Selasa, 17 November 2009

aku masih saudara

Di mana ada gula di situ pasti ada semut, peribahasa ini bisa dikatakan pantas di alamatkan pada Tia dan Ratna. Sejak SD, SMP, hingga SMA mereka selalu bersama. Orang-orang sekitar yang mengenali mereka selalu memisalkan persahabatan seperti Tia dan Ratna.

Namun demikian, bagi yang menilainya tidaklah keliru memisalkan persahabatan seperti mereka. Walaupun pada prinsipnya persahabatan mereka diwarnai dengan pandangan dan kebiasaan yang berseberangan, bagi yang pernah mengenalnya, pasti akan tahu perbedaan mereka. Perbedaan kontras terletak pada hal-hal yang bersangkutan tentang pacaran.

Tia mengenal mencintai lawan jenis sejak SMP. Jikalau dihitung laki-laki yang pernah dekat dengannya ada tujuh orang, empat sewaktu SMP, dan tiga ketika SMA. Yang terakhir sekaligus masih utuh-utuhnya adalah Rudi, ketua OSIS di sekolah itu. Lain halnya dengan Ratna yang biasa-biasa saja dan terkesan sederhana. Dia hanya pernah memiliki satu orang yang pernah mencintainya. Laki-laki itu menjadi yang pertama dan yang terakhir baginya. Hubungan mereka terhendus oleh orang tuanya. Mereka sangat selektif terhadap perkembangan anaknya, terutama Tia. Karenanya hubungan mereka tak berlanjut, putus. Pasnya menjelang akhir semester dua. Hingga kini ia telah kelas XI, tak ada keinginannya untuk menerima tawaran pengganti cinta pertamanya.

Ratna yang kemungkinan berada pada tingkat ke lima dalam urusan cinta tak pernah tersisih atau ketinggalan. Dia telah menetapkan perhatiannya pada belajar. Buktinya Ratna lebih unggul dari Tia pada bidang akademik. Dia selalu mendapatkan tingkat pertama, baik inter maupun antar kelas. Bahkan perlombaan antar kelas maupun antar sekolah pernah diikutinya. Misalnya, lomba cerdas cermat, lomba pidato berbahasa inggris, dan ada juga lomba debat siswa.

Jikalau dinilai, Tia pun tak kalah daripada Ratna dalam porsi berbeda. Tia yang hanya selalu berada pada tingkat sepuluh besar lebih mengandalkan kecantikannya. Dia selalu tak pernah absen mengikuti acara perhelatan model diadakan di sekolah maupun di daerah. Dan jangan lupakan Tia yang berbakat seni tari. Wajah Tia akan selalu numpang di pentas dalam pergelaran seni tari daerah.

Kendati pun demikian, malah sebaliknya perbedaan di antara mereka justru tersingkir. Mereka selalu akur di kelas dan di luar sekolah. Di luar kesibukkan mereka selalu terlihat bersama.

Pagi hari menjelang proses belajar mengajar, Bu Yuli memasuki ruangan. Kegaduhan pun terjadi. Di antara mereka beranggapan, terjadi pertukaran mata pelajaran, ada pula yang menanyakan keberadaan Bu Neli, guru bahasa Indonesia, namun tak sedikit gembira. Bu Yuli pun meredam keributan yang terjadi.

Setelah seisi ruangan kembali sunyi, nyaman, beliau mengabarkan bahwa di lokal itu akan kedatangan teman baru, seorang laki-laki. Laki-laki itu pun dipanggil dan dipersilahkan memasuki ruangan. Pintu pun terbuka.

Ruangan malah gaduh. Lebih riuh dari yang sebelumnya. Terjadi komentar dari mulut ke mulut. Saling membisiki satu sama lain. Namun ada juga yang diam, tapi matanya berkelintan pada sosok yang berdiri di depan.

Teman baru itu dipersilahkan memperkenalkan diri. Sedikit canggung dia memperkenalkan diri. Namanya Maulana, Maulana Malik Adz Dzahiri. Pindahan dari Jakarta. Kemudian dia dipersilahkan menduduki bangku kosong paling belakang.

Memasuki hari kelima, Maulana menjelma menjadi sang idola. Dia menjadi buah bibir, terutama kalangan siswi-siswi. Tidak hanya itu saja, kebanyakan di antara mereka berjiberan di depan pintu kelas, taman-taman di depan kelas, bahkan mencoba mengintip atau memasuki ruangan.

Sejak itu Tia menyadari bahwa dalam dirinya terjadi sesuatu. Setiap waktu nama Maulana singgah di relung hatinnya. Ketika di lokal bola matanya selalu menjenguk sosok Maulana. Apa lagi di rumah, wajah Maulana selalu meracuni pikirannya. Dicobanya menepis anggapan itu, namun tak bisa. Dicarinya Rudi dan mengajaknya jalan bersama, tapi dia lebih banyak diam. Komunikasi jadi nggak nyambung.

Bila hati terkesan, tak mudah untuk menghapusnya
Ketika melihatnnya setelah itu tak bisa menghilangkan jejak wajah di balik jeruji dasar hati
Di sadari, maka ia akan sadar apa yang telah terjadi
Bahwa di hatinya tersimpan mutiara, yaitu cinta

Ditulisnya kata itu di diarinya. Kemudian pandangannya menerawang jauh tak terbatas. Dia ingin menemukan sosok yang membelenggu perasaannya di sana. Bulan sabit mengintip di balik seprai jendela, kemudian disibaknya.

Sehabis jam pelajaran, seisi kelas bubar. Diringi pekik kegembiraan siswa-siswi. Sedangkan Tia menuruti beban di hatinya, dengan berdiri manja. Keadaan ini mengundang prasangka Ratna di sampingnya.

“Tia beberapa hari ini kamu kok gak seperti biasanya. Apa kamu sakit?” Ratna memperlihatkan raut wajah kasihan dengan memberikan perhatian pada teman satunya ini.

“Ah tidak, gak apa-apa kok” jawab Tia ringan, seolah tak pernah terjadi apapun. Tia berbohong. Ratna hanya menggeleng kepala, sementara ia tak bisa memberikan keteduhan pada ego Tia.

Hari demi hari berlanjut, sementara kegesitan Tia pudar di mata Ratna. Namun Tia tak pernah berkata jujur sekalipun padanya. Ketika ditanya, Tia enggan berterus terang. Sejak itu pula Ratna merasakan bak orang lain. Tapi dia merasa kasihan pada Tia. Beberapa hari ini sepertinya kemelut semakin giat mengikis kondisi badan Tia menjadi semakin kurus.

Tidak hanya Tia saja sebagai teman yang merasa dicuekin, tapi juga Rudi. Rudi sebagai pacarnya selalu membesuk Tia di rumah, menanyakan keadaannya melalui HP, dan menawarkan Tia bersedia diantarkan ke rumah, namun tak digubris. Tia seperti kehilangan kewarasan, baik Ratna maupun Rudi, tak luput dari makian kasar. Alasan tanpa dasar. Membikin hati berduri.

Seperti biasanya Tia dan Ratna pulang sekolah bersama, namun kali ini tidak. Tia yang sering kali ditanya selalu berkilah. Dia hanya ingin tak ditemani. Ke sanggar tari pun telah belajar absen. Hasil materi latihan jeblok. Pekerjaan rumah tak dikerjakan. Kadang juga telat. Di mata Ratna, Tia sekarang lain dari pada Tia yang pernah dikenalnya.

Sebagai teman, Ratna menginginkan Tia agar kembali ceria seperti sebelumnya.

Sehabis jam pelajaran disengajakannya berlalu duluan dari Tia. Dia memikirkan suatu cara. Dia ingin membuktikan penyebab perubahan sikap Tia.

Di kantin, tak jauh dari gerbang sekolah Ratna bersembunyi. Dia bersama Rudi. Mereka telah sepakat berdua berkumpul di sana. Mereka menunggu kesempatan memergoki Tia. Mereka telah menaruh curiga, tapi hanya tinggal pembuktian saja. Mereka telah mencurigai dalang penyebab perubahan sikap Tia.

Mungkin saja Maulana itu, anak baru itu, desis pikirannya. Pikirannya melayang mengenang kejadian sepanjang kehadiran Maulana di sekolahnya.

Matahari merona dengan garangnya. Walaupun ia telah terjungkir dari puncak, memberati ke bagian barat, namun panas teriknya tak berkurang. Bersamaan itu Tia muncul dari gerbang bersama seseorang di depannya.

“Benar dugaanku bukan. Ternyata Tia memang mengejar-ngejar Maulana.” Ratna berkacak pinggang, sementara dilihatnya paras Rudi tegang, memerah. Rudi hanya diam saja.

“Kamu jangan marah ya sama Tia.” Ratna sepertinya telah membaca gelagat Rudi. “Bagaimana pun dia adalah temanku” tambahnya harap cemas. Dia teringat ketika Rudi dimaki habis oleh Tia di depannya ketika itu.

“Tenang saja aku akan mencoba menahan amarahku. Cuma aku sedang berpikiran bagaimana Tia berbalik ke aku,” tandas Rudi.

Dilihatnya Tia mendekat dengan Maulana. Di antara keduanya terjadi percakapan serius. Sepertinya Tia lebih banyak bicara dan seakan mengiba. Namun reaksi Maulana dingin.

Ratna meraih tangan Rudi, mencegat.

“Ke mana? Biarkan dulu sampai Maulana pergi. Tolong! Aku juga merasakan sakit yang kamu rasakan. Tapi bagaimana pun dia tetap temanku.” Ratna tak ingin terjadi sesuatu, makanya yang ditenangkan terlebih dahulu adalah rasa gundah Rudi. “Kamu tetap ingin balik padanya, bukan! Percayalah padaku. Tunggulah! Kalau tidak….” Sebenarnya Ratna ingin menerangkan tentang sikap Tia pada setiap laki-laki berdasarkan cerita yang pernah didengarnya dari Tia. Tia membenci laki-laki yang pencemburu. Maka tidak salah Tia selalu bergonta ganti pacar. Tapi niatnya terhalang.

Maulana pergi. Dia menghindar. Mengabaikan perasaan suka Tia padanya. Tia terlihat menangis.

“Tunggulah di sini dulu. Nanti kamu menyusul setelah aku pada waktu yang tepat, agar keberadaan kita tidak dicurigainya,” terang Ratna. Kemudian ia berlalu.

“Tia ada apa denganmu. Ah kamu menangis! Apa yang telah terjadi?” Dirangkulnya pundak Tia ke pelukannya. Tia menghapus air mata, tapi belum menjawab. Malah pelukan Tia semakin erat. Ratna merasakan perasaan temannya terguncang. “Ada apa Tia, coba katakan padaku. Berhentilah menangis” Tia masih tetap membisu.

Ratna melepaslan pelukkannya dengan lembut, kemudian berkata, “Percayalah padaku. Janganlah kali ini kamu mencoba berkilah. Lihatlah dirimu, air mata yang membasahi pipimu, apakah kamu masih menganggap aku ini sebagai temanmu!” Tia tak kuasa menahan gejolak haru perasaannya serta rasa bersalah mendalam pada Ratna, kemudian dipeluknya lagi.

“Maafkan aku Rat. Aku terlalu egois padamu,” suaranya parau. “Maafkan aku Rat. Aku telah…”

“Tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Itu biasa. Gak apa-apa! Kapan dan di mana pun aku ini tetap saudaramu. Cobalah katakan, apa yang telah terjadi,” potong Ratna. Dia melepaskan pelukan dan menatap dalam mendung di matanya itu seraya mengangguk pelan.

“Maafkan aku Rat. Selama ini aku telah membohongimu. Aku tak bisa, sungguh aku tak bisa…” Air matanya membuncah. Suaranya bergetar.

Rudi kini telah berada di belakang mereka. Sesuai dengan komando Ratna melalui kedipan mata, dia paham maksud yang disampaikan Ratna dan membiarkan kejadian berlangsung di depan matanya.

“Katakanlah Tia. Kamu tahu kan aku tak bisa menunggu terlalu lama,” desaknya.

“Tadi aku bersama Maulana. Aku sengaja menemuinya untuk mengatakan sesuatu…” Suaranya tertahan mencoba mengenang kejadian bersama Maulana.

“Mengatakan apa? “ Dia mencoba merasakannya dengan penuh pengertian.

“Aku mengatakan bahwa aku suka padanya. Bahkan aku menjelaskan padanya, betapa aku menginginkannya dan ingin menyayanginya. Dan aku juga mengatakan bahwa aku tak bisa melupakannya.”

“Dan apa jawabannya sehingga membuatmu seperti ini.”

“Rat, dia menolakku…hu…hu…”

“Dan kata-katanya, sehingga kamu sampai menangis.”

“Dia mengatakan, carilah laki-laki yang lain, karena…” Dihapusnya air mata yang meleleh. “Karena kedatanganku belajar di sini, pindah dari jakarta adalah untuk mencari ketenangan. Dia tak ingin menyukai wanita. Di Jakarta, karena wanita, teman-temannya menjadi terperangkap narkoba dan perbuatan keji lainnya. Dia tak ingin pacaran. Tidak ingin juga karena tuntunan agama. Karena menurutnya, agama melarang berpacaran. Dan katanya lagi, ternyata wanita di Jakarta, sebagiannya masih sama dengan di sini. Suka mengejar laki-laki dengan perasaan tak malu. Dia sungguh menyesal. Kemudian pergi,” kata Tia menirukan paparan laki-laki itu.

Dia benar, dalam Islam dilarang berhubungan antar yang bukan mahram. Tapi seharusnya dia berhati-hati mengucapkan kata-kata yang menyakiti itu. Namun kata-kata ini dibiarkannya bergema di hatinya. Ditatapnya Tia.

“Lihatlah, siapa yang berada di belakangmu.”

Tia menoleh, dan…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar