Kebahagiaan tidak ada di dunia ini. Takkan pernah ditemui di mana pun. Yang ada hanya kepahitan, getirnya hidup. Begitu pula ketika ia menemukan cinta. Sebelum tumbuh yang terasa cuma lara. Bagai belati menancapi hatinya, darah muncrat seperti mata air. Sebab cinta itu luka.
Pantai Lhok Nga beranjak senja menari-nari di matanya. Matahari seperti ingin tenggelam ke dalam laut. Memancarkan cahaya keemasan, mewarnai langit yang bermega-mega. Debur ombak berkejaran bagai sekawanan anak kecil berlomba-lomba menuju ketepian. Sesekali terdengar ombak itu beradu dengan batu karang yang menjulang kemudian terhempas keras bagai kristal yang terhantam, pecah menjadi serpihan tajam dan berhamburan.
Perempuan itu sedang berjalan di atas pasir, begitu lambat seperti merenungi sesuatu dan tanpa tujuan. Meninggalkan jejak langkah berderet-deret di belakangnya, air laut segera membasuhnya, lalu hilang tanpa bekas. Namun aroma itu masih tetap sama. Sangat menyengat penciuman. Bertarung dalam kemelut hati yang dirajah. Bergelut dengan perasaan tak kuasa. Belum hilang dalam ingatan dan terus membayangi. Satu setengah tahun berlalu sudah.
***
Tak ada yang menduga ketika pagi hari yang cerah itu dihantam gempa, membuat tanah retak sehingga bangunan banyak yang runtuh dan beberapa pohon tumbang, tercerabut dari akarnya. Perempuan itu, Mak, dan kakaknya, bersama dengan warga lainnya yang sedang berlibur makin terhenyak saat memandang air laut surut, sampai ikan terlihat menggelepar mati. Satu dua orang mulai mundur menjauhi pantai. Dan suara yang menggelegar bagai gemuruh yang keluar dari bumi makin membangkitkan naluri untuk menyelamatkan diri. Semuanya lari tunggang-langgang, panik luar biasa. Hiruk pikuk tak terkendali dibarengi jerit kematian, berbaur dengan ombak berlumpur yang tingginya seperti menghampiri langit. Siapa pun yang melihat akan membelalakkan mata. Dari sana, malaikat maut bermunculan hendak panen nyawa.
Bagai hanya tinggal jasad, seperti pohon rebah tak berdaun dan batangnya meranggas dimakan rayap dengan akar terangkat dari tanah, begitulah dirinya. Hari-hari dihabiskan dengan termenung. Teronggok rapuh di sudut tenda. Diam mematung tanpa gairah hidup. Jiwanya terbungkus trauma yang menggerogoti tubuhnya.
“Inong, siapa namamu?”
Masih perlukah sebuah nama bila napas dan denyut tak lagi berarti? Perempuan itu kian terdampar pada sebuah pertanyaan, untuk apa bertahan hidup jika orang yang dikasihi hilang satu persatu?
“Kalau saya, Liana.”
Gadis manis yang tersenyum padanya mengulurkan tangan tapi ia tak menghiraukan. Urung menyambut lengan itu yang mengambang di udara. Sibuk meratapi dirinya sendiri, menggumuli derita. Di matanya, terbayang lagi Mak yang susah payah menggendong kakaknya yang lumpuh dan setengah gila, sambil mencoba berlari-lari kecil biar tidak tertinggal, dan perempuan itu mengimbanginya. Saat itu ia ingin sekali menggantikan Mak menggendong kakaknya, tapi Mak tak mau digantikan, malah berujar,
“Pergilah, Nak. Selamatkan dirimu, jangan hiraukan Mak dan kakakmu. Larilah cepat! Pergi, ayo pergi!”
“Tidak! Saya tidak mau pergi meninggalkan Mak dan Cut Kak.”
Perempuan itu menggeleng, Mak membentak-bentak sembari airmata bercucuran, berderai-derai. Berlinangan jatuh menderas. Dan ketika sebuah truk datang yang disesaki sejumlah manusia bermuka panik, Mak berteriak,
“Tolong bawa anak saya, tolong bawa anak saya!”
“Tidaakkk!”
Sekonyong-konyong tangan kekar menariknya cepat naik ke atas truk, ia menjerit-jerit. Sempat ia memegang tangan Mak sebelum terlepas karena kakaknya jatuh dari gendongan. Sementara air bah sudah menghampiri, menelan daratan, melumat tubuh-tubuh yang berlarian. Mak dan Kakaknya tertinggal jauh dan hanyut bersama reruntuhan bangunan. Setelah itu ia tidak mengingat apa-apa lagi.
“Gimana keadaannya, Dik?”
Seorang lelaki berbadan tegap masuk ke tenda pengungsian, tempat perempuan itu dirawat bersama korban lainnya yang masih terbaring lemah.
“Sudah berhari-hari ini ia melamun terus, Kak.”
Keduanya mendekati, menatap iba. Tiba-tiba perempuan itu berpaling, melihat mereka tajam seolah menuduh. Lalu ia berkata mengoyak mulutnya dari kebungkaman,
“Mana Mak? Mana Kak Maidah? Di mana mereka?!”
“Sabar Inong, mereka belum ditemukan.” Serta-merta gadis itu memeluknya erat seraya mengusap-usap bahunya, menabahkan.
“Mana Mak? Mana kakakku? Aku ingin keluar mencari mereka!”
Ia meronta melepaskan diri. Mendorong Liana hingga jatuh tersungkur. Menyelinap keluar dengan sigap dan lelaki itu tak mampu menahannya.
“Inong tunggu!”
Perempuan itu berlari menyusuri jalan yang berserakan, tinggal puing-puing. Mayat bergelimpangan seperti habis peperangan dan baunya mencucup hidung. Ia menengok kiri-kanan berharap semoga keluarganya yang tersisa bukan bagian dari mereka yang membusuk kaku. Membalik-balikkan tubuh yang ia temui sepanjang jalan. Terus berlari walau langkahnya terjengkang karena kesandung serpihan bangunan runtuh. Terus berlari meski telapak kakinya berdarah-darah. Terus berlari hingga ia tiba di pekuburan massal, memperhatikan mayat berjejeran yang siap dikuburkan. Mak dan kakaknya tidak ada? Di mana mereka? Apakah mereka masih hidup?
Sayang, liang yang mulai ditimbun, tempat Mak dan kakaknya disemayamkan bersama jenasah lainnya, luput dari matanya. Melewati tanpa menoleh, dan langkahnya kini begitu lemah, pertahanan dirinya goyah. Tak jauh dari situ, ia ambruk menyentuh tanah.
***
Perempuan itu masih diselimuti galau. Semilir angin laut tak mampu mengusir resah di hatinya. Ombak yang bergulung menghempas menjilati bibir pantai tak juga bisa meredam dilema yang menerpa batinnya. Sepertinya luka tak rela melepaskannya, bersenggama dengan duka melahirkan nestapa yang betapa, hingga ia terisak pilu meratapi nasibnya. Menjerit dalam sanubari. Semestinya sekarang ia mendekap kebahagiaan, menanggalkan kepedihan masa lalu. Tapi mengapa dendam yang muncul di permukaan? Amarah yang membara?
“Inong, Mas Heri menyukaimu. Kakakku itu ingin meminangmu. Bersediakah engkau menjadi istrinya?”
Perempuan itu menyimpan geram. Ia tidak membenci orang Jawa. Sama sekali tidak. Telah lebih setahun ia bercengkerama dengan penduduk yang tahu tata krama lagi halus budi itu. Setelah Liana, dokter muda itu, berhasil memboyongnya ke Yogyakarta. Menemaninya membuka balai kesehatan di desa terpencil di kawasan kaki gunung merapi. Mereka tinggal bersama. Keakraban yang timbul karena sama-sama yatim piatu. Tetapi mereka sungguh berbeda. Perempuan itu sebatang kara dan terlunta-lunta menapaki garis hidupnya yang malang. Sementara Liana masih mempunyai saudara lelaki tempat bersandar dan mampu menopang hidup dengan pendidikan yang diraihnya.
Sebetulnya, perempuan itu juga menaruh hati pada lelaki itu. Rasa yang muncul karena sikap dan tingkah laku yang lebih dari lelaki itu membuatnya bangkit dari keterpurukan lantaran tidak punya siapa-siapa lagi. Beberapa kali dia menengok menceritakan Aceh yang mulai berbenah. Sampai lelaki itu menyampaikan maksud hati melalui adiknya. Perempuan itu tidak menolak dan tidak pula mengangguk setuju. Bukankah diamnya seorang perempuan telah menjawab segalanya?
Akhirnya pernikahan mereka tinggal menghitung hari. Setelah selesai tugas di Aceh, lelaki itu pulang dengan segepok kopor dan tas parasit yang menggembung. Mereka bertemu kembali di rumah orangtua calon suaminya itu, di kota Jogja.
Ketika masuk, tiba-tiba hawa panas menjalari tubuhnya. Ia merasakan hatinya terbakar bagai terlempar dalam buaian api yang berkobar. Perempuan itu terhenyak. Dilanda prahara, menatap baju loreng-loreng tergantung di dinding. Foto lelaki itu berpakaian tentara sedang tersenyum tapi ia melihatnya menyeringai seperti ingin memangsanya. Menghancurkan jiwanya sampai retak-retak, berkeping-keping.
Beberapa peralatan militer berserakan di sudut ruang. Mengingatkannya pada peristiwa pembantaian keluarganya saat kenduri pernikahan kakaknya. Mengingatkannya bahwa sesuatu yang berharga miliknya telah direnggut paksa bertahun-tahun yang lalu. Membongkar luka yang sudah lama terpendam. Merasuki sukma hingga terpental di dasar tak berpenghuni. Di mana tak seorang pun bisa menolongnya. Ia melarikan diri. Pergi membasuh luka dan dukanya ke kampung halaman. Ke Aceh.
***
Pagi yang cerah. Mentari merangkak naik, menyapa dengan hangat. Awan putih berlayar di langit biru. Angin berhembus menggoda hati yang sedang bahagia. Seluruh warga kampung menyaksikan pesta pernikahan yang meriah itu. Ijab qabul sudah dilontarkan. Namun segalanya menjadi badai ketika detik berikutnya, puluhan baju loreng-loreng datang mengacak-acak janur kuning. Menodongkan senjata. Desing peluru pecah memekakkan telinga. Banyak warga kampung lari terbirit-birit, pulang ke rumah. Bersembunyi di tempat yang aman sambil berpelukan. Sementara yang punya hajatan melawan saat dituduh tanpa bukti. Mereka tidak terima. Terjadi perang mulut, diakhiri dengan hantaman peluru.
Bola mata perempuan itu tak kan pernah lupa ketika Abu-nya diseret dan diikat di pohon nangka. Ditanyai tetapi mengelak. Tubuh bapaknya bolong seketika bersimbah darah saat popor tembakan menghanguskan raganya. Ia ingin berteriak tapi Mak membungkam mulutnya. Mereka bersembunyi di kamar yang terkunci. Begitu pula dengan Kak Maidah yang dirundung gelisah, tak tahan lagi ingin keluar melihat keadaan suaminya. Dari balik jendela yang merenggang ia bisa menyaksikan kakak iparnya ditendang tanpa ampun, kemudian kepalanya bocor ditembus peluru.
Kak Maidah histeris. Meraung-raung keluar dari kamar, Mak tak bisa mencegah. Dia tak tahu kalau dandanannya yang berantakan mengundang hasrat. Nafsu loreng-loreng itu menyerang, melucuti kesuciannya bertubi-tubi. Mak hendak menghalau tapi malah dibawa pergi entah ke mana.
Tinggal perempuan itu tergugu di kolong ranjang. Sedu-sedan dan isak tangisnya terdengar sampai di ruangan tengah. Mengundang loreng-loreng itu masuk, direnggut dan direngkuh. Teriakan belianya tak mengusik nurani. Ia dihimpit, ditindih ketika tamunya belum datang.
“Bangun, Nak. Bangun!”
Mak Rukayah menepuk pipinya pelan. Perempuan itu membuka mata, terlonjak dari tidurnya. Langsung memeluk Mak Rukayah, tetangganya dulu. Mak Rukayah adalah seorang janda yang ditinggal suami dan anaknya, diterjang tsunami. Bekerja sebagai tukang jahit pakaian tradisional. Mau menampung perempuan itu di rumah semi permanennya karena merasa senasib.
“Kamu mengigau. Minumlah air putih ini dan lekaslah shalat shubuh, waktunya mulai habis.”
Perempuan itu menenggak tandas sekali teguk. Lalu beranjak, bergegas berwudhu di belakang rumah dengan hati gamang. Usai shalat ada ketenangan menjalari jiwanya tapi belum bisa mengobati lara yang bernanah di hatinya.
“Subhanallah, Nak. Allah menyelamatkanmu.”
Mak Rukayah datang tergopoh-gopoh menghampiri, berdiri di depan pintu kamar. Perempuan itu bingung.
“Apa maksud, Mak?”
“Sebaiknya kamu lihat sendiri.”
Cekatan perempuan itu melepaskan mukena. Kemudian berlari ke ruang tamu menyusul Mak Rukayah. Hingar-bingar tanyangan TV meremukkan dadanya, terasa sesak. Seluruh tubuhnya tergoncang. Jogja dan sekitarnya gempa. Tempat ia tinggal selama lebih setahun telah porak-poranda. Ia memekik lirih. Bagaimana nasib Liana? Mas Heri? Itu yang berkecamuk di benaknya.
“Kamu mau ke mana?” tanya Mak Rukayah.
Perempuan itu tak menjawab. Kembali ia luka. Ia pergi menaiki labi-labi yang mengantarkannya ke mana saja. Lantaran sepi ia bebas menumpahkan rintihan airmata, meski sang sopir terheran-heran.
“Inong turun saja di sini. Labi-labiku tak balik lagi.”
Ia diturunkan di ujung jalan menuju pantai Lhok Nga.
Dan disinilah ia berada. Menghabiskan waktu sepanjang hari. Langit telah membentangkan selimut malam. Lentera hari sudah terlelap diperaduan meninggalkan temaram. Air laut seperti kain yang dibentangkan berwarna keperakan dan berkilauan. Di kejauhan, adzan maghrib bertalu-talu. Mak Rukayah merangkul bahunya dari samping. Tak ada bintang.
“Sudahlah, Nak. Semuanya sudah berlalu, mari kita pulang. Ada tamu.”
“Maemunah!”
Sebelum Mak Rukayah menyelesaikan tutur kata, seseorang memanggil nama perempuan itu. Ia tersentak. Suara itu begitu dikenalnya. Seketika ia berpaling dan melihat sesosok tubuh mendekat, menatapnya lekat dengan rasa. Ada duka yang tergenang di pelupuk mata lelaki itu meski tak sama dengan luka perempuan itu. Yang pasti Liana tak bersamanya.
Senin, 11 Februari 2008
Ket:
Inong : panggilan untuk perempuan aceh
Abu : bapak
Labi-labi: angkutan umum
Selasa, 17 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar