Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu. Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali waktu itu (sok sibuk sih aslinya). Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal. Beberapa kali saya telfon dia untuk menanyakan Perkembangan persiapan pernikahannya. That's all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya memutuskan untuk menginap dirumahnya. Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa ngobrol -hanya- berdua. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kita. Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang banyak hal. Akhirnya, bisa juga kita ngobrol berdua. Adabanyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak pada saya.Beberapa kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur.
"Aku gak bisa tidur." Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham kondisinya saat ini.
"Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur."

"Iya.. ya." Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan lampu kamar yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik. Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita berbicara banyak hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat jelas dalam keremangan kamar. Memunculkan aura cinta yang menerangi kamar saat itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang selama ini saya pendam.
"Kenapa kamu memilih dia?" Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari tidurnya sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci meja riasnya. Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas didalamnya. Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar amplop pada saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop suratperusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya malah ngikik geli.
"Buka aja." Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4, saya menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat diatas dideretan paling atas.
"Busyet dah nih orang." Saya menggeleng-gelengka n kepala sambil menahan senyum. Sementara dia cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya memulai membacanya.
Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan kata-katanya. Begini isi suratitu.

Kepada YTH
Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan calon kakak buat adik-adik saya.
Di tempat

Assalamu'alaikum Wr Wb
Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu sampai selesai. Saya, yang bernama ...... menginginkan anda ...... untuk menjadi istri saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya pekerjaan. Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku kelak. Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan. Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh saya. Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik. Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda.Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik dari saat ini. Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin

Wassalamu'alaikum Wr Wb

Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini saya membaca surat 'lamaran' yang begitu indah. Sederhana, jujur dan realistis.
Tanpa janji-janji gombal dan kata yang berbunga-bunga. surat cinta minimalis, saya menyebutnya :D. Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum tertahan.
"Kenapa kamu memilih dia."
"Karena dia manusia biasa." Dia menjawab mantap. "Dia sadar bahwa dia manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa. Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari. Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku."
"Maksudnya?"
"Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada. Iya kan ? Paling gak. Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu saat nanti kita jadi gembel. Hahaha."
"Ssttt." Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum tidur. Terdiam kita memasang telinga. Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kita saling berpandangan lalu cekikikan sambil menutup mulut masing-masing. "Udahtidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama." Kita kembali
rebahan. Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi masih terngiang terus ditelinga saya.
"Gik..."
"Tidur. Dah malam." Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia tidur, agar dia terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang sudah, kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih.
Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika manusia sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang mengatur segala kehidupannya.
Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan berapa lama pernikahnnya kelak. Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tapi sebuah 'proses usaha'. Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta dan 'nama'. Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat ditanggalkan. Ketika segala yang 'melekat' pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan yang utama. Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata. Dini atkan untuk ibadah.
Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya. Maka semua menjadi indah. Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA.

Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah pernikahan. Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah.
Meminta-NYA mengucurkan barokah dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah. Lalu, bagaimana dengan cinta? Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses. Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya. Agar cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan yang suci. Witing tresno jalaran garwo(sigaraning nyowo), kalau diterjemahkan secara bebas. Cinta tumbuh karena suami/istri (belahan jiwa).
Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa. Amin .

Aku Akan Menikah, Tapi Tidak Sama Kamu



“Ternyata mantan pacarmu yang terakhir cantik juga ya, aku duduk di sebelahnya sekarang.”

Dia bilang kamu cantik sekali.

”Ah dia lebih cantik, ya dia duduk disebelahku sekarang, haruskah aku berkenalan dengannya? Dia pacarmu sebelum aku ya?”

Berkenalanlah, nggak ada salahnya kan?

”Baiklah.”

Bagus-bagus, begitu dong.

”Hai, apakabar?”
”Halo, kabar baik.”
”Kamu Amelia ya?”
”Iya, kamu Sarah kan yah?”

Keduanya lalu saling berciuman pipi.

”Datang juga kemari?”
”Yah, bagaimana pun, aku bahagia melihat dia bahagia.”
”Iya, menurutku juga begitu, ada juga ternyata yang mau menikah dengannya.”
”Hahaha, kamu jahat.”
”Loh, benarkan?”
”Haha, iya deh.”
”Ini serius Amelia, kalau boleh tahu, kenapa waktu itu kamu putus sama dia?”
”Hmm...”
”Ayolah kasih tahu, toh dia sudah menikah ini.”
”Kan karena dia menemukan kamu.”
”Oh, maaf kalau begitu.”
”Sarah?”
”Ya?”
”Terus kenapa kamu putus sama dia?”
”Sepertinya karena dia menemukan pacar baru juga.”
”Yang dinikahinya sekarang ini yah?”
”Sepertinya begitu.”
”Menurutmu, apakah dia cantik?”
”Siapa?”
”Pacar terakhirnya itu, yang dinikahinya sekarang.”
”Menurutku sih biasa aja, lebih cantik kamu Mel,”
”Hahaha, kamu bisa aja, cantikan kamu sih Sar.”
”Terus, kalau lebih cantik kita-kita, kenapa dia lebih memilih perempuan itu untuk dinikahi?”
"Ya nggak jodoh aja kali."
”Memangnya apa yang dia katakan terakhir kali sama kamu Sar?”
”Hmm, apa ya?”
”Kata-kata terakhirnya,”
”Aku ingat, dia bilang; aku akan menikah, tapi tidak sama kamu.”
”Kamu nggak tanya alasannya?”
”Tanya sih,”
”Apa jawaban dia?”
”Katanya, kalau istriku sekedar cantik, apa bedanya aku sama laki-laki diluar sana?”

P3K saat si dia (mantan) bilang akan menikah



Meski sudah putus hubungan, sebetulnya Anda masih sangat mencintainya.
Apalagi, putusnya hubungan ini bukan karena orang ketiga. Sedih, itu
pasti. Ditambah lagi, suatu hari dia menemui Anda dan mengatakan dia
akan menikah. Apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan rasa sesak
yang mendadak betah bersemayam di dada?

- Meski di belakangnya Anda merana, tapi di depannya pasang wajah
lempeng. Jangan mau kalah set, bilang saja, "Oh ya? Kebetulan banget
aku juga mau bilang aku akan menikah bulan depan. Kok bisa sama, ya?"

- Kalau saat kejadian kebetulan Anda melihat teman lama, panggil dia
dan kenalkan pada pasangan bahwa dia kekasih Anda yang baru. Kirimkan
tanda bahwa Anda membutuhkan bantuannya. Teman Anda pasti maklum.

- Pergi ke salon, gunting rambut dan meni-pedi. Berspa ria? Silakan.
Meski patah hati, Anda tetap harus terlihat chic dan charming, dong.
Treatment ini juga bagus untuk menghilangkan stres.

- Daripada minum obat tidur atau minuman beralkohol, sebaiknya minum
suplemen atau obat diet. Lebih sehat dan bikin kurus kan?

- Segera pergi ke gym dan ikut kelas taebo. Dengan bertaebo, kemarahan
yang terpendam bisa tersalurkan lewat tendangan dan tonjokan.

- Lari ke supermarket dan beli buah sebanyak-banyaknya. Anda harus
jaga kondisi biar badan tidak drop karena beberapa hari ke depan Anda
pasti enggak doyan makan. Daripada sakit, mending makan buah.

- Membeli baju yang selama ini Anda inginkan, tapi enggak bisa terbeli
karena si dia tidak menyukainya.

- Nonton film komedi yang superlucu. Tertawalah sepuas-puasnya.

- Bacalah buku-buku yang berisi pengalaman-pengalaman orang lain dalam
menghadapi persoalan hidup. Anda akan menyadari bahwa kejadian yang
Anda alami sangat kecil dibanding risiko mereka.

Bila Istri Cerewet



Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.

Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?

Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut?

1. Benteng Penjaga Api Neraka

Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat.

Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat.

Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah

Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran.

Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan

Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu

4. Pengasuh Anak-anak

Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.

5. Penyedia Hidangan

Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi dan lalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.

**

Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.

Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji.

Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya.

Untuk Istriku



Andai Kau berkenan, limpahkanlah rasa cinta kepada kami,
Yang Kau jadikan pengikat rindu Rasulullah dan Khadijah Al Qubro
Yang Kau jadikan mata air kasih sayang
Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az Zahra
Yang Kau jadikan penghias keluarga Nabi-Mu yang suci.

Ya Allah,
Andai semua itu tak layak bagi kami,
Maka cukupkanlah permohonan kami dengan ridlo-Mu
Jadikanlah kami Suami & Istri yang saling mencintai di kala dekat,
Saling menjaga kehormatan dikala jauh,
Saling menghibur dikala duka,
Saling mengingatkan dikala bahagia,
Saling mendoakan dalam kebaikan dan ketaqwaan,
Serta saling menyempurnakan dalam peribadatan.

Ya Allah,
Sempurnakanlah kebahagiaan kami
Dengan menjadikan perkawinan kami ini sebagai ibadah kepada-Mu
Dan bukti ketaatan kami kepada sunnah Rasul-Mu.

Amiiin

*****

Cinta itu tidak menjanjikan sebuah rumah tangga aman damai, tetapi penerimaan dan tanggung jawab adalah asas utama kebahagiaan rumah tangga. Cinta hanya sebuah keindahan perasaan, cinta akan bertukar menjadi tanggung jawab apabila terbinanya sebuah rumah tangga. Untuk semua itu ku ingin membahagiakanmu dan membuat kau bangga akan keberadaanku di sisimu .. Moga apa yang kita korbankan selama ini dari perasaan, waktu, materi yang paling penting kebersamaan kita kelak berguna bagi kita dan keluarga Amiin ya Rabb. I love You

Doa Dan Harapan Pernikahan



Doa Pernikahan

Ya Allah,
jadikanlah pernikahan kami pernikahan yang barakah
pembuka pintu rahmat bagi kami, keluarga kami dan ummat
penyempurna keislaman kami
tungku tempat kami menempa sabar dan syukur
sekolah tempat kami belajar menjadi dewasa
jalan kami menggapai cinta-Mu

Ya Allah,
ampuni dosa-dosa kami
maafkan segala khilaf kami
luruskan niat kami
sucikan hati kami
kuatkan tekad kami
bimbing kami
lindungi kami dari segala tipu daya syaitan
agar kami dapat menapaki jalan baru ini, demi menggapai ridho-Mu

Ya Allah,

anugerahkanlah kepada kami pasangan hidup kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikan kami senagai imam bagi orang-orang yang bertaqwa

Amiiin.

Surga Untuk Suami Saya



Jakarta -Pagi itu, semua berjalan seperti biasa saja. Semua sibuk mengerjakan pekerjaan masing-masing apalagi hari itu banyak sekali kegiatan yang harus dipersiapkan oleh kami di Dompet Dhuafa.

Namun yang pasti hari itu, saya mendapatkan lagi pelajaran betapa sesungguhnya memberi pelayanan yang terbaik itu berlaku itu semua orang. Tak peduli apakah itu orang kaya, atau orang yang terlihat kaya atau terlihat biasa-biasa saja.

Pertama soal betapa prasangka itu, tidaklah benar. Menyangka ibu tua renta yang datang dengan anaknya itu tadinya adalah orang yang akan meminta bantuan, namun nyatanya ia malah muzakki yang dari dana zakatnya program rumah sehat terpadu kami insyaAllah dapat terwujud.

Kedua, jangan pernah melihat orang dari fisiknya saja. Yang disangka meminta malah membayar. Semoga Allah membuka hati ini terus-menerus untuk dapat menangkap kebaikan. Amin.

Bermula dari datangnya ibu dan anaknya, wajahnya biasa-biasa saja. Bahkan nampak sekali kerut-kerut di wajahnya membuat ia tampak semakin tua dan lelah saja. Ia datang untuk meminta penjelasan tentang program rumah sehat terpadu yang rencananya kami bangun di depan sekolah unggul bebas biaya di Parung, Bogor.

”Boleh, saya mendapatkan infomasi tentang Rumah Sehat Terpadu,” tanyanya perlahan.

”Boleh Ibu, informasi apa yang ingin Ibu dapatkan. Rumah Sakit itu sengaja kami beri nama Rumah Sehat, karena kami ingin agar mereka yang datang mendapatkan layanan kesehatan di Rumah Sehat tersebut menjadi sehat. Sementara kata terpadu dikarenakan di lokasi itu nantinya akan terintregasikan seluruh program-program pendidikan, kesehatan, ekonomi, yang dikelola oleh Dompet Dhuafa. Semuanya kami berikan gratis. Bahkan kami berencana membangun masjid kaca” ujar Herdi, amil Dompet Dhuafa.

”Siapa saja yang boleh mendapatkan layanan kesehatan gratsis itu?” tanyanya lagi.

Kami semua menyangka bahwa ibu tua itu mengharapkan bantuan untuk mendapatkan layanan kesehatan cuma-cuma itu. Ternyata tidak. Ia hanya ingin memastikan lagi bahwa dana zakat yang diserahkan oleh para muzakki ke Dompet Dhuafa itu memberikan dampak yang besar bagi masyarakat.

”Ok Nak Herdi, saya ingin membayarkan zakat saya, di mana lokasi Bank Mandiri terdekat di sini? Bila sudah transfer saya akan kabari Nak Herdi.”.

Herdi terhenyak kaget, dan semakin kaget lagi begitu ia ingin segera membayarkan zakat tanpa menunda waktu.

”Bank Mandiri tak jauh dari sini Ibu. Saya bisa antarkan.”

”Tak usah, nanti saja bila sudah saya tranfer saya akan kembali untuk dapatkan bukti setor zakatnya. Tolong berikan no rekening Dompet Dhuafa di Bank Mandiri.”

Herdi pun sibuk mencari no rekening Dompet Dhuafa di Bank Mandiri. Padahal nomor itu ada di brosur DD, tapi seolah tak ada. Jadi sulit untuk dicari. Sampai menjumpai no rekening nya. ”Ahh ini nomor nya Bu..!”

”Saya minta izin dahulu nanti saya kembali lagi bila sudah mentransfer”.

Belum lagi 5 menit handphone Herdi pun, berdering. ”Bisa di cek ke rekening Dompet Dhuafa, saya baru saja mentransfer Rp 150 juta,” suara dibalik telepon itu terdengar agak samar.

”Mohon maaf Ibu, berapa yang Ibu transfer nanti akan kami cek segera ke Bank Mandiri.”

”Rp 150 juta, Mas,” ujar ibu itu.

Masya Allah sebanyak itu, Alhamdulillah ya Allah, semoga Allah memberikan kemuliaan pada Ibu itu.

”Sebentar itu kami akan cek, Mbak Endang tolong di cek di Bank Mandiri, apakah sudah masuk transfer sebesar Rp 150 juta untuk Rumah Sehat Terpadu.”

”Sudah Mas,” sahut Endang dari balik ruangan.

”Alhamdulillah Ibu, sudah masuk ke rekening kami.”

Hmm Luar biasa, lihatlah katanya-katanya, ”Saya bayarkan zakat ini untuk suami saya yang telah wafat. Saya berharap zakat yang saya tunaikan ini, memudahkan jalan bagi ia menuju surga, seperti yang selama ini diharapkannya.”

”Amin Ibu, kami berdoa semoga almarhum mendapatkan tempat yang mulia dan tinggi atas zakat yang Ibu tunaikan hari ini. Semoga Allah memberikan pahala atas harta yang telah diberikan dan menjadikan suci serta keberkahan atas harta Ibu yang tersisa.”

”Amin”

***

Pembaca yang mulia, kisah ini membuat saya harus sering berdoa semoga saya bisa seikhlas mereka dalam sedekah dan belajar juga untuk menjauhkan diri dari prasangka. Sambil terus mendoakan para muzakki agar doa dan harapannya segera terwujud.

Penulis, Yuli Pujihardi adalah Corporate Secretary & Resources Mobilization Director Dompet Dhuafa.

Sumber : http://ervakurniawan.wordpress.com

Semua Karena Cinta



Kehidupanku selama 10 tahun setelah menikah, tanpa kehadiran seorang anakpun membuat hidup terasa sangat hambar, hampa dan sepi. Selalu saja ada yang kurang, meskipun secara materi kami bisa dibilang cukup bahkan boleh di kategorikan agak berlebihan.

Dengan posisi Mas Fajar suamiku, sebagai General Manager disebuah majalah terkemuka di negara ini, dan bisnis catering yang aku kelola, cukup memberi hawa yang segar dalam hal perekonomian keluargaku. Kehidupan kami cukup mapan untuk suatu keluarga seusia kami. Tapi, kesemuanya itu tidak sanggup menutupi kesepian di dalam hidupku, aku butuh sesuatu yang dapat menghiburku dikala aku sendirian, dikala aku lelah. Aku rindu seorang anak, seorang yang bisa aku limpahkan dengan berjuta-juta kasih sayangku, bermilyaran rasa cintaku, bahkan sampai tak terhingga bentuk perhatianku layaknya seorang ibu, aku ingin sekali ada seorang memanggilku Mama.

Aku sangat iri jika temanku, sahabatku, saudaraku, perempuan-perempuan di sekelilingku, dengan bangganya berbagi kebahagiaan, ketika terucap dari bibir mereka apa saja tentang anak-anak mereka. Dan aku akan sangat marah sekali, jika ada siapapun bertanya bahkan hanya sekedar mengkomentari tentang anak yang belum juga lahir dari rahimku. Sangat menyakitkan hatiku, tidak pernahkah mereka berpikir bahwa sudah berbagai usaha kami lakukan untuk mewujudkan harapan itu, bukan keinginan kami kalau kenyataannya berkata lain, Tuhan memang belum menjawab permohonan kami, mungkin saja Dia akan berkehendak lain, dan kami harus bisa menerimanya dengan ikhlas dan lebih sabar lagi, karena aku yakin, Dia akan selalu memberikan yang terbaik untuk umatNya yang terus menerus memohon pada Nya.

Suatu malam yang dingin karena hujan baru saja reda, saat aku meringkuk didalam pelukan suamiku, tiba-tiba saja deringan telepon di rumahku memecah kesunyian malam itu, aku berdiri dan berjalan menuju meja dipojok kamarku hendak mengangkat telepon, sambil terlebih dahulu melirik jam yang tergantung didinding, pukul tiga kurang lima menit dini hari, siapakah gerangan yang menelepon pada pagi buta begini. “Ambar, tolong saya...” suara diseberang sana terkesan panik terdengar ditelingaku.

“Desi...? Ada apa? Kandunganmu...?” tiba-tiba saja aku merasa khawatir, Desi sahabatku sedang hamil tua dan menurut perhitungan dokter masih 2 minggu lagi dia akan melahirkan, tapi....

“Ambar, tolong saya, saya pendarahan, sepertinya dia sudah harus lahir, dokter sedang menangani saya, tolong Mbar, saya takut sendirian,”

“Okey...okey...”

“Mbar, sakit sekali..., tapi saya harus kuat, minimal saya harus berhasil mempertahankan dia sampai lahir, dan kemudian tugas saya selanjutnya, saya hanya bisa mohon kepadamu dan Mas Fajar. Tolong bantu saya selesaikan semuanya ya....”

“Desi, kamu ngomong apa? Saya akan segera kesana sekarang...” kataku mencoba menenangkannya, meskipun aku demikian takut dan gugup. Gemetar seluruh tubuhku, dengan cepat kupersiapkan diriku untuk segera berangkat ke rumah sakit. Perasaan aneh yang menjalar di tubuhku membuat pikiranku terbang entah kemana, aku tidak sanggup untuk berpikir lebih banyak lagi, yang kutahu adalah secepatnya aku harus hadir menemani Desi sahabatku. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, akhirnya aku ditemani oleh Mas Fajar, suamiku tiba di rumah sakit, tempat Desi di rawat. Namun.... ternyata aku tetap saja terlambat, terlambat beberapa menit karena Tuhan telah terlebih dahulu mengambil Desi setelah berjuang menyelamatkan seorang bayi perempuan yang mungil dan cantik.

Desi, sahabatku satu sekolah di SMP, selama hidupnya selalu prihatin dan tegar menghadapi setiap permasalahan, sejak usia kandungannya masih sangat muda, dia bercerai dari suaminya karena tanpa sepengetahuannya, Bobby suaminya menikah lagi dengan wanita lain dan pergi meninggalkannya, meskipun tahu bahwa saat itu istrinya sedang mengandung anaknya. Desi tidak mempunyai seorangpun keluarga, hanya satu adik perempuannya yang saat itu tinggal di luar negeri karena menikah dengan orang Jerman. Dia benar-benar berjuang sendiri mempertahankan hidup dengan hanya sebagai pemasok kue-kue basah disalah satu stand kue di Pasar Pagi Mangga Dua. Secara tidak sengaja Tuhan mempertemukan kami kembali setelah lama tidak saling berhubungan, dan semenjak pertemuan itu pulalah, aku mengajaknya untuk bergabung ke dalam bisnis cateringku yang sedang mulai bergerak maju.***

Aku termangu di depan gundukan tanah merah, seakan tidak percaya tapi inilah kenyataan yang harus kuhadapi, sahabatku telah meninggalkanku, begitu tiba-tiba tanpa memberikan kesempatan padaku untuk mengucapkan selamat jalan terlebih dahulu kepadanya. Beristirahatlah dengan tenang, sahabatku..., aku berjanji akan meneruskan tugasmu seperti yang engkau pesankan untukku.

Kuraih tubuh mungil yang tidak berdaya kedalam pelukanku, ketika sore itu kami kembali ke rumah sakit. Kunikmati sensasi luar biasa yang sangat aku rindukan selama ini, seorang anak.., Desi telah meninggalkan hadiah yang terindah untukku, hadiah yang mampu mengubah hidupku dari sepi menjadi penuh warna. Ternyata ini jugalah jawaban Tuhan yang diberikan padaku setelah sekian lama aku memohon kepadaNya, terimakasih Tuhan....!

Sekarang, Andini, bayi mungil itu telah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang cantik agak sedikit manja namun tidak kekanak-kanakan, adakalanya terlihat juga sikap lembutnya, apalagi saat hatinya tersentuh terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan manusia. Andini tidak mengenal siapa wanita yang telah melahirkannya, apalagi ayah kandungnya. Satu kesalahan fatal yang aku lakukan. Sungguh! Aku memang egois sekali, Andini adalah anakku, aku hanya ingin dia menjadi anakku seutuhnya, tanpa dia harus tahu bahwa kami bukanlah orangtua kandungnya, karenanyalah maka rahasia besar itu kami tutup rapat-rapat.

Namun, hal itu ternyata tidak dapat kuingkari lagi, aku harus bisa menghadapi kenyataan yang sangat menyakitkan sekali, kenyataan dimana aku dituntut untuk mengakui bahwa Andini adalah bukan anak kandungku. Seperti malam itu.......

“Ambar, bagaimanapun juga kita harus memberitahu kebenarannya pada Andini, dia sudah dewasa, pasti akan dapat menerima, dia juga akan menikah, dan butuh wali nikah Mbar...” kata Mas Fajar sambil menatap sedih ke arahku, aku terdiam menatapnya tajam. Lama kebisuan menyelimuti kami, dan aku sangat sibuk dengan pikiran-pikiran yang menggayuti otakku.

“Kita akan bicara pelan-pelan pada Andini, dia seorang perempuan, tetap saya tidak bisa menikahkannya, namun yang terpenting adalah bukan hanya karena dia akan menikah, tapi memang sudah waktunya dia mengetahui siapa sebenarnya orangtuanya, kita tidak dapat menghapuskannya begitu saja, dia berhak tahu Ambar, hmm.., apalagi dia adalah sahabatmu sendiri, apakah kamu tega” lanjutnya lagi mengingatkanku pada Desi, sahabatku.

“Tapi aku lebih tidak tega lagi melihat Dini sedih dan kecewa kalau dia tahu bahwa kita bukanlah orang tua kandungnya.” sahutku pelan bahkan lebih mirip seperti desahan saja menurutku.“Dan akan terus membiarkan kita membohonginya bahkan membohongi diri kita sendiri, begitu maumu? Sampai kapan Ambar, waktu akan terus berjalan dan tidak akan mau menunggu kita.” potong Mas Fajar agak keras penuh dengan emosi yang tertahan, aku menggelengkan kepala, menepis semua kebenaran ucapan-ucapannya, “Bukan, bukan itu Mas......”, namun belum sempat aku meneruskan kata-kataku, aku dikejutkan oleh pintu kamarku yang tiba-tiba dibuka dan aku melihat sepasang mata menatap kami tajam, penuh dengan kemarahan dan kekecewaan yang sangat mendalam, sepasang mata indah yang menuntut kami untuk bicara tentang kebenaran, bicara tentang sesuatu yang sangat penting yang selama ini kami simpan rapat-rapat, sepasang mata yang nanar menuntut hak yang selama ini telah diabaikan.

“Andini...!” seru Mas Fajar gugup sekali, sementara aku hanya bisa terpaku, kupejamkan mataku sejenak, kucoba untuk menahan gejolak didadaku dan mengusir resah dihatiku.

“Yang barusan Dini dengar tidak benar kan Pa?” tanya Andini, masih tetap dengan pandangan yang sangat tajam.

“Duduklah dulu Dini, mari kita bicarakan pelan-pelan”, bujuk Mas Fajar sambil berjalan mendekati Dini dan merangkul bahunya mengajak duduk, namun dengan cepat ditampiknya tangan ayahnya. Sambil terus menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba untuk tidak percaya dengan apa yang sudah terdengarnya tadi.

“Dini dengar apa yang mama dan papa bicarakan tadi, tapi tetap saja Dini enggak ngerti, ada apa sebenarnya?” Lalu berjalan mendekatiku, dan duduk di sampingku. Tidak ada satupun dari kami yang berusaha untuk menjelaskannya.

“Ma..., apa benar aku bukan anak mama dan papa?”

“Kamu anak mama nak, kamu anak mama dan papa, meskipun bukan mama yang melahirkan kamu, tapi kamu adalah tetap anak mama, hanya saja Tuhan memberikan kamu pada kami dengan cara yang lain, Dini.” Kataku tersendat-sendat karena sesak di dadaku makin menyesakkan, dan air matapun tidak dapat ku control lagi ketika di depanku kulihat Andini menangis tertahan, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari mulutku sendiri, namun itu adalah kenyataan yang harus diterimanya. Kuraih tubuhnya, dan kubiarkan dia menangis dipelukanku.

“Kenapa Mama dan Papa berbohong padaku selama ini? Kenapa kenyataan itu harus ditutup-tutupi Ma? Kenapa...?” tanyanya disela-sela isak tangisnya, sangat menyedihkan sekali.

“Maafkan Mama Nak, Mama memang egois sekali, mama yang tidak menginginkan kamu tahu bahwa kamu bukan anak kandung mama, mama takut kamu tidak bisa menerima semua ini.” Tiba-tiba Dini menarik tubuhnya melepas pelukanku, dengan kasar dihapusnya air mata yang membasahi mata dan pipinya, lalu kembali menatapku tajam sampai menembus jantung hatiku, dan aku terkejut, menemukan ada kemarahan yang sangat mendalam dimatanya.

“Sekarang dimana orangtua kandungku? Mereka telah membuangku...?” “Tidak Dini, bukan seperti itu...”

“Lalu seperti apa Ma? Dimana mereka...? Kenapa aku bisa di sini bersama Mama dan Papa yang bukan orangtua kandungku, kenapa mesti kalian yang merawat dan membesarkan aku...?”

Aku memandang Mas Fajar yang sejak tadi hanya duduk terdiam mengawasi kami dari bangku dekat jendela. Tatapannya seakan memberi kekuatan padaku untuk dapat menceritakan semuanya kepada Andini, semuanya! Tidak ada lagi yang aku tutup-tutupi, karena aku sadar bahwa Andini memang berhak untuk mengetahui siapa orangtua kandungnya.... Ada perasaan lega dan nyaman di hatiku, sepertinya sebagian beban yang selama ini aku pikul sudah terlepas dari tubuhku, setelah semuanya kusampaikan pada Dini. Rahasia besar itu memang sangat menekan perasaanku, makin lama makin menghimpit, karena tidak ada keberanian untuk aku mengungkapkannya. Ternyata kebenaran meskipun pahit memang harus diungkapkan, karena kepahitan itu pulalah yang menyebabkan beban yang semakin menghimpit menjadi terkikis dan kemudian hilang begitu saja.

“Sekali lagi maafkan Mama Dini, tidak seharusnya mama merahasiakan hal ini dari kamu, almarhumah Ibumu juga pasti sangat kecewa sekali pada mama, karena mama tidak mengenalkannya padamu jauh-jauh hari....” Tak kuasa lagi aku menahan tangisan penyesalanku, karena tiba-tiba saja bayangan Desi sahabatku muncul dihadapanku, “Maafkan aku Des...”, sangat tulus bibirku menggumamkan rasa penyesalanku padanya, diapun tersenyum manis kepadaku, dan menghilang begitu saja setelah menganggukkan kepalanya. Celingukan aku mencari kembali bayangannya, namun sia-sia, dia memang hanya bayangan, namun aku yakin, dia pasti akan mau memaafkanku. Lalu aku berdiri dari dudukku menuju meja kecil disudut kamar, dari dalam laci yang terkunci kuambil album foto yang lama kusimpan, album kenangan ku bersama Desi, dan sekarang akan kuserahkan kepada Dini, anak kami. Dia berhak tahu siapa perempuan cantik dan luar biasa yang telah melahirkannya ke dunia ini.

Andini menerima album dari tanganku, masih nyata terlihat kesedihan yang mendalam diwajahnya yang cantik. Satu persatu dibukanya lembar album foto itu dan akupun berusaha menjelaskan peristiwa demi peristiwa yang tergambar di situ. Kemudian dia bertanya, ”Dimana ayahku...?”

“Semenjak mama bertemu kembali dengan ibumu, mereka sudah bercerai dan ibumu tidak pernah membicarakannya pada mama, hanya saja dia pernah bilang bahwa suaminya bernama Bobby. Dan satu lagi, kamu mempunyai seorang tante, dia adalah adik dari ibumu, tapi mamapun kehilangan jejaknya, terakhir ketika ibumu meninggal mama dan papa menghubunginya lewat telepon, dan dia tidak bisa datang karena jauh, dia memang tinggal di Jerman, dan sudah menjadi warga negara Jerman mengikuti suaminya.

“Ah...! Aku ternyata hanya seorang diri ya Ma..., Pa...” desahnya pelan sambil tersenyum dipaksakan sehingga terlihat sangat jelek sekali dimataku.

“Dari semula kamu adalah anak kami Dini, kamu tidak sendirian, ada papa dan mama, dan banyak lagi disekelilingmu yang menyayangimu dengan tulus. Kami semua mencintaimu.” kata Mas Fajar sambil menghapus sisa air mata Andini dengan kedua tangannya lalu dikecupnya kening wanita cantik didepannya, kecupan sayang seorang ayah! Dengan reflek dan agak malu Andini membalasnya dengan pelukan sayang seorang anak terhadap ayahnya, “Terimakasih Pa..., Dini juga cinta sama papa dan mama, di sudut hatiku, kalian adalah benar-benar orangtua kandungku, yang telah memberikan cinta yang tidak ternilai jumlahnya dan sampai kapanpun tidak akan mungkin aku sanggup untuk membalasnya.” Dan hati kamipun saling merangkul erat sekali, tidak akan mungkin terpisahkan meskipun lapuk dimakan oleh waktu.

“Ma..., aku ingin ziarah ke makam ibu...,”

“Ok, bagaimana kalau Sabtu besok kita sama-sama berangkat ke Bandung, kamu ajak Iwan, mintalah restu pada almarhumah ibumu bahwa kamu akan menikah.” “Mas Iwan? Apakah dia bisa menerima keadaanku, Ma?” tanya Dini kembali tertegun, mungkin dia baru menyadari bahwa diantara dia ada seorang Iwan, calon suaminya. Akupun ikut terdiam, namun dengan cepat kukuasai keadaan, aku tidak boleh terlihat gugup didepan anakku, maka sambil kutepuk lembut punggung tangannya aku berkata, “Ini merupakan ujian buat kalian, buat Iwan, dia harus bisa menerima apa adanya kamu, kalau dia memang betul-betul serius mencintai kamu dan ingin menjadikanmu seorang istri untuknya dan seorang ibu untuk anak-anaknya.”

“Mama yakin, Iwan mencintai kamu karena dirimu seutuhnya, bukan karena siapa-siapa dibelakang atau didepanmu, jadi kamu tidak usah khawatir. Bicaralah segera dengannya, karena keterbukaan adalah kunci kebahagiaan dalam hidup,” lanjutku lagi dan disambut dengan sebuah anggukkan dan senyuman manis, Dini anakku.

Dalam kehidupan yang begitu berat, dan ketika tekanan demi tekanan menghantam diri kita, ternyata hanya cinta yang mampu membuat kita senantiasa kuat untuk bertahan. Cinta jugalah yang akan membangun jalan layang diatas jalan buntu yang kita jumpai dalam kehidupan ini. Ya..., semua karena cinta!

Blog Entry Marriage Life... 6 Minggu, 6 Bulan, 6 Tahun..



Just For Nyengir Only yaahh..

Sebelum Bobo:
6 minggu: selamat bobo sayang, mimpi indah ya, mmmuach.
6 bulan: tolong matiin lampunya, silau nih.
6 tahun : Kesana-an doong... kamu tidur dempet2an kayak mikrolet gini sih?!
Pakai Toilet:
6 minggu: ngga apa-apa, kamu duluan deh, aku ngga buru2 koq.
6 bulan: masih lama ngga nih?
6 tahun: brug! brug! brug! (suara pintu digedor), kalo mau tapa di gunung
kawi sono!

Ngajarin Nyetir:
6 minggu: hati-hati say, injek kopling dulu baru masukin perseneling ya
6 bulan: pelan-pelan dong lepas koplingnya.
6 tahun: pantesan sering ke bengkel, masukin persenelingnya aja kayak gini!
Balesin SMS:
6 minggu: iya sayang, bentar lagi nyampe rumah koq, aku beli martabak
kesukaanmu dulu ya
6 bulan: mct bgt di jln nih
6 tahun: ok.

Dating process:
6 minggu: I love U, I love U, I love U.
6 bulan: Of course I love U.
6 tahun : Ya iyalah!! kalau aku tidak cinta kamu, ngapain nikah sama kamu??

Back from Work:
6 minggu: Honey, aku pulang...
6 bulan : I'm BACK!!
6 tahun: Si mbok masak apa hari ini??

Hadiah (ulang tahun):
6 minggu : Sayangku, kuharap kau menyukai cincin yang kubeli
6 bulan : Aku membeli lukisan, nampaknya cocok dengan suasana ruang tengah
6 tahun : Nih duitnya, loe beli sendiri deh yang loe mau

Receiving Incoming phone:
6 minggu: Baby, ada yang pengen bicara ama kamu di telpon
6 bulan : Eh...ini buat kamu nih...
6 tahun : WOOIII TELPON BUNYI TUUUHHH....ANGKAT DUOOONG!!!

Masakan:
6 minggu: Wah, tak kusangka rasa makanan ini begitu lezaattt...!!!
6 bulan: Kita makan apa malam ini??
6 tahun: HAH? MAKANAN INI LAGI?

Memaafkan:
6 minggu: Udah gak apa-apa sayang, nanti kita beli lagi ya
6 bulan: Hati-hati! Nanti jatuh tuh.
6 tahun: KAMU GAK NGERTI2 YA DAH BERIBU2 KALI AKU BILANGIN

Baju baru:
6 minggu: Duhai kasihku, kamu seperti bidadari dengan pakaian itu
6 bulan: Lho, kamu beli baju baru lagi?
6 tahun: BELI BAJU ITU HABIS BERAPA??

Rencana liburan:
6 minggu: Gimana kalau kita jalan-jalan ke Amerika atau ke tempat yg kamu mau honey?
6 bulan: Ke Surabaya naik bis aja ya gak usah pakai pesawat...
6 tahun: JALAN-JALAN? DIRUMAH AJA KENAPA SEH? NGABISIN UANG AJA!

Nonton TV:
6 minggu: Baby, apa yg pengen kita tonton malam ini ?
6 bulan : Sebentar ya, filmnya bagus banget nih.
6 tahun: JANGAN DIGANTI-GANTI DONG CHANNELNYA AH! GAK BISA LIAT ORANG SENENG DIKIT APA ?!

16 tahunnya kaya apa yah? wakakaka.a..

Mimpi Setelah Mati



Mengillhami hidup sama bagaikan mengilhami sebuah puisi, kadang dimengerti dan kadang sulit untuk dipahami, kadang dapat dijalani namun terkadang ingin diakhiri.Aku sendiri mengalami pasang surut kehidupan itu, pernah hampir bunuh diri, tapi untungnya aku masih berakal budi untuk bangkit lagi.

Aku sering menangis lirih menghadap awan putih dilangit, berharap bisa bersentuhan langsung dengan tangan ilahi. Sambil memejamkn kedua mataku, tanganku terkatup dan mengadah ke langit, berharap Yang Esa mau menolongku saat ini juga.Yahh,tapi Tuhan punya caranya sendiri untuk berkaya.

Pagi ini aku mencoba mengilhami hidup sekali lagi, aku cermati lingkungan sekitar dari awan hingga ke tanah aku berpijak, berharap hari ini akan ada pelangi dipagi hari, lagi-lagi aku memikirkan hal yang mustahil, mana ada pelangi dipagi hari?, apalagi tadi malam panas sekali.Aku berjalan di gank menuju jalan raya untuk dapat menaiki Bis yang sampai tepat didepan kantorku, dan sekali lagi aku mengaharapkan Bis yang aku naiki nanti tidak berhenti lama untukmencari penumpang, karena aku suka telat gara-gara cara mereka untuk mencari uang,tapi sekali lagi yang aku hadapi, Bis yang aku naiiki berhenti lama di pangkalan dan tak kunjung berangkat, aku melihat jarum jam dan sudah pukul 07.30 WIB, segera aku bergegas turun dari Bis dan langsung menaikki ojek agar lebih cepat sampai dikantor, pangkalan ojek itu diseberang jalan, aku menyebrang dengan terburu-buru, dan hampir aku menabrak truk yang melintas didepanku, semua orang tegang melihat ke arahku, namun Tuhan pasti masih baik padaku, aku hanya lecet saja dan bajuku kotor karena truk tersebut berhasil membuatku terjebur dalam selokan yang kotor.

Aku kembali ke rumah untuk berganti pakaian. Sampai dirumah aku mandi, dan bergegas kekantor lagi walau telat. Waktu keluar dari pintu gerbang rumahku, mataku terbelangak kagum melihat pelangi yang indah diawan, aku terseyum dan mengadah ke langit sekitar 3 menit melihat pelangi dengan cekungan yang sempurna dan dipadu warna yang indah, hemm... entah kenapa hatiku damai sekali, aku melangkah ringan menuju pangkalan Bis, bis yang aku sering tumpangi biasanya penuh sesak dengan manusia, kotor, dan panas, karena tidak ber AC, namun hari ini Bis itu kosong dengan kursi yang empuk dan sejuk, dan tidak seperti biasanya, Bis itu langsung berangkat, aku duduk dengan hati yang sangat nyaman, karena sudah lama aku memimpikan hal seperti ini, walau keinginanku sederhana namun sepertinya susah untuk didapati. Baru 15 detik Bis ini berjalan, tiba2 Bis nya berhenti mendadak tepat di seberang pangkalan ojek, ternyata ada kecelakaan dan menelan korban 1 orang, dengan kejadian ini sudah dipastikan aku terlambat lagi, kulihat jam tangan dan jarum jam menunjukkan pukul 07.30 WIB, aku tersentak kaget, kuketok jam tanganku dengan jariku, tapi jam ini tidak mati, jarum jamnya berjalan, sempat aku bingung melihat jam tanganku, tapi hal itu tidak membuatku menjadi gusar, aku masih memikirkan untuk dapat sampai dikantor, lalu aku menyebrang jalan ke pangkalan ojek untuk menaiki ojek agar lebih cepat sampai kantor,kali ini aku benar2 marah karena tukang ojek itu tidak ada yang mau mendengarku,,tiba-tiba ada seorang pria menghampiriku, ia mengulurkan tanganya dan menggandeng aku ke tempat kecelakaan itu, aku kaget melihat tubuhku terbaring penuh darah diselokan yang kotor, lalu aku tersadar ...walau hidup itu terkadang tidak indah, tapi percuma merasa indah setelah kita merasakan kita tidak hidup lagi.

Dibalik Jawaban Rahasia Wanita Saat CowoK Menembak Cewek



Cowok adalah sosok mahluk yang diciptakan untuk selalu optimis. Termasuk masalah jodoh dalam rangka ngedapetin pasangan hidup. Mungkin cerita-cerita di bawah ini bisa jadi bahan pemikiran buat cowok-cowok yang mo ngomong sama si cewek yang udah lama diincer. Yang penting... diingetin aja kalo cowok harus selalu optimis. OK.

============ ========= ========= ====

Roni: "Aku suka sama kamu, Rin .... Aku pengin kamu jadi pacarku."
Rina: (Malu-malu) "Aku juga suka sama kamu, Ron".

Artinya - Jelas si Rina suka sama si Roni, sampe ngomong terus terang gitu.
------------ --------- --------- ----

Hendro: "Nov, Aku bener-bener suka sama kamu. Aku pengin kita bisa jalan bareng".
Novi : "Kaya'nya kita lebih baik temenan aja,dech. Kita khan udah lama temenan".

Artinya - Novi pun sebenarnya suka sama si Hendro. Staus "teman" hanya buat alasan aja buat si Novi biar bisa deket terus sama si Hendro.
------------ --------- --------- ----

Andri: "Aku ngerasa cocok jalan sama kamu. Mau ngga' jadi pacarku, Wen ?"
Wenny: Jangan sekarang deh .... Aku pengin konsentrasi study-ku dulu

Artinya - Wenny suka sama si Andri, jawaban yang nggantung dan ngambang kaya' gitu maksudnya biar Andri penasaran dan tetep "stay around" si Wenny. Dengan gitu khan mereka bisa tetep deket. Andaikan si Wenny nggak suka, pasti ngomong terus terang sama Andri.
------------ --------- --------- ----

Roy : "Kamu cakep dech, Lia ... Aku pengin pacaran sama kamu ....
Lia: "Terus terang ya, Roy ... Aku nggak suka sama kamu. Aku benci sama kamu. Kamu Egois, Kamu bau, Kamu urakan, Kamu cowok males ! Pokoknya aku benciii sama kamu !!!

Artinya - Perhatian Lia gedhe sama Budi. Lia tau semua sifat-sifat Roy , sampe baunya segala. Ngga' banyak cewek yang perhatian kaya' gitu. Dan sangat mungkin itu artinya Lia aslinya suka sama Roy.
------------ --------- --------- ----

Indra: Aku udah lama merhatiin kamu, Yen ... Aku suka en sayang banget sama kamu ...
Yenni: (Tertawa lepas) Haa..ha..uahaaa. .ha.. Lucu kamu, Dra !

Artinya - Betapa gembiranya Yenni mendengar ucapan Indra. Ekspresi tawa bahagia tiada tara . Jelas banget si Yenni suka sama sama si Indra, sampe dibilang kalo Indra lucu segala.
------------ --------- --------- ----

Yanto: Ria, ...Mau ngga' jadi pacarku ?
Ria: Plak !! Plak !! (Ria "menyentuh" pipi si Yanto)

Artinya - Yanto spesial buat Ria. "Sentuhan" tangan Ria ke pipi Yanto (sampe 2 X bahkan, ninggalin bekas merah lagi) adalah sentuhan yang ngga' semua cowok bisa ngerasain. Peluang besar buat Yanto bahwa Ria suka sama dia.
------------ --------- --------- ----

Bimo: Win, Wina ... Aku suka banget sama kamu. Pacaran Yuk ...
Wina: Jancuk !! Aku iki lanang, Mo ! Aku koncomu, WinaRNO !!! Eling , Mo ....eling ... Aku WinaRNO..!!

Artinya - Wina seneng sama Bimo. Masa' sampe ngaku-ngaku cowok segala. Ngotot lagi..! Wina ngaku cowok khan biar selalu bisa santai dan deket sama Bimo.
============ ========= ========= ====

Jadi jawaban apapun yang nantinya diberikan sama si cewek,... peluang selalu ada dan ngga' pernah ketutup. So .. Tetap Semangat. :p hueuehuehuehuehu