Terkurung pada malam yang angkuh
Dan aku disudut langit bersama bintang, melukis jiwamu
Menghitung serpihan rindu yg ada, menyusun khayalan-khayalan tentangmu
Lalu kami bicara, saling cerita
Mengulas mimpi yang menggelisahkan, yang membuat aku terjaga tak berdaya
“ Bahagiakah kamu,“ bisiknya bertanya. Dan aku tersipu malu ketika bulan juga menghampiri dan menyapa.
“ Aku akan bahagia jika saja saat ini aku punya sayap.”
Lalu ribuan kunang-kunang menerangi malam, membuatnya cemerlang
Dan batinku ikut bersama mereka, mencari wajahmu , merindu jiwamu.
Aku menemukanmu di sana, terbaring dalam kelembutan awan. Sendiri dalam sinar mentari yang padam.
Aku mendekat pelan tanpa suara. Menyentuhmu , mengusap lekuk senyummu yang terlena. Dan aku tak biarkan kau bicara , aku hanya ingin melihat api gairah dimatamu , yang menghangatkan kebekuan hatiku.
Terharu oleh kesepianmu, aku pun memberimu setitik airmata , yang jatuh deras oleh desakan jantungku yang berdebar. Saat ini aku tak sanggup untuk tidak segera memelukmu, merangkum wajahmu. Aku bergetar saat membiarkan matamu menembus sekujur tubuhku tanpa batas, hanya berdinding cahaya malam.
Tak tersembunyi…. jelas… penuh damba.
Sedetik… petir yang bersinar membuyarkan keintiman
Menjatuhkan keseimbanganku, dan merampas kehadiranmu.
Aku tak kuasa berlari, tapi aku harus berlari
Karena ketakutanku tak terbendung, saat sadar bahwa aku bisa kehilanganmu
Aku terus jatuh.. meninggalkan bulan, meninggalkan bintang-bintang
Kembali ke dasar yang tak kuinginkan
Dan bukan dirimu yang kutemukan.
Malam…
Jangan terus lakukan ini padaku…
Karena saat aku terjaga , aku sedih tak terkira
Mengeluh dalam tidur,
Kecewa dalam rasa
Karena bagiku seharusnya kau yang selalu ada.
Merasakah kau terkasih…
Aku lelah dan tak bisa apa-apa
Kubiarkan kini seluruh jiwa ku terbang padamu
Agar tak ada lagi yang bisa memilikinya
Selain kau, kelam, dan rahasia kita.
Selasa, 17 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar